34.

34 3 0
                                        

Raka dan Ratna sampai di Depok, tepatnya di rumah orang tua Ratna.

Satpam membukakan gerbang untuk Raka dan Ratna.

"Selamat datang Tuan, Nyonya," sapanya.

Raka dan Ratna mengangguk tersenyum, namun masih menampakkan wajah khawatir.

Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah. Namun mereka terkejut, karena Tn.Bram berdiri menyambut mereka dengan wajah datar dan tatapan tajam.

"A-ayah," ucap Ratna kaget dan gugup.

Tn.Bram tak menjawab, dia berbalik dan melangkah pergi menaiki tangga, dia berjalan dibantu tongkat nya.

Raka dan Ratna saling melempar tatapan dengan heran.

"Sayang, sepertinya Joana memang ada di sini," ucap Raka.

Ratna mengangguk, kemudian mereka menyusul Tn.Bram naik ke lantai 2.

Tn.Bram berdiri di samping kamar yang suka ditempati Joana jika berkunjung ke sana. Kamar bekas Ratna dulu.

"Dia sedang sakit, Ibumu sedang merawatnya di dalam bersama Teti," ucap Tn.Bram dingin.

Ratna dan Raka membulatkan mata, mereka semakin panik.

"Hah? Dia sakit? Ayah, aku mau lihat puteriku," Ratna menghampiri ayahnya.

Tn.Bram menyingkir, lalu Ratna masuk ke dalam diikuti suaminya.

Oma dan Bi Teti menoleh, melihat Raka dan Ratna masuk ke dalam kamar.

Ratna menganga tak percaya melihat anak gadis bungsunya terbaring lemah di atas kasur. Di keningnya tertempel pereda panas. Wajahnya pucat dan dia menggigil.

"Joana,"lirihnya mendekati anak gadisnya.

Oma memperhatikan puteri bungsunya, matanya menatap kecewa pada Ratna.

"Dia datang ke sini malam-malam, dia menangis karena di usir oleh kakak kandungnya sendiri. Aku tak tahu apa yang sudah dilakukan oleh anak sulungmu itu padanya! Aku sudah memperingatkan kalian, tapi kalian tak mendengarkan," ucapnya tanpa melihat ke arah Ratna maupun Raka.

Ratna menoleh pada ibunya.

"Maafin aku Bu," ucapnya kemudian menoleh pada anak gadisnya yang sedang berusaha terlelap.
Ratna mengelus pipi kanan Joana.

"Sayang," lanjutnya mencium pipi kiri Joana lembut.

Panas.

Ratna melotot, tubuh Joana panas sekali.

"Papa, tubuhnya panas sekali," Ratna menoleh pada suaminya.

Raka mendekat, dia mengecek suhu tubuh Joana.

"Panas sekali, sayang, ayo kita bawa Joana ke rumah sakit," ajak Raka.

"Aku sudah memanggil dokter dari rumah sakit. Joana akan dirawat di sini saja. Aku tak mau mengambil resiko jika anak sulungmu akan menyakiti Joana lagi," cegah Oma.

Ratna menoleh.

"Ibu, tapi..."

"Aku bilang aku sudah memanggil dokter ke sini!," tegas Oma dengan suara yang tetap pelan.

Ratna terdiam, tak mampu melawan lagi.

Akhirnya, 10 menit kemudian dokter dan 2 orang perawat datang ke kediaman Tn.Bram. Mereka membawa peralatan yang diperlukan untuk menjalani perawatan intensif di rumah.

"Dok, bagaimana keadaan puteri saya dok?," tanya Ratna tak sabaran setelah dokter itu memerika Joana.

"Ibu tenanglah, nona Joana hanya kecapean dan juga banyak fikiran. Tapi kami sudah menangani hal tersebut dan In Syaa Allah Nona Joana bisa pulih besok atau tidak lusa."

Youth : PsychoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang