Malam telah larut, tetapi suasana di ruang televisi masih dipenuhi gelak tawa dan suara kartu yang ditebarkan di atas meja. Empat manusia duduk berhadapan, tenggelam dalam permainan yang telah berlangsung hampir satu jam.
Liona menyeringai puas, matanya berkilat penuh kemenangan saat menatap Arion yang lagi-lagi menatap kartu di tangannya dengan pasrah. Kekalahan telaknya yang kesekian kali membuatnya frustrasi, sementara Liona dan dua pria lain di ruangan itu tampak menikmati penderitaannya.
"Kalah mulu," ujar Liona sambil menyandarkan punggungnya ke sofa, ekspresinya mengejek. "Gatau cara mainnya?"
Arion menghela napas, lalu menatap Liona dengan mata yang tampak lelah, tapi bibirnya melengkung dalam senyum menggoda. "Aku kan nggak pernah main kayak gini, sayang..."
Liona tertawa, mengangguk dengan santai. "Trus, kamu tau main apa?"
Arion tidak langsung menjawab. Alih-alih, dia menatapnya dalam-dalam sebelum bibirnya bergerak tanpa suara, hanya membentuk kata-kata yang hanya bisa dibaca oleh Liona.
"Mainin kamu."
Liona langsung membeku. Senyumnya pudar, matanya membulat sesaat sebelum ekspresinya berubah tajam. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.
Sialan.
Pria di hadapannya itu hanya duduk santai, wajahnya polos seolah tak terjadi apa-apa. Namun, di balik ketenangannya, ada sesuatu yang bermain dalam sorot matanya.
Alden dan Arka masih sibuk bertarung sengit, berdebat soal strategi dan saling meledek untuk merebut posisi pertama. Mereka sama sekali tak menyadari percakapan diam-diam yang terjadi di antara Liona dan Arion.
Liona mengerjap, berusaha memastikan dia tidak salah membaca. Tapi saat matanya kembali bertemu dengan tatapan Arion, cowok itu hanya mengangkat bahu kecil, seolah berkata, Ya, kamu nggak salah baca.
"Gak salah kok, emang bener." ucap Arion akhirnya, suaranya terdengar ringan, tak ada beban sama sekali.
Liona masih menatapnya tajam, tapi sudut bibirnya perlahan terangkat. Ada tantangan di sana, ada ketertarikan yang tak bisa ia abaikan.
Dengan gerakan santai namun penuh intensitas, dia menyandarkan kartu-kartunya ke meja, lalu mencondongkan tubuh ke arah Arion. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci, napas Liona terasa hangat saat menyentuh kulit Arion.
Cowok itu tetap diam, tapi matanya jelas mengikuti setiap gerakan Liona.
Liona mendekat lebih lagi, lalu berbisik tepat di telinga Arion, suaranya lembut namun sarat dengan tantangan.
"Apa kau menantangku, sayang?"
Arion menelan ludah. Sekilas, ekspresinya masih santai, tapi Liona menangkap bagaimana rahangnya sedikit mengeras.
Sebuah kemenangan kecil.
Arion menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Liona yang masih dekat dengannya. Bibirnya kembali melengkung dalam seringai tipis sebelum dia akhirnya membalas, suaranya rendah dan dalam.
"Aku selalu siap buat permainan yang lebih seru, Liona."
Liona menyipitkan matanya, seringai di wajahnya semakin melebar. Dia tidak mundur. Malah, dia semakin mendekat, membiarkan ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan Arion.
Tatapan mereka terkunci, udara di antara mereka mendadak terasa lebih panas, lebih padat dengan ketegangan yang hanya mereka berdua yang mengerti.
"Permainan yang lebih seru, huh?" gumam Liona pelan, nada suaranya terdengar seperti tantangan terselubung.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI SANG KETUA 2
Mystère / Thriller❝Menggoda dengan manis, menyerang dengan tajam.❞ -Liona Hazel Elnara
