Liona masih menatap Arion tanpa berkedip. Jarak mereka terlalu dekat, tapi tak ada yang bergeming. Suara di luar ruangan, langkah kaki, dan desiran udara dari ventilasi—semuanya menghilang, digantikan oleh sunyi yang menekan.
Dan tiba-tiba, pelan… Arion mengangkat tangannya.
Ia menggenggam pergelangan Liona. Tak erat, tidak kasar. Hanya sekadar menyentuh, namun dalam sentuhan itu ada sesuatu yang menggetarkan.
Liona terdiam. Tak melawan.
Arion menariknya perlahan ke arahnya, satu tangan melingkari pinggang Liona, satu lagi naik ke punggungnya. Gerakannya bukan keras atau penuh gejolak seperti biasanya, melainkan lembut. Nyaris rapuh.
Ia memeluk Liona.
Hangat.
Tapi dalam pelukan itu, Liona bisa merasakan sesuatu yang selama ini disimpan Arion meleleh. Ia bisa merasakan dadanya naik-turun berat, napasnya yang ditahan, dan tekanan halus dari jari-jarinya yang seperti berkata: “Aku butuh kamu.”
Liona tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan dirinya dibalut oleh pelukan itu, membiarkan keheningan menjadi bahasa mereka.
“Maaf,” gumam Arion, suaranya serak di dekat telinganya.
Liona memejamkan mata.
“Kamu kenapa, Sayaang...” lirih Liona mengelus rambut Arion.
“Katakan, aku buat salah yaa?”
Arion menggeleng. “No. You didn’t.”
Liona menarik sedikit kepalanya agar bisa menatap wajahnya. “Terus, ada apa?”
Arion menatap matanya, ada letupan emosi di sana, tapi juga keteduhan yang lelah.
“Kamu dari mana?” tanya Arion mengalihkan suasana.
“Dari kampus, kenapa?”
Arion menatap mata Liona lama kemudian tersenyum kecil, tangannya naik untuk mengacak rambut gadis itu. Kemudian mengelus pipi Liona sebentar. “Kamu mau ke dalam?” tanyanya.
Liona mengangguk. “Kenapa? Dia belum sadar?”
“Sadar sebentar, tapi pingsan lagi,” Arion berdiri, menarik tangan Liona.
“Mau kemana sayang?”
“Temenin aku, sebentar,”
“Temenin apa sayang?” tanya Liona panik.
“Kamu seharusnya tau sayang, haha...” Arion mengacak rambutnya sebentar kemudian merangkul Liona. “Nanti malam aku berangkat ke desa, mau meninjau proyek pembangunan di sana.”
Liona mengerutkan alis. “Proyek pembangunan apa maksudnya?”
Arion menatapnya lama. Senyumnya mengendur. “Pembangunan pusat pelatihan keterampilan buat pemuda desa, katanya. Tapi menurut laporan yang aku dapet... tempat itu punya koneksi sama kelompok Orpheus.”
Liona mengerutkan keningnya, dia baru mendengar nama itu. “Organisasi Orpheus?”
Arion mengangguk pelan, lalu menurunkan suara. “Mereka pakai proyek itu buat nyamarkan kegiatan mereka. Ada yang bilang mereka ngerakit senjata di bawah tanah fasilitas itu. Aku harus pastiin sebelum semuanya terlambat.”
“Dan kamu berangkat sendirian?” Liona bertanya pelan.
Arion tertawa pelan kemudian menatapnya lembut. “Saya tidak bisa melibatkan siapa pun dalam hal ini. Jika mereka mengetahui bahwa saya tengah menyelidiki, nyawa saya bisa terancam... dan seluruh penyamaran akan sia-sia.” Arion menunduk, lalu merangkul Liona lebih erat. “Itulah mengapa saya ingin Anda menemani saya sebentar saja sebelum saya berangkat malam ini.” bahasanya sangat sopan seakan mencoba meyakinkan istrinya yang sedang mengkhawatirkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Mystery / Thriller❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
