TSK2-15

9.9K 531 324
                                        

Malam tiba, suasana di markas begitu sunyi dan damai. Hanya deru angin malam yang berhembus lembut di balik jendela, menyelubungi tempat itu dalam ketenangan yang tampak menipu. Siapa pun yang melihat dari luar tak akan pernah menduga bahwa di balik dinding markas ini berdiam para “monster” yang tersembunyi dalam diam, menunggu untuk bergerak di bawah komando pemimpinnya.

Liona terbangun di tengah malam. Ia memandang ke samping, mengharapkan sosok Arion berada di sana, namun tempat di sebelahnya kosong. Dia mengerutkan kening. Ke mana Arion?

Tanpa menunda, Liona bangkit dari kasur dan melangkah keluar dari kamar, rasa penasaran dan sedikit keresahan menggerakkan langkahnya. Hawa malam yang dingin menyapa kulitnya saat ia menyusuri koridor markas yang hening. Cahaya lampu temaram memberikan kesan yang menenangkan, namun juga membawa bayang-bayang samar yang bergerak di setiap sudut.

Liona terus melangkah, pandangannya berkeliling mencari sosok suaminya. Ia mengenal Arion dengan baik—dia bukan tipe yang tidur tenang sepanjang malam, terutama dengan ancaman The Rose yang semakin nyata. Bahkan Liona bisa menebak bahwa Arion pasti sedang mempersiapkan sesuatu, namun ia tak tahu persis di mana pria itu berada.

Sampai akhirnya, langkahnya terhenti di depan ruangan kontrol, pintu sedikit terbuka, memperlihatkan cahaya terang di dalamnya. Dengan hati-hati, Liona mendorong pintu, mengintip ke dalam.

Di sana, Arion berdiri di tengah ruangan, dikelilingi layar monitor besar yang memantau segala sudut wilayahnya. Sosoknya tegar dan tenang, tetapi mata tajamnya memancarkan ketegangan yang terselubung, seolah berhadapan langsung dengan musuh yang tak terlihat.

Liona berjalan mendekat dengan langkah ringan, dan saat ia tiba di sampingnya, Arion tampak menyadari kehadirannya. Ia menoleh, menatap Liona dengan sorot mata lembut yang berbeda dari tatapan tajam yang ia perlihatkan sebelumnya.

“Tidak bisa tidur?” Arion bertanya, suaranya rendah namun penuh perhatian.

Liona menghela napas, menatap monitor-monitor di hadapannya yang menampilkan peta wilayah dan informasi tentang The Rose. “Aku mencarimu,” katanya jujur, matanya menelusuri ekspresi serius di wajah Arion. “Apa kau masih memikirkan kelompok itu?”

Arion mengangguk pelan, mengalihkan pandangannya kembali ke layar. “The Rose bukan sekadar ancaman bagi wilayah kita,” katanya dengan nada dingin namun penuh tekad. “Mereka adalah duri dalam hidup kita. Aku tak bisa tidur tenang selama mereka masih bebas berkeliaran.”

Liona mengamati Arion dalam keheningan, memahami kekhawatiran yang tertanam dalam suaminya. Ia meraih tangan Arion, menggenggamnya erat sebagai bentuk dukungan. “Kita akan menghadapi mereka bersama. Kau tahu aku juga punya urusan yang belum selesai dengan mereka,” ucapnya, suaranya terdengar tenang namun menyimpan kekuatan yang tak tergoyahkan.

Liona menatap Arion sejenak, lalu dengan manja, dia melangkah lebih dekat dan duduk di pangkuan suaminya, mengalihkan perhatiannya dari monitor. "Apa monitor-monitor itu lebih penting daripada istrimu ini, hm?" tanyanya dengan nada menggoda, sambil sedikit mengerucutkan bibirnya.

Arion mengangkat alis, seolah sedang menahan tawa. Dengan setengah menghela napas dan senyum yang mulai muncul di sudut bibirnya, dia mendengus pelan. “Jadi sekarang aku dituduh mengabaikan istri cantikku demi seonggok layar?” jawabnya pura-pura serius, tapi ada tatapan geli di matanya.

Tanpa peringatan, Arion menunduk sedikit dan meniup lembut dahi Liona, membuat wanita itu terkikik, senyumnya semakin lebar. “Kau itu benar-benar ya…” kata Liona, sambil menepuk ringan bahu Arion.

“Aku hanya memastikan wanitaku ini bisa tidur nyenyak,” balas Arion, tangannya melingkari pinggang Liona dengan lembut. “Dan jika itu berarti aku harus duduk di sini sepanjang malam, maka aku akan melakukannya.”

Liona tersenyum lembut, rasa aman dan nyaman menghangatkan hatinya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Arion, menikmati detak jantungnya yang tenang. Di bawah ketegasan yang sering Arion perlihatkan, Liona tahu bahwa di dalam hatinya, pria itu selalu memikirkan keselamatannya.

“Jangan terlalu serius, Arion. Aku di sini, dan kita hadapi ini bersama,” bisiknya.

Arion tersenyum lembut, tatapannya melunak saat melihat Liona yang semakin nyaman di pelukannya. Dengan jemarinya yang hangat, ia mengusap kelopak mata Liona dengan lembut, seolah menenangkan setiap resah di hatinya. "Kamu mau tidur di sini?" bisiknya pelan, suaranya rendah dan menenangkan.

Liona mengangguk, memeluk leher Arion erat, wajahnya bersandar di bahunya. "Wangi kamu itu ngangenin, tau," katanya dengan suara lembut namun jujur, membuat Arion terkekeh kecil. "Setiap di kelas, aku cuma bisa mikirin kamu. Yang ada di pikiranku itu nyuruh aku lari ke kelas kamu dan meluk kamu." Liona menggigit bibirnya, malu mengakui itu, tapi ia tak bisa menahan perasaan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Arion menahan senyumnya yang makin lebar, perasaannya hangat mendengar pengakuan polos istrinya. "Kamu benar-benar manis," ujarnya, jemarinya mengusap lembut punggung Liona. "Kalau aku tahu kamu sering mikirin aku gitu, mungkin aku bakal langsung datang ke kelasmu dan bawa kamu pergi," tambahnya dengan nada menggoda, membuat pipi Liona merona.

Liona tertawa kecil, namun semakin mengeratkan pelukannya. "Kalau kamu begitu, aku pasti ikut tanpa mikir," bisiknya, lalu perlahan menutup matanya, membiarkan kenyamanan dan rasa aman di dekapan Arion menuntunnya kembali pada kantuk yang tadi sempat menghilang.

Arion menatapnya sejenak, membiarkan kehangatan dalam dadanya meresap lebih dalam. Ia mengecup kening Liona lembut, lalu memeluknya erat, memastikan istrinya tenang dalam pelukannya di ruangan kontrol itu, terlindungi dari semua ancaman di luar sana. Bagi Arion, tak ada yang lebih penting daripada membuat Liona merasa aman.

Liona bergumam pelan, “Aku mau tahu keadaan saudara tiriku, si Ilona itu. Kata Arabella, dia makin gila,” ucapnya, sambil menahan tawa kecil. Setelah mengatakan itu, senyuman samar menghiasi wajahnya, berubah menjadi seringai dingin.

Arion yang berdiri tak jauh darinya mengangkat alis, memerhatikan ekspresi Liona dengan penasaran. “Kamu masih peduli dengan dia, huh?” tanyanya setengah mengejek.

Liona menatap Arion sekilas, senyumnya semakin melebar. “Peduli? Tidak juga. Aku hanya ingin memastikan dia tahu rasa sakit yang pernah dia buat aku rasakan dulu.” Mata Liona berkilat dingin, menunjukkan tekad tersembunyi di balik wajah tenangnya.

Arion tertawa kecil, menyadari bahwa Liona tak sekadar ingin tahu, tapi ingin memastikan sesuatu terjadi pada Ilona. "Kalau begitu, beri aku sedikit waktu. Aku akan pastikan kita dapat informasi terbaru tentang keadaan Ilona," katanya, menatap Liona dengan tatapan tajam.

***

Setelah beberapa saat berkutat dengan laptop di samping monitornya, Arion akhirnya mempererat pelukannya. Dengan gerakan lembut, dia mengusap punggungnya, memberikan rasa hangat yang tiba-tiba. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar, Arion berkata pelan, "Oh, ada satu hal lagi yang mungkin menarik buatmu… Ilona hamil."

Liona terperangah, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Matanya membulat, pikirannya segera berputar liar. Ilona… hamil? Gumam Liona dalam hati, berusaha merangkai kepingan informasi yang ia tahu tentang saudara tirinya itu. Sejenak, terlintas dalam benaknya, mungkin Ilona sering tidur dengan Gama, kekasihnya, atau mungkin… bahkan Iwan, saudaranya sendiri.

Namun, makin ia memikirkannya, makin banyak pertanyaan yang muncul. Anak siapa sebenarnya yang sedang Ilona kandung sekarang? pikirnya, alisnya berkerut dalam kebingungan yang tak bisa ia sembunyikan.

Arion memperhatikan ekspresi Liona yang tak biasa. “Kaget?” tanyanya, setengah tersenyum. “Dunia mereka memang lebih rumit dari yang kita bayangkan.”

Liona tersenyum samar, namun matanya dipenuhi keingintahuan yang semakin mendalam. "Kau bisa cari tahu lebih banyak lagi, kan?” tanyanya penuh harap pada Arion.

Arion menepuk bahunya perlahan, menandakan bahwa dia sudah mengerti apa yang Liona inginkan. “Serahkan saja padaku. Aku akan gali lebih dalam tentang siapa yang sebenarnya ada di balik itu semua.”



#tbc
Follow ig: @wiwirmdni21 (wajib)😭🙏

Follow tiktok: @Wiwi Ramadani

KOMEN DOONG YANG BANYAKKK HIHI😖🖤 SPAM NEXT!!

JANGAN LUPA VOTE🖤

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang