Hujan deras mengguyur kota kecil itu yang selalu penuh dengan berbagai aktivitas penghuninya, suara aliran air dan tetesan hujan memukul mukul genting rumah menciptakan alunan melodi indah.
Hujan masih saja belum berhenti meski hari sudah beranjak mendekati tengah malam, Alderan duduk di depan jendela kamarnya mata bocah itu menerawang ke luar, menatap tetesan air yang berlomba lomba turun membasahi apa saja yang ada di bawah sana.
Kenapa setiap tetesan air hujan terasa membangkitkan kenangan lama yang menambah rasa sakit yang menguasai hati bocah itu?
Tidak ada poto keluarga, tidak ada bingkai kecil yang tersusun rapi di dinding, tidak ada kenangan yang dapat di putar yang tersisa untuk di kenang, rumah ini hanya menyisakan kepedihan dan penyesalan mendalam.
Di sudut lain seorang pria tua duduk dengan tenang menggenggam koran terbaru yang menampilkan sebuah berita terkini, ia meremasnya pelan menghancurkan deretan kalimat panjang menjadi abu di perapian menciptakan bayangan api.
Meski hatinya sakit masih ada yang harus ia rawat dan besarkan, ia tidak boleh rapuh hanya orang lemah lah yang menangis dan menyesali apa yang terjadi.
Suara ketukan pintu terdengar di tengah gemuruh yang bergantian datang mencipta kerutan samar, siapa yang berniat bertamu di tengah hujan deras dan sudah larut malam?
Tidak ada yang beranjak untuk membuka pintu atau hanya mengintip penasaran, semuanya diam di tempat masing masing dengan pikiran yang saling berkelana.
Namun suara pintu yang beradu dengan kepalan tangan semakin terdengar jelas dan keras sudah tidak ada lagi kesabaran untuk menunggu lebih lama.
"Siapa sebenarnya?" Pria tadi beranjak mendekati pintu dengan sedikit amarah, bisakah seseorang kembali pulang jika merasa penghuni di dalamnya enggan membuka pintu?
Membuka pintu kasar, menatap diam pria lain yang berbeda umur dengannya memastikan siapa gerangan yang datang dan mengganggu. Seorang pria dengan jas yang hampir basah, rambutnya hitam legam sedikit lepek terkena cairan bening yang menguyur malam ini, raut wajahnya dingin dan penuh lelah.
"A-ayah?" Pria tadi yang membuka pintu membola terkejut ia menyadari kesalahannya membuka pintu rumah lebar lebar hanya untuk seonggok manusia brengsek. Tapi terlalu terlambat untuk kembali menutup pintu, semuanya akan rumit di mulai dari sekarang.
Pria itu memandang seisi rumah yang tidak berubah sama sekali dengan pandangan tajam seolah olah tempat ini adalah benteng pertahanan terakhir yang harus ia hancurkan. Bukan demi cinta atau kasih sayang.
"Kita pulang Alderan. "
Aneh, yang seharusnya mengatakan itu adalah Alderan tapi kenapa ayahnya itu meminta dirinya untuk pulang jika kenyataannya dirinya sudah berada di rumah miliknya sendiri.
Kakek yang membuka pintu berdiri tegak menghalangi langkah menantunya untuk melangkah lebih jauh memasuki rumah yang entah sudah berapa lama ia injak lagi sejak insiden penculikan yang menghebohkan warga sekitar.
"Untuk apa kamu ke sini?" Wajahnya merah oleh amarah yang ia coba tahan tapi itu tidak cukup untuk menahan pria lain di depannya. "Menjemput anakku. " Jawabnya dingin.
"Hentikan omong kosongmu!"
Alderan mundur selangkah, matanya basah oleh air mata. Kenapa sekarang? Kenapa tidak dulu saat mereka membutuhkannya? Kenapa ia kembali datang di saat hadirnya sudah tidak berarti bahkan di hari ayahnya datang dan berniat mengambil dirinya lagi dari sang Bunda rasa sayang yang selalu ia coba pertahankan melebur dengan sendirinya.
"Alderan tidak akan pergi kemana mana jadi pergilah. " Kakek mencoba bersikap tenang ia tidak ingin membuat keributan.
"Di bandingkan dengan kakek aku punya hak lebih terhadap Alderan. "
KAMU SEDANG MEMBACA
Alderan
Short StoryAlderan Cillision, anak tengah dari keluarga Cillision yang terpandang, hidup dalam senyap di antara bayang bayang yang kian besar. Meski segala pendidikan terpenuhi ia harus terus mencari beberapa koin tambahan. Dibalik kediamannya, tersimpan perju...
