Liona duduk di atas meja kelasnya, kakinya menjuntai santai sambil menunggu dosen yang belum juga datang. Arion sudah berangkat sejak pagi, meskipun sempat muncul beberapa drama kecil karena ia enggan meninggalkan istrinya tercinta. Tapi Liona tetap memaksanya pergi-ia tak ingin kehadirannya jadi penghalang bagi rutinitas Arion.
Sambil mengunyah permen karet, Liona mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, memperhatikan teman-temannya satu per satu. Matanya tajam, seolah memeriksa sesuatu. Tangan mereka, tepatnya. Siapa tahu ada jejak The Rose di sana-simbol kecil yang tak semua orang sadar maknanya, tapi sangat berarti bagi Liona.
Pandangannya teralihkan saat seseorang muncul di ambang pintu.
Sosok tinggi, mengenakan hoodie gelap.
Deo.
Liona menyipitkan mata, lalu tersenyum tipis. Ia menunggu laki-laki itu mendekat, menanti kabar baru dari anak buah barunya itu.
Deo mendekat dengan langkah tenang, lalu berhenti tepat di depan meja tempat Liona duduk.
“Aku bergabung di mata kuliah kali ini, nggak apa-apa, Nona?” tanyanya, suaranya rendah dan sopan, tapi cukup jelas untuk terdengar oleh beberapa orang di sekitar mereka.
Liona menatapnya sekilas, lalu mengangguk singkat tanpa berkata apa pun. Ia langsung turun dari atas meja dan duduk di kursinya seperti tak terjadi apa-apa.
Namun beberapa pasang mata di dalam kelas memperhatikan mereka-ada yang saling menyikut, ada pula yang tersenyum-senyum geli, seolah menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan biasa.
Liona tak menggubris.
Ia hanya bersandar di kursinya dengan santai, tapi dalam hati, ia mendecak.
“Kalau Arion melihat semua ini…” pikirnya, “…dia pasti langsung cemburu dan menghancurkan setengah isi kelas ini tanpa pikir panjang.”
Tatapannya kosong menatap ke depan, sementara pikirannya justru sibuk meminta maaf dalam diam.
“Maafkan aku, Sayang. Demi misiku. Demi semua ini berakhir. Aku butuh dia… hanya sampai semuanya selesai.”
Tangan Liona mengepal kecil di pangkuannya, nyaris tak terlihat oleh siapa pun. Ekspresinya tetap datar, tapi dalam hatinya ada badai yang tak sempat ia tunjukkan.
Deo masih berdiri di samping bangkunya, menunggu sejenak sambil memperhatikan Liona yang sudah duduk dan bersandar santai.
Setelah beberapa detik hening, ia kembali membuka suara, nada suaranya tetap tenang, tapi ada sedikit keraguan yang terselip.
“Boleh aku duduk di sini?” tanyanya pelan, sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Liona.
Liona menoleh ke arahnya, menatapnya sebentar dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu, tanpa banyak bicara, ia mengangguk pelan.
Setelah itu, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis, singkat, halus, tapi cukup untuk membuat Deo terdiam sejenak, seolah tidak yakin harus merasa lega… atau justru waspada.
Ia menarik kursi perlahan dan duduk di sebelahnya.
Beberapa teman sekelas masih memperhatikan mereka dengan penuh rasa ingin tahu. Ada yang menyenggol temannya, ada yang menahan tawa kecil, bahkan satu dua orang sudah bersiap mengetik sesuatu di ponselnya-mungkin untuk update gosip hangat hari ini.
Tapi Liona tetap tenang.
Senyum di bibirnya telah menghilang. Yang tersisa hanya tatapan tajam yang diam-diam mengawasi sekeliling.
Kalau Arion tahu…
Kalau dia benar-benar tahu apa yang mereka pikirkan sekarang…
...kelas ini tidak akan punya jendela yang utuh lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Mystery / Thriller❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
