Chan baru saja pulang kerumah, saat ini pukul 10 malam.
Beberapa satpam disana membukakan pintu dan memasukkan mobil Chan kedalam garasi. Sementara yang punya mobil masuk kedalam rumah tanpa mempedulikan mereka.
"Sayang, kamu baru pulang? Ibu menunggumu makan," seorang wanita paruh baya dengan mata sipit menyambut Chan.
"Ibu kan sudah tahu, aku selalu pulang malam. Kenapa menungguku? Makan saja sendiri. Atau ajak Zuwi-mu itu!," tanggap Chan dengan intonasi sedikit tinggi.
Hah? Zuwi?
"Jaga bicaramu Chan!," pria paruh baya yang merupakan ayah Chan turun dari tangga.
"Cih," Chan mendecih dan memalingkan wajahnya.
"Dia adalah ibumu! Apa kau tak punya sopan santun yang diajarkan oleh keluarga ini??!!!," bentak Ayahnya.
"Hah...urus saja besan muliamu itu tuan Jonathan!!! Jangan sok peduli padaku!!!," Chan melangkah melewati ayahnya, bahkan menabrak bahunya.
Ayahnya menatap Chan tajam, namun segera ditenangkan istrinya.
Dia menghelas nafas kasar. Chan menjadi anak brengsek dan durhaka.
***
Keesokan harinya, dirumah Joana.
Dia sedang sarapan bersama papa mamanya.
"Hari ini kamu jadi bantuin pindahan temen kamu Jo?," tanya mamanya sembari mengoleskan selai keatas rotinya.
"Jadi Ma, nanti Jwan mau jemput Jo," Joana meminum susu coklatnya.
"Cieeee, bucin banget sih puteri mama ini," goda mamanya sembari meletakkan satu potong roti diatas potongan yang sudah dikasih selai.
"Apaan sih ma," pipi Joana memerah.
"Hahaha, mama mu juga sama kayak kamu kok Jo dulu. Dia bucin parah sama Papa," Papa menggoda balik istrinya.
"Ishhh Papa mah suka bongkar kartu," Mama memukul pelan lengan suaminya.
Joana terkekeh.
"Daripada bongkar istri orang hayoh!," goda Papa lagi.
Mama Ratna malah melotot pada suaminya, dan itu berhasil membuat Joana tertawa.
"Ehehehe, iya iya canda ma. Serius amat si,kkkkk," Papa memasang mode defensif dari pukulan istrinya.
"Eh Jo, emang temen kamu kenapa, kok pindahan?, tanya Papanya mengalihkan pembicaraan.
"Itu keinginan pacarnya Pah. Sama kita juga si. Soalnya rumah mereka yang lama udah usang banget. Terus juga bahaya," Joana mengambil satu potong roti lagi.
"Loh, bahaya kenapa?," Mama ikut nimbrung.
"Dia punya masalah sama temen sekolahnya. Semacam bullying gitu. Kita takutnya itu berlanjut sampe diluar sekolah," Joana mengoleskan selai coklat.
"Ahhhh, gitu. Ih, zaman sekarang kok bullying malah makin banyak ya pah? Zaman kita dulu gak ada," Mama menoleh pada suaminya.
"Ya iyalah Ma. Zaman kita dulu, zaman senggol bacok. Ada yang nyenggol dikit, malah kita yang pastiin mereka gak masuk sekolah besoknya. Hahahaha," papa terkekeh mengingat masa lalunya.
"Ih papa. Dasar. Tapi, iya juga sih. Mama dulu juga gitu. Kalo ada yang berani nyenggol, udah mama gedorin pala nya ke tembok," ujar Mama antusias.
"Serem tau mama mu dulu Jo," bisik Papa. Mama mendelik, Joana terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Youth : Psycho
FanfictionTrilogi dari kisah Smeraldo Universe. 1.Youth : Psycho 2.Smeraldo Flower 3.Moonchild : The Legendary Of Black Swan ~ Banyak orang yang mendapatkan cinta mereka kembali dengan berbagai macam cara. Ada yang mudah, sulit, aneh, biasa, bahkan ada yang t...
