Liona tiba di rumah ketika fajar hampir menyingsing. Tubuhnya limbung saat mendorong pintu kamar, menahan rintih pelan sambil menekan bahu yang terluka. Pipinya pun terasa perih, seolah terbakar setiap kali tersentuh angin pagi.
Tangannya meraih ponsel yang sejak kemarin ia tinggalkan begitu saja di atas nakas. Puluhan pesan masuk dari suaminya memenuhi layar, deretan panggilan tak terjawab menambah sesak dadanya.
Baru saja ia duduk di tepi ranjang, ponselnya kembali berdering - panggilan video dari Arion. Dengan tangan gemetar, Liona menggeser layar untuk mengangkat. Wajah suaminya dengan tatapan elang langsung memenuhi layar.
Namun seketika air muka Arion berubah drastis begitu menyadari kondisi istrinya - darah memenuhi wajah dan membasahi pakaian Liona.
“Liona?!” suara Arion pecah, nadanya meninggi, penuh panik. Matanya membelalak, rahangnya menegang saat melihat wajah istrinya penuh darah. “Apa yang terjadi denganmu?!”
Liona terdiam, hanya menunduk. Bahunya naik-turun menahan sakit, bibirnya bergetar tapi tak ada kata yang keluar.
“Jawab aku, Liona!” Arion mendesak lagi. Tatapan elangnya kini dipenuhi amarah bercampur cemas. Tangan di layar seolah ingin menembus jarak, ingin segera meraih dan memeluknya.
“Aku baik-baik saja,” suara Liona akhirnya terdengar lirih, meski jelas sekali kebohongan itu. Jemarinya gemetar saat mencoba menghapus noda darah di pipi. “Jangan khawatir…”
Arion menggeram pelan. “Kau pikir aku bisa tenang melihatmu seperti ini?! Di mana kau sekarang? Aku akan datang-sekarang juga!”
“Jangan gila, sayang! Aku baik-baik saja!” suara Liona terdengar panik, matanya melebar. Ia buru-buru menambahkan, “Lagi pula, Dokter Lilia sudah dalam perjalanan ke sini. Kau nggak perlu khawatir, ya?”
Namun jelas nada suaranya justru memperlihatkan kegelisahan yang berusaha ia tutupi.
Arion terdiam beberapa detik, lalu terdengar helaan napas panjang dari seberang layar. Kepalanya menunduk sesaat, sebelum kembali menatap Liona dengan sorot mata yang penuh kecewa. “Aku seharusnya ada di sana. Aku seharusnya melindungimu…” suaranya parau, penuh penyesalan.
“Arion…” Liona berbisik, mencoba menenangkan suaminya.
Mata Arion kembali menajam, kali ini lebih dingin. “Katakan padaku,” ujarnya tegas, hampir seperti perintah, “siapa yang melukaimu?”
Liona terdiam. Tangannya mengepal di atas paha, sebelum akhirnya ia menjawab lirih, “The Rose.”
Begitu nama itu keluar dari bibir Liona, rahang Arion langsung mengeras. Urat di pelipisnya menegang, matanya menyala dengan amarah yang tertahan.
“The Rose…” gumamnya pelan, tapi penuh dengan bara. “Mereka sudah keterlaluan.”
“Arion, jangan—” Liona buru-buru menyela, napasnya sedikit terengah karena sakit di bahu. “Aku cuma butuh kau tenang, jangan lakukan sesuatu yang gila. Aku bisa mengatasinya.”
Arion mendongak, menatap Liona dalam-dalam melalui layar seakan ingin menembus jarak yang memisahkan mereka. “Mengatasinya? Liona, lihat dirimu sekarang! Wajahmu penuh darah, bajumu berlumur luka. Bagaimana aku bisa diam?”
Air mata hampir pecah di pelupuk mata Liona, namun ia menahannya, tidak ingin terlihat rapuh. “Kumohon, dengarkan aku. Dokter Lilia sebentar lagi datang. Setelah itu aku akan lebih baik.”
Arion menghela napas panjang lagi, kali ini berat dan dalam. Jari-jarinya mengepal begitu kencang hingga buku-bukunya memutih. “Aku bersumpah, Liona… mereka akan membayar semua ini. Aku takkan biarkan The Rose menyentuhmu lagi.”
Liona hanya tersenyum kecil meski wajahnya masih penuh luka. Ia mengusap pipinya yang berlumur darah, lalu menatap layar ponsel dengan sinar mata yang sulit terbaca.
“Kamu tahu nggak, sayang…” suaranya pelan, namun ada nada geli yang aneh. “Aku tadi tuh sebenarnya lagi main-main sama mereka. Aku tiba-tiba join pas mereka rapat rekrutan anggota baru.”
Arion menegang. “Apa yang kau bilang?”
Liona terkekeh, meski suara tawanya terdengar serak. “Terus aku ngajuin diriku sendiri, sayang. Dan… mereka ngetes aku. Jadi, luka-luka ini… cuma bagian dari tes itu.” Ia mengangkat bahunya pelan, menahan perih, lalu tersenyum lebar. “Aku berhasil jadi anggota The Rose. Hahaha!”
Arion membeku, wajahnya berubah semakin kelam. Napasnya memburu, sorot matanya tajam menusuk ke arah istrinya. “Liona…” suaranya rendah, nyaris seperti geraman. “Kau… sadar nggak apa yang baru saja kau katakan?”
Liona masih tersenyum, meski bibirnya pecah-pecah. “Kenapa tatapanmu begitu, hmm? Aku berhasil, loh. Bukannya seharusnya kamu bangga punya istri sekuat aku?”
Arion memejamkan mata sesaat, mencoba menahan gejolak yang bergemuruh di dadanya. Saat kembali menatap layar, sorot elangnya menusuk, begitu dingin sekaligus terluka. “Bangga?” suaranya serak, menekan tiap kata. “Bagaimana aku bisa bangga, Liona, kalau jalan yang kau pilih penuh darah dan bahaya?”
Liona terdiam sepersekian detik, senyumnya sedikit meredup, namun ia cepat menutupi dengan tawa kecil. “Ayolah, jangan terlalu serius, Sayang. Aku masih hidup, kan? Lihat, aku bahkan masih bisa ketawa begini.”
Arion mendekatkan wajahnya ke layar, seolah ingin meraih Liona yang jauh di sana. “Kau hampir mati, Liona! Luka di wajahmu, bahumu-itu bukan main-main! Dan kau… kau malah menyebutnya permainan?!”
Nada suaranya pecah, lebih terdengar sebagai jeritan hati yang kecewa daripada marah.
Liona menghela napas pelan, lalu menunduk, menyembunyikan ekspresinya. Untuk pertama kalinya malam itu, tawanya benar-benar hilang.
Air mata Liona akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Pipinya yang perih terasa semakin panas saat basah oleh tangisannya. Ia menggigit bibir, mencoba menahan suara, tapi bahunya bergetar hebat.
Aku capek… batinnya lirih, suara hatinya seakan menggema di kepalanya sendiri. Aku cuma ingin hidup tenang di hidupku yang kedua ini. Aku cuma ingin bahagia bersama Arion… bersama saudaraku. Itu saja.
Tangannya mengepal di atas paha, seakan berusaha menggenggam sisa kekuatannya. Namun tangis itu semakin deras, membuat tubuhnya semakin terasa rapuh.
Kenapa… kenapa Tuhan memberiku rintangan sebanyak ini? Apa aku nggak pantas bahagia, meski hanya sekali saja?
Ia menutup wajah dengan telapak tangannya, membiarkan isak itu pecah dalam diam. Untuk sesaat, dunia di sekitarnya seakan menghilang, menyisakan hanya dirinya-dan beban berat yang terus menghantui.
“Hazel…” suara Arion terdengar lirih dari seberang layar, penuh kegelisahan. Tatapannya bergetar saat melihat istrinya menutupi wajah dengan kedua tangan, bahunya terguncang karena tangis.
“Sayang, lihat aku.” Arion mencondongkan tubuhnya ke arah kamera, seolah jarak bisa ditebas oleh suaranya. “Jangan sembunyikan air matamu dariku.”
Namun Liona tetap diam, tangisnya pecah tanpa sepatah kata pun keluar.
Arion menghela napas panjang, menahan perih yang menusuk dadanya. “Kamu nggak harus kuat sendirian, Liona. Tidak sekarang. Tidak lagi.”
Ia mengepalkan tangannya, menunduk sesaat, lalu kembali menatap layar dengan sorot mata yang basah. “Kalau aku bisa, aku akan terbang ke sisimu detik ini juga. Aku akan hapus air matamu sendiri.”
Liona hanya menunduk, isaknya makin dalam. Dalam batinnya, ia merasakan sesuatu yang paradoks: hatinya hancur, tapi sekaligus hangat karena tahu Arion benar-benar ada untuknya.
🥺🥺 Liona sebenarnya manusia biasa kok:)
Follow ig @wiwirmdni21 Yaaa!!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Misteri / Thriller❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
