Liona tidak bergerak gegabah.
Matanya menajam saat menatap keluar melalui kaca yang retak. Dalam cahaya samar pagi, bayangan-bayangan mulai terlihat jelas, pergerakan di balik pohon, di sela semak, posisi yang terlalu rapi untuk sekadar kebetulan.
Ada beberapa orang.
Lebih dari lima.
Mungkin lebih.
Ia mengerutkan kening pelan.
Terlalu terstruktur untuk perampok biasa… tapi juga tidak ada penanda khusus.
Tidak ada simbol. Tidak ada seragam. Tidak ada ciri organisasi yang langsung bisa dikenali.
Lalu ini siapa?
Otaknya bekerja cepat. Kemungkinan demi kemungkinan bermunculan, tapi belum ada yang cukup kuat untuk dipastikan.
Mobil mereka… sudah dikepung.
Dan itu langsung terbukti di detik berikutnya.
Pintu di sisi Deo tiba-tiba ditarik kasar dari luar.
“Keluar!”
Seseorang menariknya tanpa basa-basi.
Deo sempat menahan, tapi posisi tidak menguntungkan. Ia akhirnya dipaksa keluar dari mobil dengan kasar.
“Woy–!” Bian langsung bereaksi, mencoba melawan saat pintunya juga dibuka paksa. Ia sempat mendorong salah satu dari mereka, tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Dalam hitungan detik, Bian juga ditarik keluar.
“Lepasin, anjir!” teriaknya, namun tetap dipaksa turun.
Di dalam mobil, suasana langsung berubah kacau.
Lia langsung pucat. Tangannya gemetar saat refleks memegang lengan Abel. Zeise membeku di tempat, napasnya mulai tidak teratur.
“Li… ini apa…?” suara Lia hampir tidak keluar.
Abel bahkan tidak bisa bicara. Hanya napasnya yang memburu, matanya membesar penuh ketakutan.
Liona memperhatikan semuanya. Wajah teman-temannya. Ketakutan mereka. Dan di situlah satu hal langsung jelas baginya–ini bukan soal dia lagi.
Ia mungkin tidak takut.
Tapi situasinya jauh dari aman.
Karena ia tidak sendirian.
Melindungi diri sendiri itu mudah.
Melindungi empat orang yang panik… di tengah kepungan bersenjata?
Itu cerita lain.
Liona menarik napas pelan, menahan dirinya untuk tidak bertindak gegabah. Tangannya tetap di dekat pinggangnya, tapi ia belum mengeluarkan belatinya.
Belum.
Matanya kembali mengarah ke luar.
Menghitung.
Mengukur jarak.
Menganalisis posisi mereka.
Jumlah lawan.
Arah senjata.
Siapa yang terlihat memimpin.
Salah satu dari mereka mendekat ke sisi mobil belakang. Ketukan keras terdengar di kaca.
“Keluar semua.”
Nada suaranya dingin. Tidak terburu-buru. Tidak panik.
Terlatih.
Liona menyipitkan mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Mistério / Suspense❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
