TSK2-22

4.1K 230 30
                                        

Belakang gedung lama sepi. Angin sore berembus pelan, membawa aroma debu dan tanah basah. Cahaya matahari menyorot miring dari balik atap bangunan tua, menambah kesan muram pada tempat itu.

Liona sudah ada di sana. Duduk di atas pagar beton rendah, satu kaki digoyangkan pelan, wajahnya menengadah ke langit yang perlahan memerah. Ia tampak tenang, bahkan nyaris terlalu santai untuk seseorang yang mungkin sedang diawasi.

Deo muncul beberapa menit kemudian, langkahnya ragu namun tetap mendekat.

“Kamu datang,” ucap Liona tanpa menoleh.

“Ya,” Deo menelan ludah. “Aku penasaran... kenapa kamu minta ketemuan di sini?”

Liona akhirnya menatapnya. “Karena aku butuh lihat siapa saja yang cukup bodoh buat narik perhatianku terlalu cepat.”

Deo mengerutkan kening. “Aku cuma—aku pikir kamu... kamu orang dari dalam. Dari The Rose.”

Liona mengangkat alis. “Lucu.” Ia turun dari pagar, mendekat. “Aku bahkan gak tahu siapa mereka sampai kemarin lihat simbol di tangan dosen.”

“Lalu kenapa kamu tatap mereka seperti itu?” tanya Deo pelan. “Pandanganmu... cara kamu duduk... kamu bahkan belum sebulan di sini, tapi semua udah ngerasa gak nyaman. Mereka bilang kamu beda. Dan orang-orang kayak kamu... biasanya bukan 'orang biasa'.”

Liona menyipitkan mata, senyum kecil terukir di sudut bibirnya. “Karena aku bukan orang biasa. Tapi itu gak berarti aku bagian dari kelompok mainan kamu itu.”

Deo tampak bingung. “Tapi auramu... rasanya familiar. Kayak...”

“Kayak apa?” potong Liona. “Kayak seseorang yang gak takut pada kegelapan kalian?”

Deo terdiam.

“Dengar, Deo,” Liona bersandar ke dinding, menatap lurus ke matanya. “Aku gak peduli siapa yang kamu pikir aku ini. Tapi sekarang aku tahu kelompok itu masih hidup—dan mereka menempel ke orang-orang penting di kampus ini.” Ia melipat tangan. “Kalau kalian pikir bisa main sembunyi-sembunyi dan gak ketahuan, kalian salah besar.”

Deo terlihat ragu. “Kamu mau ngapain?”

Liona menatap langit sebentar, lalu kembali pada Deo. “Aku cuma mau tahu... siapa yang berani pakai simbol yang bahkan bukan mereka yang ciptakan.”

“Apa maksudmu?”

Liona menunduk sedikit, suaranya jadi lebih rendah. “The Rose bukan milik kalian. Dan kalian pasti tahu itu.”

Deo terdiam, matanya melebar sedikit. “Berarti… kamu—”

“Aku bukan pendiri. Tapi aku tahu siapa yang dulu menciptakannya,” jawab Liona cepat, datar. “Dan dia pasti marah besar kalau tahu kelompok ini disalahgunakan.”

Deo tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi urung.

“Sekarang aku balik tanya,” Liona mendekat, suaranya dingin. “Apa kamu masih di pihak mereka, Deo?”

Deo menggeleng pelan. “Enggak. Aku keluar... karena mereka mulai menargetkan orang yang gak bersalah. Mereka bukan kelompok idealis seperti dulu. Mereka—mereka sekarang lebih seperti bayangan. Menghancurkan dari dalam.”

Liona mengangguk perlahan, seperti mengkonfirmasi sesuatu di kepalanya.

“Oke. Mulai sekarang, kamu kerja buat aku,” ucapnya akhirnya.

Deo terkejut. “Apa?”

“Aku butuh mata. Kuping. Orang yang tahu jalan dan kode di dalam.” Liona menyeringai. “Dan kamu baru saja daftar jadi relawan.”

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang