32.

33 2 0
                                        

Jackson mengantarkan Joana pulang setelah tangisannya reda dan dia cukup tenang.

"Lo ademin dulu pikiran sama hati lo Jo. Gue yakin si Jwan juga gitu. Jadi, jangan coba-coba buat ngusik dia dulu, atau dia malah akan tambah ilfeel sama lo," Jackson memberi nasihat.

Joana mengangguk, dia kemudian turun dari mobil Jackson. Setelah itu, Jackson menjalankan kembali mobilnya menuju Depok, untuk kembali ke rumah neneknya dan Joana.

Sesaat setelah masuk ke dalam rumah, Joana dikagetkan dengan sosok yang selama ini dia rindukan, tapi sekaligus dia takuti. Yah, dia adalah kakak kandungnya, Tiffany.

Tiffany terlonjak kaget dengan kedatangan Joana.

"Elo!!!??? Ngapain masih dirumah ini hah?!!!! Ohhhh, bener dugaan gue, Papa sama Mama cuma ngebujuk dan nipu gue!!," ucap Tiffany skeptis.

Joana tergagap, takut akan apa yang akan dilakukan kakaknya kali ini.

"Ka-kak."

"Jangan panggil gue kakak! Gue gak sudi punya adik pembawa sial kayak lo!," Tiffany mendekati Joana, lalu dengan cepat menjambak rambutnya.

"Akhhhh, kak, s-sakit," rintih Joana.

"Sekarang lo pergi dari rumah ini! Kemasi barang-barang lo! Dan jangan pernah berfikir buat balik lagi kesini!!," Tiffany menyeret Joana ke lantai 2 dimana kamar Joana berada.

Dia membanting Joana hingga gadis itu tersungkur.

"Cepet kemasi barang-barang lo! Sebelum gue panggil orang-orang gue dan perlakuin lo lebih kasar lagi!," bentaknya memerintah.

"Kak, aku mohon, jangan begini kak, aku adik kamu kak," mohon Joana hendak mendekati Tiffany.

"Jangan dekat-dekat! Beresin barang-barang lo atau gue lakuin sesuatu yang lebih lagi!!!," Tiffany menunjuk.

Bibi art keluarga Aditya berlari ke atas mendengar teriakan nona muda nya.

"Non," Bibi terkesiap sesaat melihat wajah marah nona mudanya itu.

"Apa Bi?!! Bibi mau bantuin dia?! Bibi mau saya pecat hah?!," ancamnya.

Bibi tak mempedulikan hal itu, dia menerobos masuk ke dalam kamar Joana dan melihat nona muda satunya sedang mengemasi baju-bajunya.

"Non, saya bantu ya non, saya akan temani non," ucap Bibi membantu melipat baju-baju Joana.

"Bi, bibi gak usah bantuin. Bibi butuh pekerjaan bi. Udah aku gak papa bi," larang Joana.

Tiffany memutar bola malas melihat interaksi lebay kedua orang itu. Dia pergi ke bawah lagi dan menunggu Joana.

"Non, saya lebih baik gak kerja di sini kalau non pergi. Non sudah saya anggap seperti anak saya sendiri non. Apalagi kalau sekarang ada non Tiff, saya gak mau kerja di sini non," Bibi masih melipat baju milik Joana.

Joana menatap art-nya itu sendu, ada rasa tak enak melihat art kesayangannya itu terkena getahnya.

Kata-kata 'Pembawa Sial' yang dilontarkan kakaknya seakan-akan adalah kenyataan. Dia membawa hal buruk bagi siapapun.

"Tapi Bi..."

"Udah Non, pokoknya saya akan ikut sama non kemanapun non pergi. Saya gak peduli soal gaji atau pekerjaan. Saya gak akan ninggalin non sendirian."

Bukan tanpa alasan Bibi begitu kekeuh ingin ikut bersama Joana. Pasalnya, dia pernah melihat Joana yang ingin menghabisi hidupnya sendiri dengan loncat dari balkon kamarnya. Dia tak mau Joana sampai mengulangi hal itu.

Setelah mereka berdua mengemasi barang-barang Joana, Bibi meminta izin untuk mengemasi barang-barangnya juga. Joana menunggu didepan kamarnya.

Tak lama kemudian, Bibi sudah selesai dan menghampiri Joana lagi.

Youth : PsychoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang