Yogi dan Sonia masih berjalan-jalan melihat buku-buku yang terpajang rapih di setiap stand.
"Mas, liat ini! Ini adalah buku Jenseits von Gut und Böse, karya filsafat-sastra yang ditulis oleh Friedrich Nietzsche pada tahun 1886. Kamu pernah baca?," tanya Soni sembari memperlihatkan bukunya.
Yogi mengambilnya, lalu menelintik buku tersebut.
"Hemm, aku tau buku ini. Tapi belum pernah baca. Kamu mau ini?," tanyanya.
Sonia mengangguk semangat.
"Oke, kita beli."
Tanpa pikir panjang, Sonia membayar buku itu.
"Aku sudah dapat 4 buku mas. Kamu masih mau nambah?," tanyanya.
"Emmm, aku lagi nyari buku Filsafat Berkeley. Tapi belum nemu," jawab Yogi sambil celingukan.
"Ohhh, oke. Kalo gitu, ayo kita cari!."
Yogi mengangguk, mereka kemudian berjalan menelusuri kembali pameran tersebut.
Namun, tanpa mereka sadari, sedari tadi ada 1 pasang mata yang memperhatikan dan bahkan mengikuti mereka berdua.
Di saat mereka sedang menelusuri stand, Jake dan Una tiba-tiba datang menghampiri.
"Eh, bang! Lo ke sini juga?," tanya Jake, padahal dia sudah tahu kalau Yogi pergi kemana.
"Cailah, laga Lu Juki. Lu kan tau kalau gua mau pergi ke sini."
"Ehehehehe, basa-basi atuh bang," Jake terkekeh.
"Widih, kalian beli buku banyak amat," lanjutnya sembari menatap kantong belanjaan yang ditenteng Sonia dan Yogi.
"Hehe, buat tabungan Jake," jawab Sonia.
Una ternganga.
"Woahh, kak Sonia suka baca buku juga?," tanyanya.
"Hihi, iya Na. Aku suka baca buku, terutama filsafat."
"Wahhh, keren. Aku juga suka baca, tapi bukan filsafat. Lebih ke buku-buku sejarah."
"Wahh, iyakah? Itu bagus Na, aku juga suka sejarah."
"Kamu gak pernah bilang sama aku Na," rajuk Jake.
"Hihi, kan kamu gak nanya Jake," jawab Una nyengir.
"Kkkkk, makanya kalau mau pdkt itu, tanyain semua kesukaannya Juk! Jangan malah sibuk ngegombal garing!," ledek Yogi.
"Yeeeu, lu bang. Gua mah nyesuain profesi gua. Gua kan suka bikin puisi."
"Lagak lu profesi."
Jake memeletkan lidahnya.
"Eh, kalau gitu, kita cari buku sama-sama yu! Biar tambah rame," ajak Sonia.
"Yah, Son, masa ngajak mereka juga si?," keluh Yogi.
"Loh, kenapa mas? Kan biar seru."
"Huhhh, bucin. Dia maunya berduaan terus sama kamu Kak Son," ledek Jake balik.
"Lah biarin, pacar-pacar gua ini!," bela Yogi.
Jake mendengus, sementara Sonia tersipu malu.
"Emang iya kak, kalian pacaran?," tanya Jake memastikan.
Sonia mengangguk malu.
"Hihh, bocah. Udah pergi sono!," usir Yogi.
"Ish, iya iya! Gua juga mau pergi kok. Yo ay,!," Jake menarik lengan Una.
"Eh?," Una terkejut. Bukan karena tarikan tangan Jake, tapi karena sebutan Jake yang memanggilnya 'Ay'.
"Hahahaha, lu kalo belum jadian jangan ngaku-ngaku ayang Juk! Miris banget idup lu!," ledek Yogi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Youth : Psycho
Fiksi PenggemarTrilogi dari kisah Smeraldo Universe. 1.Youth : Psycho 2.Smeraldo Flower 3.Moonchild : The Legendary Of Black Swan ~ Banyak orang yang mendapatkan cinta mereka kembali dengan berbagai macam cara. Ada yang mudah, sulit, aneh, biasa, bahkan ada yang t...
