Bibir Arion menyentuh bibir Liona dengan lembut, tetapi hanya sebentar—cukup untuk membuat gadis itu merasakan panasnya, tetapi tidak cukup untuk benar-benar memuaskannya.
Sialan.
Liona mengerjap, hampir saja menggeram kesal, tetapi sebelum dia bisa melakukan sesuatu, Arion kembali menunduk. Kali ini, dia tidak sekadar mencium. Bibirnya bergerak perlahan, menggoda, menguji batas kesabaran Liona.
Liona tidak tinggal diam. Tangannya bergerak naik, mencengkeram kerah kaos Arion dan menariknya lebih dekat, membuat ciuman mereka semakin dalam.
Arion terkekeh di antara ciuman mereka, jelas menikmati bagaimana Liona tidak membiarkan dirinya kalah begitu saja.
"Nggak sabaran, ya?" gumamnya dengan suara rendah, sedikit serak.
Liona menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar tidak karuan. "Kamu yang mulai duluan, Arion," bisiknya.
Arion menatapnya, matanya berkilat penuh kepuasan. "Dan kamu selalu menyelesaikannya, sayang."
Liona menyeringai. "Tentu saja."
Tangan Arion meluncur ke pinggang Liona, menahan gadis itu di tempatnya. Tetapi sebelum situasi semakin panas, suara notifikasi ponsel tiba-tiba berbunyi, memecah keheningan di antara mereka.
Arion mendesis pelan, jelas terganggu. "Sial..."
Liona, yang masih berada di bawahnya, terkikik kecil. "Mungkin itu Alden nanya kita ngapain."
Arion mendengus sebelum meraih ponselnya dari meja. Dahinya berkerut saat melihat nama yang muncul di layar.
Bukan Alden.
Liona memperhatikan perubahan ekspresi Arion. "Kenapa?" tanyanya, suaranya masih sedikit terengah.
Arion menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mendesah, menutup matanya sejenak seolah menahan sesuatu. Ketika dia kembali membuka matanya, sorotnya berbeda. Lebih serius.
"Ini masalah," katanya singkat.
Liona langsung bangkit, matanya menajam. "Siapa?"
Arion menatapnya dalam-dalam sebelum akhirnya menyerahkan ponsel itu padanya.
Liona melihat nama yang tertera di layar—dan darahnya langsung berdesir.
Itu nama yang sudah lama tidak muncul. Nama yang seharusnya tidak mengganggu mereka saat ini.
Rebecca.
Liona menatap nama di layar ponsel Arion, bibirnya perlahan melengkung membentuk seringai licik. Tanpa ragu, dia mengambil ponsel itu dari tangan Arion dan menekan tombol video call.
Arion mengangkat alis, melihat tingkah Liona yang tiba-tiba begitu berani. "Kamu mau ngapain?" tanyanya, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.
Liona hanya meliriknya sekilas, mata gelapnya penuh tantangan. "Main sedikit," gumamnya santai.
Nada sambung berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya panggilan tersambung.
Rebecca muncul di layar, senyumnya melebar begitu melihat panggilan itu berasal dari Arion. Matanya berbinar penuh semangat, seolah sudah menantikan momen ini.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Karena yang muncul di layar bukanlah wajah Arion.
Melainkan Liona, yang menatapnya dengan seringai rendah dan tatapan penuh kepuasan.
Rebecca terdiam, ekspresinya berubah drastis dalam hitungan detik.
"Lama nggak ketemu, Rebecca," suara Liona terdengar begitu manis, namun ada sesuatu di baliknya yang jelas mengandung racun.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Misterio / Suspenso❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
