Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

TSK2-30

2K 107 3
                                        

Liona kini telah pulih secara fisik, meski bekas luka di bahu kirinya masih terasa nyeri sesekali. Ia menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan Dokter Lilia selama hampir sebulan penuh, dengan pengamanan ketat dari Arion.

Kini, Liona tampak jauh lebih lincah dan gesit. Suasana hatinya pun terlihat membaik akhir-akhir ini. Ia mulai berbaur dengan kehidupan kampus seperti biasa dan telah memiliki banyak teman baru, termasuk beberapa dari angkatannya sendiri. Saat ini, ia sering terlihat bersama lima orang temannya: Lia, Abel, Zeise, serta dua laki-laki bernama Bian dan Deo-yang ini sudah tidak asing lagi kan?

Siang itu mereka sedang mengerjakan tugas kelompok di kafe dekat kampus. Meja mereka penuh dengan laptop, buku catatan, dan gelas-gelas kopi yang sudah tinggal separuh. Di tengah kesibukan itu, hanya Liona yang tampak santai, duduk menyandarkan punggung sambil menikmati americano miliknya. Ia sesekali melirik ke arah teman-temannya yang serius berdiskusi, senyum kecil terselip di sudut bibirnya.

Tak lama kemudian, suasana berubah lebih cair. Lia mulai mengalihkan topik pembicaraan, diikuti tawa kecil dari Abel dan Zeise.

"Uda dulu dong guys kerja tugasnya, capek ahh lama-lama pecah ini otakku," kata Zeise meremas rambutnya.

Abel tertawa dengan Bian. "Gimana kalau kita liburan nanti libur akhir semester?"

Bian yang sejak tadi tampak menunggu momen itu akhirnya buka suara. “Kalian ke villa keluargaku aja. Deket laut, sepi, dan udaranya bagus. Ada dapur juga, kita bisa barbeque-an.”

Sontak semua langsung setuju, saling menimpali dengan semangat. “Fix, aku ikut!” seru Abel. “Aku juga!” tambah Zeise. Lia pun mengangkat tangan. “Sama. Jangan lupa aku.”

Hanya Liona yang tetap diam, menatap keluar jendela sambil memainkan sedotannya.

“Tempatnya enak banget, pemandangannya langsung ke pantai,” kata Bian sambil mengibaskan rambutnya dengan gaya sok santai.

“Beneran ya?” sahut Abel cepat, diikuti Zeise dan Lia yang langsung menyahut dengan semangat.

Semua tampak antusias-kecuali satu orang, yang hanya menatap mereka sambil memutar sedotan di gelasnya. Melihat itu, Lia mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Lio, kamu ikut juga ya?” tanyanya sambil tersenyum menggoda.

Liona mengalihkan pandangan. “Aku nggak janji. Lihat nanti aja.”

“Loh, masa gitu sih?” sahut Abel cepat. “Tenang aja, Deo juga ikut kok.”

Liona spontan menatap Deo yang hanya tersenyum tipis sambil menatap layar laptopnya, pura-pura tak mendengar.

Lia langsung terkekeh. “Tuh kan, kamu gak perlu khawatir. Kamu kan deket sama Deo~” godanya, disusul tawa serentak dari yang lain.

Liona menatap mereka datar, lalu menaruh gelasnya di meja. “Justru karena itu, aku jadi mikir dua kali,” katanya tenang.

Ucapan itu membuat meja mendadak hening sesaat, sebelum akhirnya tawa pecah dari Abel dan Bian. Deo hanya tersenyum samar, menunduk sedikit, sementara Lia menatap Liona dengan ekspresi setengah bingung, setengah kagum.

“Selalu aja kamu yang paling susah ditebak,” gumam Lia.

Liona hanya mengangkat bahu. “Emang harus selalu ditebak?” balasnya ringan.

Liona menarik napas pelan. Dari tadi rambutnya tergerai menutupi sebagian wajah, membuatnya sesekali merasa gerah. Dengan gerakan santai, ia meraih karet rambut dari pergelangan tangannya, lalu mengikat rambutnya ke atas. Gerakannya sederhana, tapi cukup untuk menarik perhatian teman-temannya yang kini menatapnya bersamaan.

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang