Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

TSK2-34

1.2K 78 16
                                        

Vote dulu yaa, ini effort banget buat update demi kalian🗿

Seminggu kemudian, di villa milik keluarga Bian, Liona terpaksa ikut liburan karena dipaksa teman-temannya: Lia, Abel, Zeise, Bian, dan tentu saja Deo-meski anak itu sebenarnya tidak terlalu memaksa, hanya ikut menyetujui bahwa Liona sebaiknya ikut. Ya sudahlah, sesekali refreshing tidak apa-apa.

"Wehh itu kamar buat aku, coo!" seru Bian begitu melihat Lia dan Zeise langsung masuk ke kamar yang biasa ia tempati setiap kali ke villa.

"Alah, kamu kan udah biasa ke sini. Apa salahnya kamar ini jadi milik kami sementara?" jawab Zeise sambil tertawa.

Lia ikut mengangguk. "Lagipula kamu pasti sering pakai kamar ini. Nggak bosan?"

Bian menggaruk alisnya. "Bukan karena sering, tapi… itu kan kamar cowo."

"Yang penting belum pernah kamu pake buat tidur bareng cewek, kan? Aman-aman aja," timpal Lia sambil melirik Zeise.

Zeise mengangguk mantap. "Betul."

Bian menghela napas panjang. "Terserah kalian lah."

Liona ikut tertawa melihat tingkah mereka. "Siapa tahu aja kamar itu sebenarnya udah ditempatin banyak cewek. Bian kan laki-laki normal dan kaya lagi. Siapa yang nggak mau?"

"Bukannya ngefitnah, itu mah fitnah kelas berat, Lio!" Bian gelagapan, wajahnya memerah.

Liona hanya mengangkat bahu sambil menahan tawa. "Terus, aku sekamar sama siapa?"

Lia cepat menjawab, "Sembarang aja, Li. Kalau mau di sini bertiga, berempat juga boleh. Kasurnya luas banget nih."

Abel langsung protes. "Sama aku aja, deh. Dua bocah ini kalau tidur rese banget. Kadang nendang, syukur kalau nggak jatuh dari kasur."

"Emang iya?" tanya Zeise tidak percaya.

Abel mengangguk mantap, lalu menarik tangan Liona. "Ayo, kita di kamar sebelah. Pas banget, sebelahan sama mereka."

Mereka pun masuk ke kamar di sebelah kamar Bian-yang kini resmi direbut Lia dan Zeise. Sementara kamar Deo ada di lantai bawah.

Villa itu sendiri memiliki tiga lantai: lantai pertama berisi ruang tamu dan beberapa kamar, lantai dua memiliki dua kamar lagi, ruang karaoke, serta area bersantai, sedangkan di lantai paling atas yaitu rooftop terdapat kolam renang.

***

Menjelang malam, semuanya berkumpul di lantai dua, tepatnya di area bersantai. Layar TV sudah dinyalakan untuk karaoke. Lia, Abel, dan Deo sibuk bermain kartu, sementara Zeise dan Bian saling berebut remote karaoke sambil mencari lagu yang pas untuk mereka duetkan.

Berbeda dengan yang lain, Liona duduk di ujung sofa, memandangi ruangan. Sesekali matanya mengarah ke dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan pantai dan deretan pohon di luar. Dia tidak hanya melihat--dia memantau. Kebiasaan refleks yang sulit ia hilangkan setiap berada di tempat asing.

Tidak ada apa-apa sebenarnya, hanya… Liona selalu waspada.

"Liona, mau ikut main kartu nggak?" tanya Abel, memperhatikan Liona yang sejak tadi tampak seperti bosan padahal bukan itu maksudnya.

Liona menggeleng pelan. "Nanti, Bel. Kalian main dulu aja."

"Kamu mau keluar?" tanya Bian tiba-tiba.

Liona terdiam sejenak. Benar juga--dia bosan. Dan ide itu terdengar cukup menarik. Ia pun mengangguk. "Kayaknya iya deh. Sebentar, ya."

"Eh, eh… nggak takut?" tanya Zeise, memasang ekspresi khawatir.

"Takut?" Liona mengerjap. "Kenapa?"

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang