TSK2-35

871 62 21
                                        

Vote dulu!😾

Hari kedua dimulai dengan suara burung dan aroma laut yang menyelinap masuk dari celah jendela villa. Liona membuka mata lebih lambat dari biasanya, tubuhnya masih sedikit berat, tetapi suara heboh teman-temannya dari luar kamar memaksanya bangun.

"Liooo! Bangun! Kita ke pantaiii!" teriak Lia dari luar pintu, suaranya penuh energi.

Liona mengerjapkan mata dan mendesah pelan.
Baru juga bangun...

Tapi ia akhirnya bangkit dan bersiap. Celana pendek, kaus putih tipis, rambut diikat asal. Hari ini, ia memutuskan ikut saja alur mereka--meski tidak seantusias mereka.

***

Matahari sudah lumayan tinggi ketika mereka sampai di bibir pantai. Pasirnya bersih, lautnya biru, dan angin sepoi-sepoi membuat suasana terasa hidup.

Bian dan Zeise langsung lari seperti anak kecil melihat air.
"Yoookk kita balap berenang!"
"Hah ya ayo!!"

Lia dan Abel memilih duduk di tepi sambil melepas sandal dan mencelupkan kaki ke air. Deo menggelar tikar yang mereka bawa dari villa sambil menatap laut dengan wajah tenang seperti biasa.

Liona berdiri sedikit jauh dari mereka, membiarkan angin laut menyapu wajahnya.

Tempat ini indah sekali jika siang dan akan sangat tenang saat malam.

"Li, fotoin kamii!!" seru Lia sambil melambai.

Liona mengangguk dan mengambil ponselnya. Lia dan Abel berpose lucu, sementara Bian dan Zeise tiba-tiba muncul dari belakang mereka sambil memercikkan air ke arah kamera.

"Heh! Jangan sampe air kena HP-nya!" protes Abel sambil memukul Zeise pelan.

"Kan lucu fotonya..."

"Lucu-lucu! tapi jangan bikin air asin masuk kamera, goblog," kata Bian sambil tertawa.

Deo kemudian mendekati Liona. "Mau lihat laut dari dekat?" tanyanya, menunjuk ke batu-batu besar yang agak menjorok ke air.

Liona berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Boleh."

Mereka berjalan berdua ke bagian yang lebih tenang, tempat ombak hanya memukul lembut kaki mereka. Deo tidak banyak bicara, seperti biasanya, dan Liona merasa nyaman dengan itu.

"Capek?" tanya Deo setelah beberapa menit tenang.

"Lumayan," jawab Liona sambil menatap laut. "Tapi... bagus sih, pemandangannya."

Deo mengangguk kecil. "Iya. Enak buat mikir."

Liona mengangguk. "Iya bener sih,"

Deo hanya tertawa pelan dan tidak bertanya lebih jauh--sebuah sikap yang Liona syukuri.

***

Saat matahari mulai turun, semua kembali ke posisi masing-masing. Bian dan Zeise masih main air, Abel sedang main pasir dengan Lia (entah kenapa Lia sangat serius membangun kastil pasir), dan Deo duduk di tikar sambil memutar musik pelan.

Liona duduk di tepi air, membiarkan kaki dan betisnya tenggelam dalam ombak kecil. Ketika ia memejamkan mata, tiba-tiba-

BYUUR!

Air dingin menghantam punggungnya.

Liona tersentak, membuka mata lebar.
Zeise dan Bian berdiri sambil tertawa ngakak memegang ember kecil.

"Tadi kamu kelihatan kepanasan, Liooo!" seru Zeise.

Bian menambahkan, "Iyaaa jangan bengong ntar kesurupan laut!"

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang