TSK2-29

3.4K 178 105
                                        

Di sisi lain, Arion hanya bisa memandang Liona dalam-dalam dari balik layar. Tangannya yang menempel di ponsel terasa begitu kaku, urat-uratnya menegang, seolah ingin menyalurkan kekuatan yang tak pernah cukup untuk menjangkau istrinya.

Dalam hatinya, jeritan yang tak terucap bergema. Kapan ini semua akan berakhir, Tuhan? Tatapannya bergetar, penuh perih. Aku sudah tidak kuat melihat wanitaku terus disakiti seperti ini. Mengapa harus dia? Mengapa bukan aku saja yang menanggung semua rasa sakit itu?

Napasnya berat, matanya memerah semakin dalam. Ia menggenggam ponsel erat-erat, menahan diri agar tidak membanting apa pun di dekatnya. Semua amarah dan ketidakberdayaan bercampur jadi satu.

Arion menggeser ponsel di tangannya, menyambungkan panggilan ke salah satu asistennya dengan perangkat lain yang ada di meja. Layar pertama tetap ia pegang erat, menampilkan wajah Liona yang kini sibuk menghapus air matanya dengan kasar, seakan tak ingin terlihat rapuh di depan suaminya.

“Jangan buang waktuku. Kau ada di dekat rumah?” suara Arion terdengar dingin, penuh tekanan, saat asisten itu mengangkat.

“Ya, Tuan. Saya dan tim masih berjaga di sekitar.”

“Masuk sekarang juga. Istriku terluka. Bawa semua yang diperlukan untuk merawatnya. Aku ingin dia aman… malam ini juga.”

“Asalkan diperintah, Tuan. Kami segera masuk.”

Arion menutup panggilan kedua itu, lalu menoleh lagi ke layar ponsel pertama. Pandangannya semakin dalam saat melihat Liona yang dengan kasar menyeka pipinya, seolah ingin menghapus jejak kelemahan yang baru saja ia perlihatkan.

“Liona…” suaranya melembut, bergetar menahan perasaan. “Berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Kau tidak perlu menyembunyikan tangisanmu dariku.”

Liona tidak menjawab. Ia hanya diam, menarik tisu dari nakas lalu mulai mengusap wajahnya. Gerakannya kasar, terburu-buru, seolah ingin segera menghapus semua bekas darah yang menodai kulitnya. Namun justru membuat pipinya semakin perih, meninggalkan gurat merah di atas luka.

Arion tetap menatapnya dari layar, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Nafasnya berat, dadanya sesak melihat wanita itu memaksa dirinya seolah baik-baik saja.

Tiap kali Liona menyeret tisu ke wajahnya, mata Arion semakin dalam menatap, seolah ingin menghentikan tangannya, seolah ingin berkata: cukup, jangan lukai dirimu lagi. Tapi bibirnya kelu, tertahan oleh rasa bersalah dan amarah yang bercampur jadi satu.

Hening hanya diisi suara tarikan napas Liona yang tidak teratur dan detak jantung Arion yang kencang di telinganya sendiri.

***

Ketukan pintu terdengar pelan, lalu suara lembut memanggil dari luar.
“Nyona Liona, ini saya, Dokter Lilia. Kami sudah datang.”

Liona menoleh ke arah pintu. Sesaat kemudian, pintu terbuka dan masuklah Dokter Lilia bersama tiga wanita berpakaian serba hitam-anak buah Arion yang dia kenal.

Tanpa banyak bicara, mereka segera bergerak. Dua orang meraih lengan Liona dengan hati-hati, membantu menopang tubuhnya yang limbung, sementara satu lagi menyingkirkan benda-benda di sekitar agar ruangan lebih leluasa.

“Pelan-pelan, jangan terlalu banyak bergerak,” ucap Dokter Lilia lembut sambil membuka kotak medisnya.

Arion di layar terus memperhatikan, tatapannya tak lepas sedikit pun dari istrinya. Jemarinya mencengkeram erat ponsel, hampir seolah ia sendiri ada di sana.

Salah satu wanita mulai melepas pelan kain yang menempel di bahu Liona, membuat ia meringis menahan sakit. Darah yang sudah mengering tertarik dari kulitnya, menyingkap betapa dalam tusukan itu.

“Tarik napas dalam, Nyonya,” ujar Dokter Lilia, mulai mensterilkan luka.

Liona hanya diam, sesekali matanya melirik layar ponsel di meja. Arion masih di sana, menyaksikan segalanya, sorot elangnya membara, penuh emosi yang ditahan-marah, sakit hati, sekaligus kecewa pada dirinya sendiri.

Melihat sorot itu, Liona justru tersenyum tipis, lalu terkekeh kecil. “Kamu kenapa, sayang? Tatapanmu kayak mau makan orang,” ujarnya, suaranya serak tapi terdengar mengejek.

Arion tidak menjawab, hanya menatap semakin dalam.

Liona kembali tertawa kecil, meski terdengar getir. Ia menoleh pada Dokter Lilia dan para wanita yang tengah sibuk merawatnya. “Hei, jangan terlalu banyak memperlihatkan tubuh polosku, ya. Nanti suamiku itu nggak tahan di sana.” Nada suaranya ringan, seolah bergurau, meski situasi sama sekali tidak mendukung.

Para wanita hanya saling pandang, canggung, sementara Dokter Lilia menghela napas tipis, pura-pura tidak menanggapi guyonan itu.

Arion di layar menggertakkan giginya, rahangnya mengeras, jelas sekali guyonan Liona hanya membuat bara dalam dirinya semakin menyala.

Liona menahan tawa kecilnya, matanya kini menatap lurus ke layar ponsel yang menampilkan wajah Arion. Senyum nakalnya makin lebar, meski tubuhnya jelas bergetar menahan sakit.

“Aduh… kalau kamu terus lihat aku dengan tatapan kayak gitu, aku bisa salah paham, tahu,” ucapnya, suaranya setengah berbisik, setengah genit.

Dokter Lilia sempat berhenti sepersekian detik, lalu menghela napas panjang sebelum melanjutkan jahitannya. Dua wanita yang membantu hanya menunduk, pura-pura sibuk agar tidak perlu ikut mendengar godaan itu.

Arion diam, hanya matanya yang semakin tajam, seolah menahan diri agar tidak meledak.

Liona kembali membuka mulut, kali ini dengan tawa kecil yang manja. “Sayang… apa jangan-jangan kamu marah bukan karena aku terluka, tapi karena ada orang lain yang lebih dulu menyentuh tubuhku malam ini? Hm?” ujarnya dengan nada penuh tantangan.

Tangannya yang bebas dengan sengaja menyibak sedikit rambut panjangnya yang menempel di wajah, memperlihatkan leher pucatnya yang juga lecet.

“Jangan cemberut gitu dong,” tambahnya lagi, matanya menyipit penuh kelakar. “Kan kamu tau… aku ini cuma punya kamu.”

Di layar, ekspresi Arion semakin mengeras. Rahangnya mengatup, dadanya naik turun cepat. "Hazel!" tegurnya.

“Berhenti bercanda di keadaan kayak gini,” ucapnya dingin. “Kondisimu jauh lebih buruk dari yang kamu kira.”

Tatapan matanya menusuk, bukan hanya marah, tapi juga penuh penekanan. “Kamu pikir ini permainan? Setiap detik kau buang buat pura-pura kuat, justru bikin keadaan makin parah.”

Liona yang tadinya masih menahan rasa sakit dengan tawa tipis, langsung meringis ketika gerakan kecil di tubuhnya membuat luka terbuka lagi. Napasnya terputus-putus, wajahnya menegang menahan perih.

Arion mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Lihat? Itu akibatnya. Jangan bikin aku tambah gila, Liona.”

Liona tertawa kemudian mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. "Baiklah sayangku..."

Arion terdiam sejenak, seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Kedipan nakal Liona membuat dadanya terasa semakin sesak.

Dengan gerakan tiba-tiba, tangannya naik mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. "Sialan..." desisnya lirih, wajahnya berubah frustasi.





Spam komen and vote yoo
Follow ig @wiwirmdni21 buat info transmigrasi sang ketua lainya!!

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang