TSK2-32

1.8K 102 20
                                        

Semakin malam, suasana justru makin ramai. Permainan kartu empat pemain itu diisi oleh Liona, Arka, Alden, dan Arabella-ya, Arabella, pacar Arka. Kini hubungan mereka sudah cukup dekat. Liona seolah telah benar-benar memaafkan kesalahan Arabella di masa lalu, bahkan mengizinkannya akrab dengan kakaknya.

Sementara itu, Arion hanya duduk di belakang Liona. Sesekali ia memainkan rambut gadis itu dengan santai, sama sekali tak tertarik ikut bermain. Ia lebih memilih membantu Liona setiap kali gadis itu kesulitan menebak langkah lawan.

“Ara, kalau kamu kalah lagi kali ini, kamu nggak boleh ketemu Arka seminggu penuh. Nggak ada telepon, chat, atau kabar dari siapa pun!” ucap Liona sambil menurunkan kartu terakhirnya dengan senyum miring penuh kemenangan.

“Ih, mana bisa gitu!” seru Arabella cepat, menurunkan kartunya dengan semangat membara.

Arion hanya tertawa kecil melihat Liona yang begitu puas menggoda Arabella.

“Udah, Ara, kalah tuh kalah aja. Terima nasib,” celetuk Alden sambil tertawa. “Liona emang jagonya licik, udah dari dulu.”

“Eh, kamu tuh ngomong apa sih, Den!” protes Liona, pura-pura kesal. “Ini namanya strategi, bukan licik!”

Arka ikut tertawa melihat tingkah mereka. “Kalau Ara beneran kalah, siap-siap aja seminggu tanpa aku, ya.”

“Enggak mau! Arka, kamu harus bantu aku menang,” rengek Arabella sambil mencubit lengan pacarnya.

Liona menahan tawa, sementara Arion di belakangnya mencondongkan tubuh, berbisik pelan di telinganya.
“Kalau kamu kalah, hukumannya apa buat kamu?”

Liona menoleh sedikit, matanya menyipit. “Aku? Nggak bakal kalah.”
“Yakin?” Arion menaikkan alis, senyum tipisnya muncul di sudut bibir.

“Seratus persen yakin,” balas Liona cepat.

Arion tertawa pelan, suaranya dalam dan menenangkan. “Oke, kita lihat nanti, Nona Pemenang.”

Liona pura-pura tidak peduli, tapi wajahnya sedikit memerah. Ia kembali menatap kartunya, berusaha fokus, sementara detak jantungnya terasa sedikit lebih cepat dari biasanya.

Permainan berlanjut dengan tawa dan teriakan kecil setiap kali seseorang hampir menang.

Suasana malam itu penuh dengan kehangatan, campuran antara candaan, kompetisi kecil, dan rasa nyaman yang sulit dijelaskan.

Di sisi lain ruangan, Elina duduk santai di atas sofa bersama Adera. Sejak tadi mereka hanya menjadi penonton, menikmati keseruan yang terjadi di depan mata. Elina sesekali tersenyum melihat betapa ramai suasana malam itu, sementara Adera hanya menonton tak berani banyak tingkah.

“Kayak anak kecil semua,” gumam Adera pelan, membuat Elina tertawa kecil.

“Tapi seru, kan?” balasnya lembut.

Putaran permainan yang kesekian kalinya akhirnya dimenangkan oleh Arabella, yang langsung menepuk meja dengan senyum puas.

“Ha! Tuh kan! Akhirnya aku menang juga!” serunya bangga, menatap Liona dengan tatapan penuh kemenangan.

Alden hanya bisa mengangkat kedua tangannya, pasrah. “Yaudah, yaudah, aku ngaku kalah. Tapi jangan suruh aku cuci gelas lagi kayak tadi.”

“Siapa suruh kamu kalah lagi, Den?” sahut Arka sambil terkekeh.

Permainan pun diulang. Kali ini terjadi perputaran pemain, Arion memutuskan untuk bergabung menggantikan Alden yang kalah. Ia duduk di sebelah Liona, sementara gadis itu menatapnya dengan mata menyipit curiga.

“Kamu yakin mau main?” tanya Liona.

“Yakin banget,” jawab Arion sambil mengambil kartu dari tumpukan. “Lagipula aku udah capek jadi penonton.”

“Elah, jangan nyesel ya kalo kalah,” goda Liona.

Arion tersenyum miring, menatap Liona sekilas sebelum berkata pelan, “Justru aku pengen lihat ekspresimu waktu kalah.”

Seketika Liona mendengus, wajahnya memerah sedikit. Arka dan Arabella yang melihat interaksi itu hanya saling pandang lalu tertawa pelan, sementara Elina di sofa menutupi senyumnya dengan bantal kecil.

“Wah, ini sih bakal seru,” ujar Elina setengah berbisik pada Adera. “Kayaknya bakal lebih ramai dari ronde sebelumnya.”

Permainan dimulai kembali. Kartu dibagikan, dan suasana langsung kembali riuh. Arion tampak santai, menyandarkan punggungnya pada kursi, sementara Liona di sampingnya duduk tegak dengan ekspresi penuh fokus.

“Hmm, kamu yakin bisa menang lawan aku?” tanya Liona, melirik Arion dari ujung mata.

Arion tersenyum tanpa menatapnya. “Menang itu bonus. Yang penting aku duduk di sebelahmu dulu.”

Liona langsung mendengus pelan, pura-pura sibuk dengan kartunya padahal wajahnya mulai hangat.
“Dasar tukang gombal,” gumamnya.

Arabella yang duduk di seberang langsung menimpali, “Ih, so sweet banget sih. Kalau kalah jangan nyalahin Liona, ya!”

Arka mencibir namun kemudian tertawa, “Yang udah nikah mah bebas,”

Sementara itu Arion hanya tersenyum, tapi tatapannya sempat bertemu dengan Liona, hangat dan penuh makna. Sekilas saja, tapi cukup membuat jantung Liona berdebar.

Permainan terus berlanjut. Kali ini Liona sempat unggul di awal, tapi Arion dengan tenang menurunkan kartunya satu per satu tanpa banyak bicara.

Sampai akhirnya...

“Dan... selesai,” ucap Arion pelan, menurunkan kartu terakhirnya.

“Eh—APA?! Kamu menang?!” Liona memekik kaget, sementara yang lain tertawa serentak.

“Kayaknya kamu yang kalah sekarang,” kata Arion sambil menatapnya dengan senyum puas.

Liona mendengus, tapi tak bisa menahan senyum kecil yang muncul di bibirnya. “Oke, pemenang boleh sombong sekali ini.”

Arabella bersorak, “Wah, akhirnya ada yang bisa ngalahin Liona!”

Alden dari sofa ikut menggoda, “Tuh kan, baru ditinggal sebentar langsung tumbang.”

Elina tertawa kecil, memandangi mereka semua. “Kayaknya malam ini nggak akan selesai sebelum pagi,” katanya pelan pada Adera.

Adera hanya mengangguk, menatap keramaian itu dengan diam.

Tak lama kemudian, suami Elina datang, disusul oleh Rafan di belakangnya. Liona dan yang lainnya langsung tersenyum menyambut kedatangan mereka. Liona yang semula duduk hendak bangkit dan berlari memeluk kakak pertamanya itu, namun langkahnya terhenti ketika Adera lebih dulu memeluk Rafan erat.

Liona tidak jadi berdiri. Ia memilih tetap duduk, menatap keduanya dengan tenang dari tempatnya. Tapi matanya tak lepas dari Adera. Tatapan itu bertahan cukup lama, hingga pikirannya perlahan terbawa pada kejadian dua minggu yang lalu.

Waktu itu, temannya Bian sempat bercerita bahwa ia melihat seseorang yang sangat mirip dengan Adera di salah satu klub ternama di kota.

Ia bahkan mengatakan sempat mendapatkan nomor seorang wanita cantik yang bekerja di sana. Awalnya Bian tidak tahu bahwa wanita yang ia ajak kenalan itu adalah istri dari kakak Liona sendiri. Namun saat tanpa sengaja melihat foto keluarga Liona di ponselnya dulu, ia langsung mengenali wajah wanita itu.

“Namanya Kak Ocha,”

Liona sempat menolak keras cerita itu, mengatakan mungkin Bian hanya salah lihat. Tapi Bian bersikeras. Ia yakin dengan apa yang dilihatnya.

Rasa penasaran akhirnya membuat Liona mencari tahu sendiri.

Liona tak langsung percaya. Ia menolak keras, menganggap Bian pasti salah lihat. Tapi setelah beberapa hari, rasa penasaran membuatnya mencari tahu sendiri. Dan hasilnya... ternyata Bian tidak salah. Adera memang ada di sana.

Adera bekerja di tempat itu. Bekerja sebagai wanita penghibur, yang melayani para pria yang datang ke sana.









Follow instagram penulis: @wiwirmdni21
Tiktok: Wiwi Ramadani

Novel Transmigrasi Sang Ketua masih bisa dipesan yaa!!

Komen dong, saran, masukan atau apapun itu, keluarkan semuanya, aku suka baca komentar kalian(ʘᴗʘ✿)

JANGAN LUPA VOTE!

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang