Vote dulu doonggg guys💋
Seminggu berlalu sejak pertemuan Liona dengan Ilona. Pagi ini, dia duduk bersantai di ruang keluarga, menikmati suasana tenang sambil mengunyah camilan favoritnya. Namun, ketenangan itu terusik oleh kedatangan dua kakaknya, Alden dan Arka, yang muncul lebih awal dari biasanya, membawa kantong belanjaan penuh camilan kesukaannya.
Liona menaikkan alis. "Kalian ke sini pagi banget, kenapa?" tanyanya dengan nada malas, namun tetap menikmati kehadiran mereka.
Arka, yang tengah membuka bungkus wafer, menoleh santai. "Sengaja, soalnya abis ini mau berangkat bareng ke kampus. Lo punya jadwal pagi, kan?"
Liona mengunyah perlahan, menatap kedua kakaknya dengan pandangan menyelidik. "Punya, tapi serius cuma gara-gara itu doang? Gak ada alasan lain?"
Alden dan Arka saling melirik, seakan ragu untuk menjawab. Alden akhirnya mendesah berat, mengusap wajahnya dengan tangan. "Sebenarnya… kita diusir sama Bunda," gumamnya.
Liona langsung menahan tawa, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Gara-gara apa?"
Arka dan Alden tampak enggan menjelaskan lebih lanjut, tapi keheningan mereka justru membuat Liona semakin bersemangat. Dia meletakkan camilannya, mendekat dengan wajah penuh antusiasme.
"Plis jawab sekarang. Gue harus tahu kenapa dua cowok segede kalian bisa diusir sama Bunda sendiri!" godanya, menatap mereka penuh rasa puas.
Arka menghela napas panjang, lalu menatap Liona dengan ekspresi putus asa. "Bunda ngamuk gara-gara Alden lupa matiin kompor semalem. Dia hampir ngebakar dapur," ucapnya, membuat Alden mengerang kesal.
"Oi! Itu bukan salah gue doang! Lo juga bikin masalah!" Alden menyanggah, menatap Arka dengan penuh tuduhan.
Liona menutup mulutnya, menahan gelak tawa. "Lo ngapain, Ka?"
Arka mendecak, bersedekap dengan wajah sedikit merengut. "Gue—uh… nggak sengaja nendang meja kaca pas bangun tidur, dan pecah."
Liona langsung terbahak, terhuyung ke belakang di sofa. "Astaga! Lo berdua bikin rumah berasa medan perang! Pantesan diusir!"
Alden mengacak rambutnya frustasi. "Bunda bilang kalau kita belum bisa bertanggung jawab di rumah, kita juga nggak pantas tinggal di sana. Jadi, ya… kita terdampar di sini."
Liona masih terkekeh, matanya berkaca-kaca karena terlalu banyak tertawa. "Sumpah, kalian tuh udah gede tapi kelakuannya masih kayak bocah!"
Arka mendengus, sementara Alden hanya memijat pelipisnya. "Makanya, kita butuh tempat berlindung sementara. Lo gak keberatan, kan?"
Liona mengangkat bahu, mengambil satu bungkus camilan dan melemparkannya ke arah mereka. "Terserah. Tapi gue bakal ngejek kalian sampai seminggu ke depan."
Arka dan Alden hanya bisa pasrah. Setidaknya, mereka masih punya tempat untuk kabur sementara—meski harus menerima ejekan tanpa henti dari adik mereka.
Saat tawa Liona masih menggema di ruangan, suara langkah kaki yang malas terdengar mendekat. Dari arah tangga, Arion muncul dengan kaus putih longgar dan celana pendek hitam, rambutnya masih berantakan akibat baru bangun tidur. Wajahnya terlihat berat, seperti belum sepenuhnya sadar dari dunia mimpi.
Liona menoleh begitu merasakan kehadirannya, senyum kecil terukir di bibirnya. Dengan alami, tangannya terangkat, jari-jarinya menyusuri rambut Arion yang berantakan, merapikannya dengan sentuhan ringan. Arion hanya diam, matanya menatap istrinya dengan sayu, menikmati momen kecil itu.
Tanpa berpikir panjang, Liona mengecup ujung bibirnya sekilas, sebuah sentuhan singkat yang nyaris tak terasa. Namun, alih-alih puas, Arion justru mengerutkan kening.
"Kenapa bukan di bibir aja?" protesnya, suaranya serak karena baru bangun tidur. "Gantung banget."
Liona mendesah geli, lalu menganggukkan dagunya ke arah dua sosok di hadapannya. Arion mengikuti arah pandangnya dan menemukan Alden serta Arka yang sama sekali tidak menatap mereka, wajah keduanya dipenuhi kecanggungan. Alden berpura-pura fokus pada camilannya, sementara Arka mengalihkan pandangan ke luar jendela, seolah-olah ada sesuatu yang sangat menarik di sana.
Arion tersenyum tipis melihat reaksi mereka, lalu tanpa ragu, ia menjatuhkan dirinya ke sofa, duduk di samping Liona. Tangannya terangkat meraih pinggang istrinya, menariknya sedikit lebih dekat ke sisinya.
Arka yang sejak tadi mencoba tidak peduli akhirnya mendengus. "Kalau mau mesra-mesraan, jangan di depan yang jomblo, dong," keluhnya, akhirnya menatap mereka dengan ekspresi terganggu.
Liona menyeringai. "Lah, kalian aja nebeng di rumah gue. Ya harus siap sama rintangannya juga," balasnya santai.
Alden mendecak, sementara Arka mengangkat tangan menyerah. "Gila, lo sekarang makin berani ya. Dulu mah kalau kita godain dikit aja langsung manyun," ujar Arka dengan nada meledek.
Liona hanya terkekeh, sementara Arion menariknya lebih dekat lagi, kepalanya bersandar sebentar di pundak Liona sebelum akhirnya mendongak, menatap istrinya dengan sorot mata menggoda.
"Jadi… sekarang boleh, nggak?" tanyanya dengan nada rendah, bibirnya melengkung nakal.
Liona menatapnya, lalu dengan gerakan santai, dia menjauhkan wajahnya sedikit. "Nggak, lah."
Arion menghela napas panjang, lalu menatap Alden dan Arka dengan pasrah. "Lihat sendiri, kan? Gue juga kena rintangannya."
Alden akhirnya tertawa, sedangkan Arka menggelengkan kepala.
Percakapan di antara mereka terus mengalir ringan, hingga tiba-tiba Arka melontarkan pertanyaan yang membuat Liona membeku di tempatnya.
"Serius belum jadi baby?" tanyanya tiba-tiba, suaranya terdengar santai, tapi ada nada usil yang tak bisa disembunyikan.
Liona yang sedang menikmati camilannya langsung tersedak ringan. Dia menoleh dengan ekspresi waspada. "Maksudnya?" tanyanya, berusaha tetap tenang, meski dadanya sudah mulai berdebar.
Arka menatapnya seolah pertanyaannya itu hal yang sangat jelas. "Ya masa nggak paham sih? Kita juga butuh ponakan lucu, kali!" katanya dengan seringai jahil.
Wajah Liona langsung memanas. Dengan cepat, dia mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan. "Minta sama Bang Rafan lah!" sergahnya cepat, menyebut nama saudara sepupu mereka yang sudah menikah lebih lama.
"Nggak ah, gue cuma mau ponakan dari kalian," sahut Arka tanpa ragu. "Cepet buat! Lo juga, Arion!"
Liona makin ingin menghilang ke dalam sofa. Sementara itu, Arion, yang sejak tadi hanya diam dan menikmati suasana, malah terkekeh geli. Dia melirik istrinya yang sudah salah tingkah, lalu kembali menatap Arka dengan santai.
"Gue kenapa?" tanyanya dengan nada malas, seolah pertanyaan Arka bukan sesuatu yang penting.
Arka mendecak, lalu bersedekap. "Kecebong lo kok belum gol sih?" tanyanya tanpa malu-malu.
Arion tertawa kecil, menikmati momen ini lebih dari seharusnya. "Belum," jawabnya ringan, sama sekali tak terpengaruh oleh keusilan Arka. Dia mengangkat bahu santai. "Tunggu aja."
Liona baru akan menegur mereka berdua karena membahas hal yang membuatnya malu, tapi tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang membuat tubuhnya menegang.
Arion, dengan wajah tanpa dosa, tiba-tiba mencondongkan tubuhnya mendekat, lalu meniup pelan di telinga Liona.
Sensasi hangat yang menyelinap dari kulitnya langsung membuat Liona tersentak. Tangannya reflek memukul lengan Arion dengan wajah yang semakin memerah. "Arion!" tegurnya tajam.
Cowok itu hanya terkekeh puas, sementara Arka dan Alden langsung melempar bantal ke arah mereka. "WOI! Jangan mesum di depan orang jomblo!" seru Alden dengan wajah frustasi.
Arion hanya menghindar santai, lalu menarik Liona lebih dekat ke sisinya, tanpa peduli protes dari kakak-kakaknya. "Salah sendiri nebeng di rumah orang," balasnya santai.
Liona menghela napas panjang. Ini pagi yang panjang.
SPAM KOMEN BUAT LIAT KEBUCINAN MEREKA YAKKK nunggu 200 komen baru up😋
FOLLOW IG AUTHOR @wiwirmdni21
Follow tiktok @Wiwi Ramadani
Jangan lupa vote! harus 100 vote baru up hehe
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Mistério / Suspense❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
