Malam kedua Liona tinggal di rumah keluarganya. Hujan baru saja reda, dan udara terasa segar. Di dalam rumah, semua orang berkumpul santai di ruang keluarga, menonton acara televisi.
Namun Liona memilih keluar. Ada sesuatu di dadanya yang terasa sesak, resah tanpa sebab.
Langkah kakinya berhenti di teras. Ia menatap langit yang masih basah oleh sisa gerimis.
Dari belakang, telinganya menangkap suara langkah perlahan mendekat. Ia tidak berbalik, membiarkan suara itu semakin dekat… hingga akhirnya berhenti tepat di belakangnya.
“Liona.”
Suara itu jelas-Adera.
Liona perlahan menoleh, menatap istri kakak sulungnya itu dengan pandangan tajam.
“Hm?”
“Kemarin… dari mana kamu tahu nama itu?” tanya Adera pelan, tapi nadanya tegang.
Liona mengerutkan kening. Bibirnya menyungging senyum tipis.
“Dari kamu, kan?” jawabnya sambil menahan tawa kecil.
Adera mengepalkan tangannya, emosi mulai tampak di wajahnya. Liona menyadarinya dan menyilangkan tangan di dada, kini suaranya berubah dingin.
“Alasanmu apa sih? Rafan kurang apa?”
Tidak ada jawaban. Hanya napas Adera yang makin berat.
“Tinggalkan Rafan kalau kamu memang mau bebas,” lanjut Liona tajam. “Bukan sekali kamu bermain di belakangnya. Aku tahu kamu punya banyak simpanan. Kamu itu… wanita ular.”
Adera terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bersuara pelan, hampir seperti pembelaan.
“Aku gak bahagia sama Rafan—”
“Ya udah pisah aja, toh?” potong Liona cepat. “Kenapa masih bertahan?”
“Tapi—”
“Tapi aku belum siap tanpa uang Rafan, huhu!” tiru Liona dengan nada sarkas. “Wanita realistis, dasar matre. Kenapa gak sekalian aja cari om-om hidung belang yang lebih kaya, hm, Nona?”
Tawa Liona terdengar sinis. Adera mengepalkan tangan makin kuat, matanya bergetar menahan emosi.
“Aku sayang Rafan!” bentaknya akhirnya.
Liona menatapnya dingin, bibirnya melengkung sinis.
“Persetan,” desisnya, memandang Adera dengan tatapan penuh jijik.
Liona mendekat. Suaranya merendah.
“Pisah sama Rafan sekarang, atau aku yang bakal permaluin kamu,” ucap Liona tenang, matanya menatap lurus ke arah Adera tanpa berkedip.
Kata-kata itu menggantung di udara, berat. Adera seketika terhuyung, seperti ditampar halus. Tubuhnya mengecil; bibirnya bergetar. Ia menutup wajah dengan telapak tangan, napasnya berputar cepat, seolah mencari udara yang tak lagi stabil.
“Liona… kamu nggak serius, kan?” suaranya pecah. “Jangan lakukan itu… Rafan—”
“Aku serius. Kalau aku mulai buka, aku nggak akan berhenti sampai Rafan tahu semua,” potong Liona dingin. “Kamu pikir aku cuma ngomong doang? Aku punya… bukti.”
Di bawah hujan sisa gerimis, lampu teras memantulkan tetesan air di rambut mereka. Liona mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, menyalakan layar. Di sana foto-foto yang tak pantas miliknya terlihat.
Adera menjerit kecil, tangan yang menutup wajah itu malah merosot. Matanya kini berair. Ia tak bisa menatap layar. “Tolong… jangan,” ia memohon, suaranya mengecil jadi hampir bisikan. “Aku sayang Rafan. Aku… aku gak mau nyakitin dia.”
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Mystery / Thriller❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
