#38 tebak-tebakan

28 2 3
                                        

"Bunda, Saguna mau pamit ke sekolah." seru Saguna sedikit berteriak agar Ashe yang berada di dapur dapat mendengarnya. Tidak sampai hitungan sepuluh detik Ashe sudah berada di depan Saguna layaknya berteleportasi. Cowok itu sedikit terkejut atas kedatangan Ashe setelah selesai mengikat tali sepatu. 

"Loh, kamu nggak pakai jaket, Na?" tanya Ashe melihat penampilan Saguna sekarang. 

"Gak usah, Bun." 

"Kenapa? Udara pagi seperti ini masih terasa dingin, apalagi kamu naik motor jadi pasti anginnya lebih kencang. Dan takut juga kalau nanti siang akan turun hujan." kata Ashe panjang lebar, merasa khawatir. 

"Jaket Saguna kotor dan lagi dicuci, Bunda." jawab Saguna, maksudnya adalah jaket kebanggaan Liberios.

"Memang jaket kamu cuma ada satu?" 

Ada benarnya juga. Ashe hanya mengggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir mendengar alasan dari Saguna barusan. Celemek yang membaluti tubuh seorang wanita, tidak tertinggal spatula di tangan kanannya kini sedang menunggu sampai Saguna selesai bersiap. 

"Maafkan Bunda ya, sayang. Bunda bangun kesiangan jadi belum ada makanan untuk kamu sarapan." kata Ashe merasa bersalah. Seorang ibu rumah tangga yang menyanggupi mengurus pekerjaan rumah. Di kediaman Zayyan yang megah Ashe hanya dibantu si Mbak yang bekerja untuk membersihkan rumah dan mengurus pakaian. Nyatanya Ashe masih ikut serta, apalagi jika bersangkutan dengan pakaian juga peralatan milik Ardana, suaminya. 

Tetapi untuk memasak di dapur. Ashe adalah chef tunggal di rumah, ditambah lidah para penghuni rumah yang mengidolakan cita rasa masakannya membuat Ashe semakin tidak mau posisinya tergeser. 

"Gak papa, Bun. Nanti Saguna bisa sarapan di kantin sebelum pelajaran dimulai." ujar Saguna bangkit, bangun dari duduknya. 

"Selamat pagi, dunia!" seru Jordan keluar kamar. "Tumben mau berangkat ke sekolah tapi rapih dan wangi banget. Emang mau ketemu siapa?" ledek Jordan melihat Saguna sudah siap meluncur. Seragamnya terlihat rapih serta tatanan rambut yang indah dan wangi semerbak. 

"Gue emang selalu rapih dan wangi. Mungkin lo aja yang baru sadar." jawab Saguna walau sebenarnya malas menanggapi. 

"Iya deh, Adik kesayanganku yang tampan. Oh hampir lupa. Nih jaket lo yang sempat gue pinjam, thanks brother." Jordan mengulurkan jaket berwarna navy yang dipinjamnya dari Saguna. 

"Lo gak lagi bercanda, kan?" tanya Saguna memegangi jaketnya. 

"Bercanda? Maksud lo?" bingung Jordan. 

"Minimal lo cuci dulu." 

"Ya ampun, Na. Kenapa harus lebay banget sih jadi manusia? Jaketnya juga baru dipake sebentar doang, masih bersih bahkan minyak wangi gue masih bisa kecium dari jarak 1 kilo meter." kata Jordan tak bersalah. 

"Ya sudah, biar Bunda aja yang cuci." ujar Ashe agar keduanya berhenti berkelahi. 

"Nggak usah, Bunda. Biar Saguna aja nanti." kata Saguna menahan ketika Ashe hendak menarik jaket dari tangannya. 

"Kalau memang masih bersih karena baru dipakai sebentar, kenapa gak kamu pakai sekarang aja, Na?" pinta Ashe masih memaksa Saguna untuk menggunakan jaket ketika pergi ke sekolah nanti. 

"Iya, Bun." jawab Saguna langsung menggunakan jaket tersebut tanpa membantah. 

"Kalian cium bau gosong, nggak sih?" tanya Jordan, bibirnya monyong ke depan sembari mengendus-endus sekitar. 

"Ya Tuhan, Bunda lupa lagi masak!" teriak Ashe berlari cepat ke arah dapur seperti jurus seribu bayangan. "Kamu berangkat aja, Saguna. Kalau kesiangan nanti bisa telat!" sambung Ashe merasa kalau Saguna malah mengikutinya menuju dapur. 

Saguna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang