Malam itu, sekitar pukul satu, Liona duduk di depan ruangan Ilona. Matanya terpaku pada cermin satu arah yang memisahkan mereka. Dari balik kaca, ia menyaksikan saudari tirinya itu tengah duduk di lantai, memegang boneka beruang putih. Dengan wajah kosong, Ilona menghancurkan lipstik merah di sekujur tubuh boneka itu, meninggalkan noda seperti darah yang merembes, seolah boneka itu sedang ditindas dan dilumuri luka.
Di samping Liona, dokter yang merawat Ilona berdiri dengan wajah tegang.
“Kehamilannya sudah masuk dua bulan, Nona,” ucapnya pelan. “Tapi Ilona belum juga menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.”
Liona menguap kecil, suaranya terdengar malas.
“Belum ada tanda… siapa ayah dari bayi yang dikandungnya?”
Dokter menarik napas, ragu sejenak sebelum menjawab.
“Sudah ada sedikit petunjuk, Nona. Tuan Arion… sepertinya sedang melakukan penyelidikan.”
Liona hanya mengangguk singkat tanpa menoleh pada dokter. Sebelum beranjak, ia sempat berkata datar,
“Apapun yang terjadi, jangan pernah lengah. Perhatikan Ilona setiap saat.”
Dokter itu menunduk dalam-dalam, “Baik, Nona.”
Tanpa ekspresi lebih, Liona melangkah keluar, meninggalkan lorong dingin rumah sakit jiwa itu. Malam terasa makin sunyi ketika ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi. Begitu pintu tertutup rapat, ia menyandarkan kepala ke sandaran dengan mata terpejam.
Rasa pusing menghantam, membuat napasnya terengah. Liona menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi justru giginya merapat, bibir bawahnya ia gigit keras sampai terasa perih.
“Masalah… terlalu banyak,” gumamnya serak, hampir seperti geraman. Tangannya mengepal di setir, jemari bergetar. “Mana dulu yang harus kuselesaikan?”
Dalam kesunyian itu, hanya detak jarum jam digital mobil dan tarikan napas beratnya yang terdengar, sementara pikirannya berputar dengan bayangan masalah yang menumpuk-Ilona dan kehamilannya, Arion, dan bayang-bayang yang lebih gelap di balik semua itu.
Ting!
Suara notifikasi dari ponselnya berbunyi. Pesan dari Deo menyita fokusnya.
[Deo]:
The rose ada di salah satu ruangan fakultas FEB, sedang membincangkan rencana mereka.
[LionaHazel]:
Rencana apa?
[Deo]:
Setauku perekrutan anggota baru the rose.
Sudut bibir Liona terangkat, senyum tipis melintas di wajahnya. Bagus, waktunya sedikit hiburan, batinnya. Ia segera menyalakan mesin, menekan pedal gas, dan meluncur ke kampus.
Lorong gelap fakultas itu terasa menegangkan, tapi langkah kecil Liona justru ringan, hampir seperti sedang berjalan ke acara biasa. Cahaya redup yang merembes dari balik pintu mengarahkan dirinya ke ruangan itu.
Perlahan, ia dorong pintu, lalu bersandar santai di kusen dengan senyum manis, wajah polos seolah tak sadar bahaya. Sekitar sepuluh orang di dalam ruangan itu menoleh serentak. Dari aura dingin dan posisi duduknya, Liona langsung bisa menebak-mereka adalah orang-orang teratas the rose.
Hening.
"Siapa kamu?" suara seorang pria paruh baya-sepertinya dosen-terdengar tajam.
Dari telinga Liona yang terlatih, samar-samar ia menangkap bunyi gesekan pisau, dentingan logam, dan tarikan nafas waspada. Tekanan ruangan itu padat dan menyesakkan. Untuk orang biasa, lutut pasti sudah goyah.
Namun Liona hanya tersenyum kecil, matanya berkilat main-main.
"Emm... saya kebetulan baru pulang rapat BEM, Pak. Eh, katanya disini lagi ada perekrutan anggota baru ya?" nada suaranya riang, seperti basa-basi biasa.
Seorang wanita bertubuh ramping maju. Auranya menekan, tatapannya dingin menusuk. Setiap langkahnya menegaskan dominasinya.
Liona menghela napas pelan. Ah, tidak perlu repot mengeluarkan aura buasmu, nona. Aku sudah terbiasa.
"Siapa kamu?" tanya wanita itu lirih, tajam, hingga hembusan nafasnya terasa di wajah Liona.
Alih-alih mundur atau gentar, Liona justru menunduk sedikit dengan senyum tipis yang polos tapi menyebalkan.
"Emm... saya Liona, Bu~," ucapnya ringan, seakan sedang memperkenalkan diri di kelas, bukan di tengah sarang macan.
Beberapa orang di ruangan itu saling pandang. Ada yang mendengus pendek, ada juga yang menyipitkan mata penuh curiga.
“Liona?” ulang wanita itu dengan nada dingin. Tatapannya menelusuri Liona dari atas ke bawah, seolah mencoba menilai sesuatu yang tersembunyi.
Liona menegakkan tubuhnya dari kusen pintu, lalu masuk selangkah, mengayun-ayunkan tangannya ke belakang punggung. Wajahnya tetap manis, senyumnya tipis, seakan tak terganggu aura tajam yang menusuk kulit.
“Iya, Bu. Hehe… kalau boleh ikut perekrutan, saya juga mau daftar. Lumayan kan, siapa tau bisa jadi geng keren gitu.”
Ucapan itu membuat beberapa orang di sana terdiam sejenak, lalu salah satu cowok tertawa pendek, keras namun terdengar sumbang. “Anak ini nggak tau apa yang dia ucapkan…” gumamnya sambil memutar pisau kecil di jarinya.
Wanita kurus itu tidak ikut tertawa. Tatapannya semakin menusuk, mencoba memecahkan topeng polos yang Liona kenakan. Tapi Liona tetap berdiri tenang, bahkan memainkan ujung rambutnya sambil berkedip manis.
Pria paruh baya yang pertama bicara akhirnya mendesah berat. “Kamu pikir ini mainan? Tempat ini bukan untuk mahasiswa iseng yang tersesat, Nak.”
Liona terkikik pelan. Suaranya ringan, tapi justru menusuk atmosfer serius itu.
“Iseng? Hmm… mungkin iya. Tapi kan katanya lagi perekrutan. Jadi... apa saya harus isi formulir dulu, atau langsung dites keberanian gitu, Pak?”
Hening lagi. Kali ini ketegangan makin naik. Seakan semua orang di ruangan itu sedang menimbang-apakah gadis yang berdiri santai ini benar-benar tolol, atau justru terlalu berani.
Wanita itu akhirnya maju lebih dekat, menatap lurus ke mata Liona.
“Kamu nggak tahu apa yang kamu masuki.”
Liona mencondongkan kepala sedikit, senyum tipisnya berubah menjadi seringai samar. “Oh, saya tau, kok.” Tatapannya berkilat dingin sejenak, lalu kembali lagi polos seperti semula.
“Justru karena saya tau, saya jadi penasaran… seberapa seru sih main sama kalian?”
Wanita itu memicingkan mata, menatap Liona teliti seakan membaca lapisan demi lapisan di balik wajah polosnya. Bibirnya perlahan melafalkan,
“...Liona Hazel Elnara.”
Ruangan itu langsung sunyi. Nama itu jelas punya bobot.
Liona hanya mengangguk kecil, ekspresinya santai. “Yep, that’s me,” jawabnya ringan, seolah barusan diperkenalkan di acara kampus biasa.
Namun tatapan wanita itu segera beralih ke orang-orang di belakangnya. Sorot matanya tegas, seakan memberi isyarat tanpa kata: dia ada dalam daftar penyelidikan the rose.
Tanpa aba-aba, tubuhnya melesat cepat. Belati tipis berkilat menusuk udara, mengarah tepat ke wajah Liona.
Sett!!
Ujung tajamnya berhasil menggores pipi Liona. Garis merah segera merebak, darah hangat mengalir menuruni kulitnya.
Liona terdiam sejenak. Pandangannya kosong, tercengang seakan tak percaya ada yang berani melakukannya. Perlahan wajahnya berubah cemberut, bibirnya mengerucut kesal seperti anak kecil yang mainannya dirusak.
Ia melangkah satu langkah mundur, menoleh sekilas pada darah di jarinya setelah mengusap pipinya. Kemudian matanya kembali pada wanita itu, sorotnya mulai berubah-samar, dingin, dan berbahaya.
“...Aduh, itu sakit, tahu,” ucapnya datar dengan nada kecewa. Lalu senyum tipis kembali merayap di wajahnya. “Tapi... kalau ini cara kalian menyambut anggota baru, sepertinya saya bakal betah di sini.”
Follow ig author dong biar semangat @wiwirmdni21 yaa
kirim pesan apapun gituu🥲🥺
Aku suka kalau ada yang curhat atau ngga ngasih saran, motivasi, pesan tentang TSK atau yang lainnyaa
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Mystery / Thriller❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
