Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

TSK2-27

2.3K 159 7
                                        

Wanita itu masih berdiri tegak di depannya, belati terangkat, tatapan tajamnya menusuk. Beberapa orang lain sudah setengah bangkit dari kursi, jelas siap kalau suasana meledak.

Liona menghela napas panjang, lalu berjalan perlahan maju lagi, mendekat tanpa ragu, membuat jarak mereka hanya sejengkal. Darah masih mengalir di pipinya, tapi ia sama sekali tak peduli.

“Bu… belatinya boleh pinjam nggak sebentar?” tanyanya polos.

Wanita itu refleks menyipitkan mata, tapi belum sempat bereaksi, tangan Liona sudah lebih dulu bergerak cepat. Ia meraih pergelangan tangan si wanita dengan cengkeraman kuat, lalu-dengan senyum manis-menarik belati itu ke arah dirinya sendiri.

Srekk!

Ujung tajamnya ia tekan pelan ke kulit tangannya, membuat garis tipis merah kembali muncul. Liona menahan sakitnya tanpa sedikit pun meringis, justru matanya berkilat jenaka.

“Lihat? Saya nggak keberatan dengan darah. Lagipula… kalau ini semacam ujian mental, saya rasa saya lulus, ya?” katanya sembari melepaskan belati itu, membiarkannya jatuh berdering di lantai.

Ruangan makin hening. Aura tegang yang tadinya menekan kini terasa berbalik. Beberapa anggota The Rose tampak saling pandang, bingung antara kagum atau curiga.

Liona lalu mengusap pipinya yang masih berlumuran darah, lalu tersenyum lebih lebar, bahkan terkekeh kecil. “Jadi gimana? Saya diterima… atau mau saya bikin ruangan ini jadi lebih berwarna dulu?” ucapnya, nadanya ringan, tapi matanya jelas-jelas mengancam.

Wanita itu menahan tangannya yang sedikit bergetar, tatapannya masih menusuk tapi ada sesuatu yang berubah - bukan hanya curiga, tapi juga rasa terancam.

Pria paruh baya yang sejak tadi duduk akhirnya mengetukkan jarinya di meja, memberi kode. Dua orang pria di sisi kanan ruangan berdiri, masing-masing membawa pisau panjang yang berkilat di bawah cahaya redup.

“Kalau kau benar Liona Hazel Elnara…” suara pria itu berat, dingin, “maka kau tahu bahwa The Rose tidak menerima orang sembarangan. Kau harus melewati ujian.”

Liona mengangkat alisnya, menyeringai. “Ujian? Hahaha… oke, saya suka.”

Dua pria itu maju perlahan, mengitari Liona, seolah sedang memangsa mangsanya. Aura tajam kembali menekan, kali ini lebih padat, seakan udara di ruangan itu menolak untuk dihirup.

Namun Liona malah memainkan rambutnya, seakan bosan.
“Ck… kalian ini dari tadi cuma kasih tatapan-tatapan serem. Ayo dong, saya udah nggak sabar. Apa kalian mau tebas saya bareng-bareng? Atau satu-satu?”

Salah satu pria tiba-tiba melesat, pisaunya menyambar cepat ke arah perut Liona.

Clang!

Dengan gerakan gesit, Liona justru menahan serangan itu dengan memukul tangan lawannya ke samping. Pisau nyaris terlepas. Dalam sekejap, Liona meraih gagangnya dan membalik arah, menodongkannya ke leher pria itu dengan senyum polos.

“Eh, maaf, kepinjem ya,” katanya ringan.

Pria kedua yang ada di belakangnya langsung maju, pisaunya hendak menebas. Tapi Liona tanpa menoleh langsung menendang kursi ke arah pria itu, membuatnya kehilangan keseimbangan.

Dalam beberapa detik, suasana jadi kacau. Semua mata memandang Liona-gadis dengan pipi masih berlumuran darah, kini berdiri santai sambil menodongkan pisau ke salah satu anggota mereka. Senyumnya tetap terukir, kali ini tipis dan dingin.

“Kalau ini ujian keberanian, saya rasa nilainya A. Kalau ujian keterampilan…” Liona mengangkat bahu, “…kayaknya saya bisa ngajarin kalian balik.”

Pisau di tangan Liona masih menempel di leher pria yang ia tahan. Semua mata terpaku padanya.

Tiba-tiba, Dug! sebuah benda berat diletakkan di atas meja oleh pria paruh baya yang tadi bicara. Cahaya redup membuatnya berkilau. Itu sebuah pistol.

Ruangan semakin sunyi.

“Kalau kau benar ingin masuk,” ucap pria itu datar, suaranya dingin menusuk, “buktikan. Bunuh satu orang di ruangan ini. Siapa saja yang kau pilih.”

Beberapa anggota The Rose menoleh ke satu sama lain, separuh tidak percaya, separuh menunggu penuh antusias. Wanita yang tadi melukai pipi Liona tersenyum miring, jelas ingin melihat apa gadis itu akan gentar.

Liona terdiam sejenak. Ia menatap pistol di meja, lalu menoleh ke sekitar. Semua wajah menatapnya, sebagian dingin, sebagian penasaran.

Kemudian ia terkekeh kecil, menutupi mulutnya dengan tangan yang masih berlumuran darah.
“Hah… kalian ini lucu ya. Masa tes masuknya disuruh ngebunuh temen sendiri? Bukan takut, tapi… norak banget metodenya.”

“Lakukan atau keluar dari sini dalam keadaan mayat,” potong pria itu tajam.

Hening lagi.

Liona terdiam sesaat. Sorot matanya meredup, senyumnya menghilang, berganti tatapan kosong yang membeku. Semua orang menunggu, menahan napas dalam ketegangan.

Tanpa aba-aba, BRUK! tubuh Liona melesat secepat kilat ke arah wanita yang tadi menggores pipinya. Pisau di tangannya menebas udara, nyaris mengenai leher lawan.

Wanita itu ternyata sama cepatnya. Refleks, belati di tangannya beradu dengan pisau Liona.

Clang! dentingan tajam memecah ruangan.

Liona mendorong keras, tatapannya dipenuhi amarah. Wanita itu membalas dengan tegas, tubuhnya berputar, lalu DEG! mendorong Liona sekuat tenaga.

Tubuh Liona terhempas ke lantai, punggungnya menghantam keras. Sebelum sempat bangkit, wanita itu sudah berada di atasnya, menindih dengan kedua lutut, belati menempel di leher Liona.

Semua anggota The Rose membeku, menahan napas. Pertarungan itu terlalu cepat, terlalu indah, seperti tarian maut yang terlatih.

Tiba-tiba, suara Liona pecah.
Aaakhhh!” teriaknya melengking, tubuhnya meliuk kesakitan ketika belati wanita itu berhasil menembus bahunya. Darah segar mengalir, menodai bajunya.

Namun rasa sakit itu justru memantik sesuatu di dalam dirinya. Mata Liona berkilat dingin. Dengan gerakan cepat, ia menghantam dagu wanita itu dengan kepala, membuatnya terhuyung. Dalam kesempatan itu, Liona mendorong tubuhnya, berdiri terhuyung namun tetap sigap.

Semua mata terpaku pada gadis yang berdiri dengan bahu berlumuran darah, wajahnya pucat tapi senyumnya kembali terukir.

“Lumayan,” desisnya. “Sakitnya bikin segar.”

Saat fokus semua orang masih tertuju pada darah yang menetes dari bahunya, tangan Liona diam-diam menyelip ke sakunya. Ia meraih sesuatu-pisau tipis miliknya sendiri.

Tanpa memberi aba-aba, ia melemparkannya dengan kecepatan luar biasa.

Srettt!

Duk!

Pisau itu melesat tajam, menancap kuat di kursi kayu-tepat di samping kepala pria paruh baya yang sejak tadi memberi perintah. Ujung pisaunya hanya berjarak sejengkal dari telinganya.

Ruangan terdiam.

Liona, dengan napas terengah, menatap lurus pria tua itu, senyum bengis menghiasi bibirnya.
“Tadi anda bilang bunuh satu orang di ruangan ini… kalau anda sendiri, bagaimana?”

Suasana ruangan membeku. Semua anggota The Rose terpaku, antara kagum, ngeri, dan tak percaya dengan keberanian gadis itu.

"Kamu diterima!"

Pria itu menunduk sedikit, bibirnya melengkung. “Mulai hari ini... kau diterima.”

Double update hehe, mo minta maap soalnya dlu janji pas voment nya udah lewat target bakal up eh lupaa🙏😭

kalau votenya udah 50 dan komen juga udah 50 aku bakal langsung UP, JANJI!!

Follow ig @wiwirmdni21

YAAAA PLISS😤

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang