TSK2-24

3.6K 212 117
                                        

Arion bersandar di kepala ranjang, mengusap perlahan rambut Liona yang sudah terlelap dalam tidurnya. Ia menghela napas panjang, lalu menarik selimut yang sedikit melorot akibat gerakan gelisah istrinya.

Sudah sejak kemarin Arion menemukan titik terang mengenai siapa ayah dari kandungan Ilona. Meski belum sepenuhnya jelas, arah penyelidikan membawanya pada satu nama, seseorang yang dulu pernah dekat dengan Liona semasa SMA. Dan yang membuatnya lebih khawatir, orang itu ternyata memiliki koneksi kuat dengan organisasi Orpheus.

Itulah salah satu alasan Arion ingin menyelidiki Orpheus lebih dalam. Tapi alasan terbesarnya, organisasi itu mulai berani menjadikan wilayah kekuasaannya sebagai lahan keuntungan, seolah mengabaikan batas dan aturan.

Pandangan Arion kembali pada Liona yang menggeliat pelan. Di tengah tidurnya, gadis itu tersenyum, tampaknya sedang bermimpi.

“Ngghh… heyy kalian… The Rose itu tempatku… kalian nggak bolehh semena-mena di rumahku…” gumam Liona dalam tidur, suaranya pelan dan terputus-putus.

Arion tersenyum kecil. The Rose, ya. Ambisi Liona terhadap organisasi itu memang besar. Sejak lama ia sudah menyelidiki organisasi itu karena gerak-gerik mereka mencurigakan di lingkungan kampus. Awalnya Arion hanya penasaran. Mereka belum menunjukkan sisi berbahaya. Tapi sekarang, sepertinya mereka mulai bergerak... dan Liona jelas sedang memburu mereka.

Ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya. Wajah Liona kini berubah, tidak lagi tersenyum, tapi mengerut, seperti sedang marah.

“Kalian semua cuma manusia lemah… nggak berhak ada di rumahku! Pergi! Hanya aku yang berhak… dasar lemah!” ucapnya dengan suara bergetar, tubuhnya menggeliat gelisah, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Arion langsung mendekat. “Sayang… tenang…” bisiknya lembut.

Ia ikut berbaring di samping Liona, memeluk tubuh istrinya dengan penuh kehati-hatian. Tangannya memperbaiki posisi selimut yang kembali melorot.

“Tenang, sayang… aku di sini,” ujarnya pelan, seolah membisikkan ketenangan ke dalam mimpi buruk istrinya.

Arion hampir terlelap saat tiba-tiba tubuh Liona menggeliat kencang. Dalam sekejap, gadis itu bangun dan tanpa peringatan, naik ke atas tubuhnya. Gerakannya halus tapi penuh intensitas, seperti mengikuti naluri yang tak disadari. Rambut panjangnya terurai, sebagian jatuh menutupi wajah Arion.

Tangan lentik Liona meluncur pelan ke lehernya, jari-jarinya menyusuri kulit Arion seperti embusan udara dingin yang menggetarkan. Tatapannya masih terpejam, tapi gerakannya begitu hidup, begitu... familiar.

Arion menahan napas. Jantungnya langsung berdegup kencang.

"Hazel?" gumamnya pelan.

Tapi gadis itu tidak menyahut. Sebaliknya, ia bergumam dengan suara pelan dan parau, suaranya penuh kecurigaan.

“Siapa kamu…? Kenapa kamu di sini…?”

Arion nyaris tertawa. Dia tahu ini pasti efek mimpi yang belum sepenuhnya lepas. Tangan Liona masih menelusuri garis rahangnya, seolah mencari jawaban lewat sentuhan, bukan pandangan.

Arion mengangkat kedua tangannya, menyilangkan jari-jari di belakang kepala dan bersandar santai di bantal. Senyum miringnya muncul, satu sisi bibirnya terangkat.

“Wow… kamu bahkan belum sadar sepenuhnya, dan kamu sudah naik ke atas aku begini?” bisiknya pelan. “Dan hey… Hazel… kamu masih naked, tau.”

Liona menggeliat pelan, seperti baru mulai sadar bahwa dirinya tidak mengenakan apa-apa selain selimut tipis yang kini terlempar entah ke mana. Tubuhnya menegang, tapi matanya belum terbuka.

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang