Arion hanya menatap wajah Liona lama, seolah memperbaiki ingatannya. Beberapa detik kemudian laki-laki itu tersenyum lalu menggeleng.
“Cuma kangen aja.”
“Loh?” Liona menatapnya curiga. “Beneran?”
Arion mengangguk santai. “Iya, Hazel.”
Liona menghela napas, mencoba menyembunyikan senyumnya. Ia lalu meraih tangan Arion yang terasa dingin dan menariknya berjalan menuju arah pantai.
Arion tidak banyak bicara. Ia hanya mengikuti langkah istrinya itu. Matanya sempat melirik ke arah villa besar tempat Liona menginap bersama teman-temannya, memperhatikan bangunan itu sejenak sebelum kembali melihat tangan Liona yang menggenggam tangannya.
“Kamu nggak takut teman-temanmu bangun?” tanya Arion akhirnya.
Liona menggeleng santai.
“Kenapa takut? Kamu kan bukan pengedar narkoba yang harus disembunyiin.”
Arion langsung berdecak kesal. “Bukan itu maksudku.”
“Lalu?”
Beberapa saat mereka berjalan dalam diam sampai akhirnya mencapai bibir pantai yang gelap. Ombak terdengar pelan memecah di kejauhan.
Liona merentangkan tangannya, menikmati angin laut yang menerpa tubuhnya, membuat kulitnya sedikit merinding karena dingin.
Arion memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya berbicara lagi.
“Temanmu ada yang suka sama kamu, kan… sayang?”
Nada suaranya tenang. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap laut sambil membiarkan angin mengacak rambutnya.
Liona meliriknya sekilas, lalu mengangkat bahu kecil.
“Aku nggak tahu dia beneran suka atau nggak,” katanya jujur.
“Dari reaksinya sih… kayaknya iya. Tapi kadang juga nggak kelihatan begitu.”
Arion tertawa pelan.
Ia melangkah mendekat, lalu mengecup singkat bibir Liona sebelum berbisik rendah, “Asal tahu batasan aja.”
Liona memutar matanya.
“Aku ini udah nikah, Arion.”
“Justru itu.”
Arion mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Liona dengan lembut. “Kamu istriku. Orang lain boleh suka… tapi mereka harus tahu kamu bukan milik mereka.”
Liona tidak langsung menjawab.
Angin laut terus bertiup pelan, membawa suara ombak yang pecah jauh di kegelapan. Tangan Arion masih berada di pipinya, hangat dan tenang-tapi Liona hanya menatapnya tanpa kata.
Beberapa detik.
Lalu lebih lama lagi.
Arion mulai menyadari sesuatu yang aneh. Biasanya Liona akan membalas dengan candaan, atau memutar matanya lagi. Tapi kali ini tidak.
Matanya terlihat berkilau.
“Hazel…?” panggil Arion pelan.
Liona menunduk sedikit. Bibirnya bergetar, dan sebelum ia sempat menahannya, air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya.
Arion langsung terpaku.
“Hey… hey, sayang,” katanya cepat, kedua tangannya memegang wajah Liona dengan panik. “Kenapa? Aku salah ngomong?”
Liona menggeleng, tapi tangisnya justru semakin nyata. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya, tapi suaranya tetap terdengar rapuh saat akhirnya ia berbicara.
“Aku… jadi takut.”
Arion mengerutkan kening.
“Takut apa?”
Liona menatapnya lagi, matanya basah.
“Gimana nanti kalau… seandainya Tuhan ngambil aku duluan?” suaranya pelan, hampir berbisik. “Atau lebih buruknya… kamu yang diambil duluan?”
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Mystery / Thriller❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
