Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

TSK2-31

1.9K 106 21
                                        

Malam hari, Liona tiduran di sofa depan televisi sembari membaca laporan anak buah yang dia tugaskan memeriksa keadaan di sekitar vila milik keluarga Bian. Tidak ada yang janggal. Liona mengangguk, kemudian memerintah anak buahnya untuk tetap berjaga di sana tiga hari ke depan.

Pintu rumah terbuka, Arion masuk bersama Leo-anak buahnya sekaligus orang yang dulu membantu Liona dalam misi Obsidian Cartel. Kini mereka berdua sudah cukup akrab.

“Sayang, dari mana?” Liona langsung melompat memeluk leher Arion dan bergelayut manja di sana tanpa menghiraukan kehadiran Leo.

“Dari kantor Papa. Sudah makan?” tanya Arion sembari membalas pelukan istrinya itu, lalu duduk di sebelah Leo yang sudah lebih dulu duduk. Ia membiarkan Liona duduk di pangkuannya.

“Halo, Leo,” sapa Liona sambil tersenyum, memperlihatkan giginya yang indah.

Leo membalas senyum itu. “Apa kabar, Nona?”

“Baik, aku harap kamu juga.”

Leo tertawa dan mengangguk. “Aku tidak akan baik-baik saja kalau suamimu terus memberiku misi, Nona.”

Liona menatap Arion tajam. “Anak buahmu banyak, kenapa kau siksa adik kecil itu?”

“Adik kecil apa, Hazel? Dia lebih tua dari kamu,” balas Arion santai.

Liona hanya tertawa. “Bagaimana penyelidikanmu tentang wilayahmu yang dikuasai Orpheus?” tanyanya kemudian.

“Kemarin mereka mengakui, tidak ada perlawanan.”

“Dan mereka tetap di sana?” tanya Liona balik.

Arion mengangguk. “Aku tidak mengusir mereka. Aku membuat perjanjian: mereka tidak akan membuat kekacauan, dan sebagian hasil pekerjaan mereka akan masuk ke brankas kami.”

Liona mengangguk. “Kalau ayah dari kandungan Ilona?”

Arion sempat saling pandang dengan Leo. “Belum,” jawabnya singkat.

Liona menghela napas. “Sebenarnya sih nggak penting juga siapa ayah biologis anak itu. Aku cuma mau tahu aja. Tapi tampaknya orang itu juga bukan orang sembarangan, ya?” katanya lebih pada dirinya sendiri.

“Oh iya, Orpheus itu kelompok apa sih? Berdirinya sudah lama atau baru?”

“Sudah lama, Sayang,” jawab Arion sambil memainkan rambut Liona di belakang punggungnya.

“Kalau gitu, lebih lama mana, Obsidian Cartel atau Orpheus?”

Arion sempat berpikir. “Orpheus.”

“Terus kenapa nggak punya lahan sendiri?”

“Bukan nggak punya, tapi mereka membangun di sini karena wilayahnya strategis.”

Liona mengangguk saja.

“Bagaimana aktivitasmu di The Rose?” tanya Arion kemudian.

“Deo bilang ketua The Rose itu belum pernah muncul. Katanya dia bahaya banget, Sayang!”

Arion menyernyit. “Deo, teman kamu itu?” Kebetulan Arion tahu kelima teman-teman Liona di kampus.

“Iya, Deo itu juga pernah gabung ke The Rose, tapi cuma anggota lapis luar.”

Arion bersandar dengan pandangan tak berminat. “Terus?”

“Terus dia ngasih tahu aku kalau aku diawasi sama mereka, jadi dia bantu aku.”

“Atas dasar apa dia bantu kamu, hm?”

“Emm… eh iya, kenapa dia bantu aku…” Liona langsung berpikir.

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang