TSK2-03

20.6K 1.1K 111
                                        

Follow akun wattpad author WiwiRamadani

Vote dulu yaaa

Liona melangkah memasuki lingkungan penjara dengan langkah pasti. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, namun matanya penuh dengan tekad yang tak terbendung. Suara derit pintu besi terdengar nyaring saat penjaga membuka pintu untuknya, dan Liona melangkah masuk tanpa sedikit pun rasa gentar.

Di balik jeruji besi yang kusam, Hendra, ayah Liona, duduk termenung. Wajahnya lelah, kerutan di dahinya semakin dalam seiring waktu yang dia habiskan di penjara. Matanya redup, namun ketika dia merasakan kehadiran seseorang di hadapannya, kepalanya terangkat perlahan. Pandangan mereka bertemu, dan Hendra langsung mengenali sosok itu.

Liona berdiri di depan sel dengan tatapan dingin yang menusuk, kedua tangannya terlipat di depan dada. Bibirnya menyeringai sinis, membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat.

"Liona," gumam Hendra, suaranya berat namun terdengar penuh ketidaksukaan. "Kenapa kamu ke sini?"

Liona tidak segera menjawab. Dia membiarkan keheningan menggantung di antara mereka, menikmati momen di mana ayahnya yang dulu berkuasa kini tampak begitu lemah dan tak berdaya. Perlahan, dia mendekatkan wajahnya ke jeruji besi, senyum tipis yang penuh ejekan menghiasi wajahnya.

“Apa aku tidak boleh melihat keadaan ayahku yang malang?” desis Liona, suaranya tenang namun penuh sindiran. "Tampaknya, penjara cocok untukmu. Kamu terlihat... menyedihkan."

Hendra menatap putrinya dengan tatapan tajam, amarah tersirat di matanya. “Jangan bermain-main denganku, Liona. Aku tidak butuh simpati dari anak durhaka sepertimu.”

Liona terkekeh pelan, senyum di wajahnya semakin lebar. Dia menatap ayahnya seperti predator yang mengawasi mangsanya. "Simpatiku?" Dia tertawa dingin. "Oh, ayah... Jangan berharap aku punya simpati untuk pria yang hanya tahu bagaimana menghancurkan hidup orang lain. Apalagi hidupku."

Hendra mengerutkan kening, wajahnya semakin tegang. "Apa yang kamu inginkan?"

Liona memiringkan kepalanya sedikit, seringai di bibirnya tak pernah pudar. "Aku hanya ingin memastikan kau menderita... seperti seharusnya."

Hendra bangkit dari duduknya, langkahnya mendekati jeruji besi dengan tatapan penuh kemarahan. "Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja? Kamu pikir aku takut padamu?"

Liona tidak mundur. Dia tetap berdiri di tempatnya, menatap ayahnya dengan dingin. "Bukan soal kau takut atau tidak, ayah. Ini soal keadilan. Keadilan untuk semua hal yang telah kau lakukan, bukan hanya padaku, tapi pada ibu, dan semua orang yang terjebak dalam permainan kotormu."

Hendra mendengus marah. "Kamu tidak tahu apa-apa."

"Aku tahu lebih dari yang kau pikirkan," balas Liona dingin. "Dan aku akan pastikan, kau tidak pernah keluar dari tempat ini."

Mata Hendra menyala penuh amarah, tapi di balik kemarahannya, ada sesuatu yang menyeruak—kekalahan. Dia tahu bahwa Liona tidak akan berhenti sampai dia mencapai tujuannya. Dan sekarang, dia berdiri di hadapannya, bukan lagi sebagai anak yang takut, tapi sebagai seseorang yang lebih kuat, seseorang yang telah meninggalkan masa lalunya.

Liona menatap ayahnya sekali lagi, kemudian berbalik pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Namun, sebelum dia melangkah keluar, dia berhenti sejenak dan menoleh. "Nikmati waktumu di sini. Karena ini baru permulaan."

Tanpa menunggu jawaban, Liona melangkah keluar, meninggalkan Hendra yang masih berdiri di balik jeruji, terjebak dalam dunianya yang semakin hancur.

Hendra mendengus sinis, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya di hadapan putrinya sendiri. Tapi tiba-tiba, dia berkata sesuatu yang membuat langkah Liona terhenti.

TRANSMIGRASI SANG KETUA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang