TSK2-38

332 30 18
                                        

Pagi Hari – Hari Terakhir

Pagi datang lebih cepat dari biasanya.

Langit masih berwarna biru pucat ketika Arion sudah pergi–kembali sebelum matahari benar-benar muncul. Seolah keberadaannya semalam hanyalah rahasia yang hanya Liona yang tahu.

Liona sendiri sudah kembali ke villa lebih dulu, sebelum yang lain bangun.

Kini suasana villa mulai sibuk. Hari terakhir memang selalu begitu–setengah santai, setengah terburu-buru.

Di dapur, Liona bersama Lia, Abel, dan Zeise menyiapkan sarapan sederhana. Aroma roti panggang dan telur mulai memenuhi ruangan.

“Eh, jangan gosong, Abel!” seru Lia.

“Ini bukan gosong tau, ini well done,” balas Abel santai.

Zeise tertawa kecil sambil menuang minuman. Liona berdiri di dekat meja, memotong buah dengan gerakan rapi, meski pikirannya masih sesekali melayang ke semalam.

Di luar, Bian dan Deo sibuk memasukkan barang ke mobil milik Deo yang akan mereka pakai untuk pulang. Suara pintu mobil dibuka-tutup terdengar bersahutan.

Di dalam dapur, suasana masih ringan… sampai Zeise tiba-tiba menoleh.

“Li.”

“Hm?” Liona tidak langsung menatap, masih fokus pada pisau di tangannya.

“Kamu ke mana semalam?”

Gerakan tangan Liona terhenti sepersekian detik.

Ia cepat menguasai diri, lalu kembali memotong seolah tidak terjadi apa-apa.

“Nggak ke mana-mana. Kenapa emangnya?”

Zeise mengernyit. “Pas aku bangun mau ambil minum… aku lihat kamu keluar. Ke arah hutan malah.” Tatapannya lebih serius. “Nggak takut?”

Liona terdiam.

Dia lihat?

Pikirannya langsung kembali ke malam tadi—gelap, suara ranting, dan Arion.

Tapi wajahnya tetap datar.

“Cuma cari udara. Gerah banget semalam.”

Belum sempat Zeise membalas, langkah kaki terdengar dari luar.

Bian dan Deo masuk, sedikit berkeringat setelah bolak-balik mengangkat barang.

“Udah aman semua di mobil,” kata Bian sambil mengambil minum.

Deo hanya mengangguk, tapi matanya sempat melirik ke arah Liona—singkat, namun cukup untuk menunjukkan ia memperhatikan.

“Ngomongin apa?” tanya Bian santai.

Zeise langsung menjawab, “Ini, Liona semalam keluar ke hutan sendirian.”

Bian langsung berhenti minum. “Serius? Nggak takut emang, Na?”

Sekarang semua mata tertuju pada Liona.

Ia menghela napas kecil, lalu menyandarkan pinggul ke meja, berusaha terlihat santai.

“Apaan sih, lebay banget. Nggak jauh juga kok. Cuma depan-depan.”

“Depan-depan apaan, itu udah masuk area pohon,” sahut Zeise.

“Iya, tapi masih kelihatan dari villa.”

Abel ikut menyela, “Terus kalau ada apa-apa?”

Liona mengangkat bahu. “Ya nggak ada apa-apa, kan? Buktinya aku masih hidup.”

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang