VOTE DULU😾
Liona terbangun dengan napas sedikit berat. Udara di kamar terasa panas dan gerah, seperti ada selimut tebal menutupi seluruh ruangan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri di gelap.
Tidak ada angin dari AC.
Tidak ada suara kipas.
Tidak ada cahaya dari lampu kecil.
Listrik padam.
Liona meraih ponsel di nakas--gelapnya total membuat ia harus meraba pelan--dan menyalakannya.
Tidak ada apa pun yang menyala.
Baterainya habis.
“Great…” gumamnya kecil.
Liona bangkit perlahan, matanya mulai terbiasa dengan kegelapan. Ia melirik sisi kasur, tempat Abel tidur melingkar di sampingnya. Tapi kosong.
Ia bahkan sempat menunduk untuk mengecek lantai--takut Abel jatuh gara-gara posisi tidurnya yang sering berantakan--tapi tetap tidak ada.
“Anak itu kemana lagi…” bisiknya pelan.
Dengan langkah hati-hati, ia meraba dinding menuju pintu, berusaha tidak menabrak benda apa pun. Pintu terbuka perlahan, dan cahaya bulan dari dinding kaca besar ruang tengah masuk ke dalam.
Dengan cahaya itu, Liona bisa melihat semuanya.
Teman-temannya terlihat seperti sekelompok anak kecil yang ketiduran habis main seharian.
Lia tidur sambil memeluk lengan Abel.
Bian tidur dengan mulut terbuka.
Zeise menindih kaki Deo, sedangkan Deo sendiri seperti sudah menyerah dan menerima nasib.
Pemandangan itu membuat Liona tertawa tanpa suara.
“Mereka ini… tidur aja heboh.”
Ia melangkah pelan agar tak membangunkan mereka, menuju dapur kecil di lantai bawah. Ia mengambil gelas, mengisi air, dan meneguknya perlahan sampai habis. Tenggorokannya akhirnya terasa lega.
Tapi udara masih panas, dan kepalanya masih terasa sumpek.
Jadi ia berjalan ke arah pintu luar.
Udara di luar benar-benar gelap. Hanya cahaya bulan yang menggantung di langit, terpantul samar dari pasir dan dedaunan. Angin laut yang biasanya membawa kesejukan justru terasa hangat malam itu.
“Gelap amat…” gumamnya sambil memijakkan kaki ke tanah dingin.
Tapi ia tetap melangkah pelan.
Tidak ada suara manusia.
Tidak ada suara listrik.
Hanya suara serangga malam, desir angin, dan ombak jauh di belakang villa.
Liona menengadah, mencoba melihat sekitar. Cahaya bulan membuat bayangan pepohonan terasa lebih panjang, lebih sunyi, tapi anehnya membuat suasana semakin menenangkan.
Ia menarik napas panjang.
“Mau cari udara segar, malah suasananya kayak film horror,” ia menggerutu pelan, tapi bibirnya tersenyum.
Dan entah kenapa pikirannya melantur.
Siapa tau… ada teman tak kasat mata lewat ya… Ya minimal ngajak ngobrol?
Dia malah tersenyum sendiri membayangkan hal aneh itu.
“Tapi jangan yang serem-serem sih… yang lucu aja.” katanya sambil mengipas-ngipasi lehernya.
Sambil melangkah lebih jauh, ia baru menyadari satu hal: seperti ada yang memperhatikannya dari arah hutan yang dipenuhi pohon.
Dari awal sampai di sini, Liona memang sedikit mencurigai tempat itu, bagaimana tidak, di sana gelap, pohonnya tinggi dan batangnya besar besar bisa menutupi seandainya ada yang bersembunyi atau mengintai dari balik sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Misteri / Thriller❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
