10.

51 4 0
                                        

Pagi harinya, saat Jwan bangun tidur, dia masih merasakan dadanya berdenyut nyeri.

"Awkh, kenapa masih sakit ya? Awkhh," Jwan beraktifitas sambil menahan nyeri didadanya.

Yogi yang daritadi memperhatikan Jwan, begitu penasaran dan bertanya.

"Bang, lu kenapa? Kok kayak nahan sakit gitu," tanya Yogi menghentikan aktifitasnya memotong bawang.

"Gak tau Yog, dari semalem ni dada gue sakit banget. Nyut-nyut nyeri gitu," jawab Jwan jujur.

"Wah, bahaya bang. Mening kita periksa dulu ke bidan sebelah. Takutnya kenapa-napa," ajak Yogi, dia membasuh tangannya.

"Ya udah yok, anterin gue," Jwan melangkah kekamarnya untuk mengambil sweaternya.

"Jake, tolong selesein masakan ini, gue mau nganterin bang Jwan dulu!," perintah Yogi.

"Mau kemana bang," tanya Jake yang muncul dari kamarnya.

"Mau periksa ke bidan bentar," jawab Yogi sambil meraih kunci motornya.

"Lah, siapa yang sakit bang?," Jake panik.

"Bang Jwan, dadanya katanya sakit tiba-tiba dari semalem," jawab Yogi singkat sambil berjalan keluar rumah dan memanaskan motornya. Sedangkan Jwan sibuk memegangi dadanya yang kian sesak dan sakit.

"Ahhh, hati-hati bang, semoga gak ada apa apa," pesan Jake yang direspon acungan jempol oleh Yogi.

Yogi dan Jwan berangkat ke rumah bidan yang berjarak 1,5 kilometer dari rumah mereka.

Sesampainya dirumah bidan, Jwan dan Yogi langsung masuk.

"Assalamualaikum, permisi," Yogi memencet bel.

Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam dan pintu terbuka.

"Waalaikum salam, eh nak Yogi nak Jwan, silahkan masuk," ajak bidan tersebut.

"Ada keluhan apa nak Yogi nak Jwan?," tanya bidan tersebut sambil mengambil stetoskopnya.

"Ini dok, tiba-tiba aja dada saya sakit dari semalem. Rasanya sesak dan nyut-nyutan gitu," Jwan menjelaskan apa yang dia rasakan.

"Oh, begitu. Coba saya cek dulu," bidan tersebut mengecek detak jantung Jwan, lalu mengecek tensi Jwan.

"Tensi nya normal, detak jantungnya juga normal, tidak ada yang salah nak Jwan," bidan tersebut memberi tahu.

"Masa sih bu? Kok ini sakit banget ya?," Jwan masih tak mengerti.

"Saya juga kurang tahu, saran saya, nanti nak Jwan ke rumah sakit saja diperiksakan. Soalnya disini minim alat. Saya takutnya ada penyakit dalam yang sulit terdetek," ujar bidan.

"Tapi sebagai pereda sementara, saya kasih beberapa tablet obat dan oksigen portable untuk meredakan sesaknya," bidan tersebut menyerahkan obat dan oksigen portable dari dalam laci miliknya.

"Baiklah kalau gitu bu, terima kasih. Nanti saya akan coba periksa ke rumah sakit, mohon maaf mengganggu pagi-pagi bu," ucap Jwan. Dia memberikan uang 100rb.

"Dak usah nak Jwan, gak papa. Ini cuma periksa biasa, ga usah bayar. Saya saranin, secepatnya periksa kerumah sakit ya, khawatir itu serius soalnya. Apalagi berhubungan dengan jantung," bidan tersebut menolak uang dari Jwan.

"Eh beneran bu gapapa? Ini saya gak enak, mana udah gangguin pagi-pagi," Jwan mencoba membuat bidan tersebut mengambil uangnya.

"Udah gak papa nak Jwan, ini bukan apa apa. Lagian, ini udah kewajiban saya sebagai pekerja kesehatan untuk melayani pasien," bidan tersebut kekeuh.

Youth : PsychoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang