TSK2-09

10.8K 653 30
                                        

Vote duluu

Liona menelan ludah, merasa kata-katanya sudah terlalu dekat dengan kenyataan yang harus dia hadapi. “The Rose... adalah bagian dari dunia yang lebih gelap dari yang bisa kamu bayangkan. Tempat yang aku anggap sebagai rumah, dan kini... aku harus merebutnya kembali.”

Kata-kata itu menggantung di udara, dan Arion bisa merasakan betapa beratnya itu bagi Liona, meskipun dia tidak tahu sepenuhnya apa yang sedang dihadapi gadis itu. Namun, di balik semua itu, Arion tahu satu hal pasti: ada lebih banyak rahasia yang disembunyikan Liona dari masa lalunya, dan ini mungkin hanya permulaan.

"Akh!!"

Liona mendadak merasakan kepalanya berputar, penglihatan mulai buram, dan tubuhnya seakan kehilangan keseimbangan. Pisau yang tadinya kokoh di tangannya terlepas, jatuh ke lantai dengan suara nyaring. Tangannya yang bebas bergerak ke meja, mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh, namun tenaganya melemah seketika.

"Arion..." bisik Liona, suaranya terdengar lemah.

Mendengar nada kelelahan itu, Arion segera bereaksi. Dengan cepat, ia melingkarkan tangannya ke pinggang Liona, menarik tubuhnya yang hampir ambruk ke dalam pelukannya. Arion menahan napas, memeluknya erat dari belakang, memastikan Liona tidak terjatuh.

"Liona! Hei, kamu kenapa?" tanya Arion, suaranya dipenuhi kekhawatiran, sementara tangannya dengan lembut memegang lengan Liona, mencoba menyeimbangkan tubuhnya. Liona hanya terdiam, merasakan dunianya berputar semakin cepat.

Arion dengan sigap menuntun Liona ke kursi di dapur, membantunya duduk dengan perlahan. Tatapannya khawatir saat melihat wajah Liona yang pucat dan kelopak matanya yang setengah tertutup.

"Liona, sayang, lihat aku," bisik Arion dengan nada lembut namun tegas, mencoba menarik perhatian Liona kembali. Dia menangkupkan kedua tangan di pipi Liona, mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu. "Apa yang kamu rasakan? Pusing? Sakit?"

Liona mengerjap pelan, menatap Arion yang wajahnya kini sangat dekat. "Aku... cuma pusing tiba-tiba," jawabnya, suaranya bergetar.

Arion mengernyit, memeriksa wajah Liona dengan seksama. "Kamu mungkin terlalu capek. Kamu nggak makan cukup tadi, kan?" tebaknya, tangannya masih dengan lembut menahan kepala Liona agar tetap tegak.

Liona hanya mengangguk pelan, terlalu lemah untuk membantah. Arion menarik napas panjang, menahan rasa khawatirnya. "Kamu istirahat dulu, ya. Biar aku yang urus semuanya," katanya, suaranya tenang, namun jelas dia tidak akan menerima penolakan.

Liona menutup matanya sebentar, merasakan detak jantungnya perlahan stabil di bawah perlindungan tangan Arion yang masih memeluknya. Meski tubuhnya lemah, hatinya sedikit tenang, karena dia tahu Arion ada di sana, siap melindunginya.

"Tunggu di sini, aku ambil air buat kamu," kata Arion, melepaskan pelukannya perlahan. Dia bangkit, bergegas menuju kulkas untuk mengambil air dingin.

Saat Arion kembali, dia melihat Liona masih duduk terdiam, matanya kini terbuka dan menatap kosong ke depan. Ada sesuatu di wajah Liona, seolah pikirannya kembali melayang ke sesuatu yang lebih jauh—mungkin masa lalunya, atau mungkin The Rose yang tadi dibicarakannya.

Arion berlutut di depannya, memberikan segelas air kepada Liona. "Minum dulu, Liona," ujarnya lembut, sambil tetap memerhatikan ekspresi wajah gadis itu. Liona mengambil gelas itu dengan tangan gemetar, kemudian meminumnya perlahan.

“Aku nggak apa-apa, Arion,” kata Liona dengan senyum lemah, meski Arion tahu itu tidak sepenuhnya benar.

“Kamu istirahat dulu, Liona,” kata Arion, menangkup kedua tangan Liona di tangannya sendiri, merasa ingin melindungi wanita yang kini terlihat begitu rapuh di hadapannya.

Namun, di balik semua itu, Arion bisa merasakan bahwa rahasia yang disembunyikan Liona bukan hanya soal kesehatan atau kelelahan. Ada sesuatu yang lebih besar, dan Arion tahu ia harus siap menghadapi apapun yang akan datang.

