Liona melangkah keluar kelas dengan santai. Saat berjalan menuju toilet, ia baru menyadari ada seseorang yang mengikutinya diam-diam dari belakang. Liona menghela napas. Siapa lagi yang mau main-main sekarang?
Begitu masuk ke dalam toilet, dugaannya terbukti. Ia memang diikuti.
Terdengar suara gemerincing besi. Pintu dikunci dari dalam. Liona langsung berbalik, menatap gadis yang kini menatapnya tajam. Ia mengenali wajah itu-gadis yang berada di rooftop waktu ada korban yang jatuh dari lantai atas.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Liona dengan tenang.
“Kau penyusup dari mana, hah? Sebelum kelompokku bertindak mengeksekusimu, aku ingin memberimu pelajaran terlebih dahulu,” jawab gadis itu, suaranya penuh amarah.
Liona memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah, lalu kembali menatap matanya dengan tajam. “Sok keras,” gumamnya sambil menyeringai.
“Sialan! Kamu yang sok ikut campur! Kalau nggak mau kena masalah, mending pulang saja!” bentak gadis itu.
Liona mengabaikannya. Pandangannya beralih ke name tag di seragam si gadis: Tivana Lonelia.
“Bagaimana aku bisa pulang?” tanya Liona, menahan senyum. “Sedangkan kau yang ngunci pintunya?”
Tivana terdiam, mencoba menyembunyikan emosinya. Liona tertawa—bukan tawa akrab, tapi tawa yang menusuk dan penuh sindiran.
Tiba-tiba, Tivana mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik saku roknya. Kilatan logam itu membuat udara di dalam toilet mendadak menegang.
Tanpa aba-aba, Tivana melesat maju, gerakannya cepat dan terlatih, pisau mengarah lurus ke wajah Liona.
Liona tersentak, tak menyangka serangan datang secepat itu. Tapi tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya.
Clak!
Dengan reflek, Liona menangkap pergelangan tangan Tivana sebelum pisau itu menyentuh kulitnya. Kedua mata mereka saling terkunci, dipenuhi ketegangan.
"Apa kau gila?" desis Liona, menahan lengan Tivana dengan kekuatan penuh.
Tivana berusaha mendorong maju, tapi Liona menggertakkan giginya, lalu memutar tubuh dan menarik tangan gadis itu ke belakang. Dengan satu gerakan keras dan tegas, Liona membanting tubuh Tivana ke lantai.
Brak!
Tivana terhempas telentang dengan napas tertahan. Pisau kecilnya terlempar, berputar di lantai sebelum berhenti di sudut ruangan.
Liona berdiri di atasnya, napasnya berat, matanya menyala tajam. “Kalau mau main kasar, kau salah pilih lawan.”
Namun Tivana tidak menyerah.
Begitu Liona sedikit melonggarkan cengkeramannya dan mengalihkan pandangan ke arah pisau yang tergeletak, Tivana langsung bergerak. Dengan kecepatan mengejutkan, ia bangkit dan menerjang, mendorong Liona dengan seluruh tenaganya.
Liona tak sempat menghindar. Tubuhnya terlempar keras ke belakang, menghantam dinding dingin di ujung toilet.
Dugh!
Sebuah tendangan telak menghantam perutnya sebelum ia sempat berdiri. Napasnya terhempas keluar dari paru-parunya. Sakit luar biasa menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya, membuatnya menggertakkan gigi menahan rasa nyeri.
Tivana berdiri di hadapannya dengan mata membara. Nafasnya terengah-engah, tapi senyum tipis penuh kebencian mulai menghiasi wajahnya.
“Gimana rasanya, penyusup?” desis Tivana, suaranya tajam seperti pisau itu sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Mystery / Thriller❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
