Liona berdiri diam di depan kaca besar yang memisahkan dirinya dari ruangan steril di baliknya. Di dalam ruangan itu, Ilona, saudara tirinya, tampak duduk di kursi kecil di sudut. Wanita itu tengah menyisir rambut sebuah boneka tua dengan gerakan pelan, berulang-ulang, seperti terjebak dalam ritual yang tak berujung. Rambut boneka itu kusut, sebagian sudah hilang, tapi Ilona memperlakukannya seolah itu adalah harta paling berharga.
Mata Ilona kosong, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat. Wajahnya pucat, menyimpan bayangan luka yang dalam. Perutnya masih rata, tak menunjukkan tanda-tanda kehamilan seperti yang dikatakan Arion. Suasana ruangan itu dingin, hampir tanpa kehidupan, meskipun setiap sudutnya diawasi kamera dan dijaga ketat.
Liona memperhatikan dengan saksama, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ia menempelkan telapak tangannya pada kaca dingin itu, seolah berharap bisa menembus jarak dan langsung bertanya kepada Ilona. Namun, dia tahu, Ilona mungkin tidak akan memberikan jawaban yang diinginkannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Ilona?” gumam Liona pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Waktu seolah melambat di ruangan itu. Liona merasa seperti terhisap ke dalam keheningan yang mencekam, di mana hanya bunyi detak jantungnya yang menggema di telinganya.
Seorang dokter masuk, menghampiri Liona. "Nona Liona," katanya dengan nada formal, memecah kesunyian. “Kami masih menyelidiki klaim kehamilan Ilona. Tes medis awal menunjukkan tanda-tanda kehamilan yang signifikan.”
"Dia tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun di sini?" tanya Liona tanpa memalingkan pandangan. Mengabaikan ucapan dokter tadi.
Di sebelah dokter, seorang penjaga dengan seragam putih dan badge bertuliskan Mental Rehabilitation Center berdiri tegap. "Sejak ditempatkan di sini, tidak ada seorang pun yang masuk ke ruangan itu tanpa izin ketat," jawab pria itu dengan nada resmi. "Kecuali, tentu saja, insiden sebulan lalu."
Liona mengerutkan kening. "Insiden?"
Penjaga itu mengangguk. "Ilona sempat melarikan diri. Hanya beberapa jam, tapi cukup untuk membuat kekacauan. Kami menemukannya di luar area, di dekat jalan utama. Tidak ada yang tahu bagaimana dia bisa keluar atau ke mana dia sempat pergi."
Liona mengalihkan tatapannya sejenak, memproses informasi itu. "Dan setelah itu? Apakah ada yang mencurigakan?"
"Sejak kembali, dia lebih tenang, tapi juga lebih aneh," kata penjaga tersebut. "Dia sering berbicara sendiri, menyebut nama yang tidak kami kenal. Tapi tidak ada satu pun pengunjung atau staf lain yang pernah masuk ke ruangannya kecuali dalam pengawasan ketat."
Liona menoleh, matanya menyipit. “Bagaimana itu mungkin? Bukankah keamanan disini ketat?”
Dokter itu tampak ragu sejenak, lalu melanjutkan. “Kami menduga ini mungkin ada hubungannya dengan orang luar, Nona.”
Liona mengerutkan kening, pikiran-pikirannya berputar.
Dia menatap kembali ke arah Ilona. Wanita itu kini berhenti menyisir bonekanya dan malah berbicara padanya, seolah boneka itu bisa menjawab. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar dari balik kaca.
“Apa yang mereka lakukan padamu, Ilona?” bisik Liona, matanya dipenuhi tekad.
Tiba-tiba, Ilona berhenti berbicara. Ia menoleh perlahan ke arah kaca, langsung menatap Liona. Mata mereka bertemu. Ilona tersenyum kecil, senyum yang terasa begitu salah di wajahnya yang kosong. Dia mengangkat bonekanya, menunjukkannya kepada Liona, lalu berbisik dengan nada dingin, "Dia datang," bisik Ilona pelan, namun cukup jelas untuk terdengar. "Dia akan kembali, dan kau tak akan bisa menghentikannya."
Liona menahan napas, rasa dingin menjalari punggungnya. "Siapa yang kau maksud?" tanyanya tegas, meskipun tahu Ilona tak akan memberi jawaban yang jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Misterio / Suspenso❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