Pandangan Liona seketika memudar, seperti tirai gelap yang perlahan menutupi dunianya. Meski ia sadar tubuhnya masih duduk di kursi, perasaannya mengatakan sebaliknya. Keringat dingin bermunculan di keningnya, membuatnya merasa semakin terperangkap dalam kekosongan. Pandangannya menjadi gelap, dan di tengah-tengah kegelapan itu, muncul sebuah titik hitam yang semakin membesar, menyerbu dengan kecepatan yang membuatnya merasa terlempar ke dalam pusaran tak berujung.

Di balik gelap itu, tiba-tiba kehidupan Liona seolah terbentang jelas di hadapannya, seperti layar besar yang menampilkan setiap momen dari hidupnya. Tapi ini bukan sekadar kilasan memori—semuanya tampak begitu nyata. Liona bisa melihat dirinya sendiri di berbagai titik kehidupan, seolah dia berdiri di luar tubuhnya, menyaksikan fragmen dari masa lalunya seperti seorang penonton.

Ada Liona yang masih kecil, duduk di pangkuan kakeknya, Gibran Frederick, saat ia bercerita tentang masa depan yang penuh rahasia. Ada Liona remaja, berlatih bertarung dalam keheningan, mempelajari taktik dan strategi yang mengasah insting pembunuhnya. Kemudian, ada Liona dewasa, berdiri di depan kelompok yang kuat, menatap mereka dengan mata penuh determinasi.

Namun, di tengah pemandangan hidupnya yang tergambar itu, Liona mendengar sesuatu—bisikan yang samar namun menusuk. Kata-kata “maaf” bergema dari segala arah, membuat Liona berputar, mencari sumber suara tersebut. Bisikan itu datang dari mana-mana, seolah angin yang berbisik di telinganya dari semua sisi, membuatnya kebingungan.

"Maaf…" kata suara itu lagi, semakin lembut namun terdengar jelas. Liona terus mencari, memutar tubuhnya, mencoba mengidentifikasi dari mana suara itu berasal, tapi tidak ada sosok yang tampak. Tidak ada bayangan, tidak ada petunjuk. Hanya suara itu, terus mengalun di antara fragmen kehidupannya.

“Siapa?” Liona berbisik lirih, matanya mencari tanpa hasil.

Dan tiba-tiba, dia mengenali suara itu. Suara yang begitu familiar, namun terasa lebih lembut dari biasanya—suara Auristella. Tapi tidak sekeras dan setegas yang dia ingat, seolah ada kelembutan dan kerentanan di dalamnya yang belum pernah dia dengar sebelumnya.

"Stella?" tanya Liona, suaranya terdengar lemah di antara kegelapan yang melingkupinya. "Apa ini... kamu?"

Tidak ada jawaban yang langsung datang, hanya bisikan maaf yang terus terdengar, mengalir seperti arus air tenang, membasuh kesadarannya yang rapuh. Liona merasakan hatinya berguncang, terlempar antara rasa penasaran dan kegelisahan. Auristella jarang menunjukkan kelembutan seperti ini, apalagi kata-kata penyesalan.

Sekali lagi, bisikan itu terdengar, kali ini lebih dekat, lebih nyata. "Maaf… aku tidak bisa melindungimu…"

Liona terdiam, merasa tubuhnya semakin lemah di dalam kegelapan yang menghimpit. Keringat dingin terus mengalir, dan pandangannya masih tertutup oleh fragmen kehidupannya yang terus berputar seperti film yang tak berkesudahan. Dan meski ia berusaha keras mencari jawaban, kegelapan itu hanya semakin menelannya, membuatnya merasa semakin jauh dari kenyataan.

Tapi bisikan itu—suara lembut Auristella—tidak berhenti, terus mengelilingi Liona, seakan berusaha menyampaikan sesuatu yang penting. Dan meski Liona ingin berteriak, ingin memohon penjelasan, suaranya terasa tersangkut di tenggorokannya, tercekik oleh gelap yang kini sepenuhnya menyelimutinya.

Liona hanya bisa berpegang pada satu hal: kata-kata maaf yang berulang-ulang terdengar, dan suara Stella yang tampaknya membawa rahasia yang lebih besar dari apa yang Liona pernah duga.




PLOT TWITS TERBESAR UDAH UPDATE!!

Udah beli novel S1 TSK blum??

#tbc
Follow ig: @wiwirmdni21

Follow tiktok: @Wiwi Ramadani

KOMEN DOONG YANG BANYAKKK HIHI😖🖤 SPAM NEXT!!

JANGAN LUPA VOTE🖤

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang