Bab 35 : Tempat Bermain

1.1K 91 4
                                        

Lampu neon putih memancarkan cahaya dingin di sepanjang koridor yang sepi dan dingin menghubungkan antar ruangan yang ada bercampur dengan keheningan yang hanya sesekali di pecahan oleh suara langkah kaki atau brangkar.

Sementara di ruang rawat vvip terasa lebih hening dan dingin hanya ada suara monitor jantung berdecak pelan  menjadi latar suasana di iringi bunyi bip yang sesekali terdengar dari alat medis lain.

Alderan terbaring di salah satu ranjang rumah sakit berbeda dari pasien lainnya yang geraknya terbatas di ranjang ini ia bisa guling sana dan sini dengan bebas, Edward memberikan fasilitas terbaik di rumah sakit ini.

Sebuah infus tertancap di tangan kirinya dengan cairan yang menetes perlahan, di sisi jendela yang mengarah langsung ke taman rumah sakit berdiri Andres membelakangi adik kecilnya yang beberapa saat lalu mengeluarkan banyak darah dari kepalanya bekas kecelakaan dan Alderan kembali tidak sadar lagi.

Eksperisinya tegap dingin tapi tatapannya memang berbeda dari biasanya, Alderan sudah sadar tapi terlalu malas dan lelah untuk bertegur sapa ia hanya membiarkan keheningan menyelimuti keduanya.

"Alderan bisakah kamu bersikap tenang seperti dulu?" Andres membuka suara meski pandangannya tetap pada jendela besar di sana.,

"Tidak bisa, aku sudah mengetahui segalanya jadi__"

"Kamu belum mengetahui segalanya. "

Suasana di dalam ruang rawat semakin tegang, seperti udara yang tiba-tiba dipenuhi dengan muatan listrik. Alderan memandang langit-langit putih bersih dengan mata yang kosong, suaranya lemah namun tajam menusuk.

"Bagaimana aku bisa tahu jika kalian sangat berusaha menutupinya? Kenapa bersikap begitu keras hanya karena orang asing sepertiku?"

Andres, yang sedari tadi memunggunginya, berbalik cepat. Sorot matanya penuh ketegasan yang mencerminkan kemarahan dan kelelahan sekaligus. "Kamu adikku, Alderan!" serunya dengan suara keras.

Namun Alderan hanya tersenyum miring, penuh sinisme. "Pembohong." Ucapannya sederhana, tapi menusuk. Setelah sadar dari tidurnya, Alderan memutuskan untuk tidak lagi mempercayai siapapun dari keluarga Cillision, yang selama ini ia anggap hanya deretan pembohong belaka.

Andres menghela napas panjang, berusaha meredakan emosinya. "Ayah terlalu keras dengan pendiriannya," katanya akhirnya, mencoba memberi sedikit penjelasan yang terasa sia-sia.

Alderan melirik Andres, matanya menyipit, seolah memeriksa kebenaran dari setiap kata yang keluar dari mulut kakaknya. "Tapi abang mungkin tidak?" pertanyaannya menggantung di udara, membuat Andres sejenak terdiam.

Ada perang di dalam diri Andres, pikirannya bergulat dengan logika dan emosinya sendiri. Ia tahu, dirinya dan Edward terlalu mirip dalam banyak hal, terutama dalam cara mereka mengambil keputusan.

"Apa yang kamu inginkan? Jika keinginanmu itu kabur, jangan berharap bisa melangkah keluar!" nada Andres terdengar tegas, tapi ada keraguan yang tersembunyi.

Alderan menghela napas, berusaha menahan kesal. "Aku tidak akan kabur, jadi katakan segalanya." Pinta Alderan, suaranya lebih tegas kini. Ia lelah dengan semua rahasia, kebohongan, dan permainan ego.

Namun Andres menggeleng pelan, wajahnya dingin kembali. "Abang gak bisa. Selain Ayah sendiri yang harus mengatakannya."

Alderan mendengus, nada sinis kembali menghiasi suaranya. "Kalau begitu, jangan sok. Jangan memberi harapan kalau ujungnya tetap sama." Alderan mencibir.

Andres terdiam, tangannya mengepal, jelas ia berusaha menahan sesuatu. Kemudian ia berkata, dengan suara yang lebih lembut, meskipun ancaman tetap terdengar samar.

"Yang lain. Apa yang kamu inginkan?"

Alderan memutar pandangannya, menatap Andres dengan sorot mata yang sulit dibaca. Akhirnya, ia berkata dengan tenang, "Setelah keluar dari rumah sakit, bawa aku ke suatu tempat."

Andres mengerutkan kening. "Kemana?"

Alderan mengunci pandangan ke mata Andres, berharap bisa membaca reaksi kakaknya. "Tempat aku sering bermain dulu."

Deg.

Andres membeku. Kata-kata itu seakan menusuk langsung ke pusat pikirannya. Ia merasakan sesal yang langsung merayapi dirinya. Bisakah ia menarik kembali ucapannya tadi? Haruskah ia mengabulkan permintaan ini, yang jelas-jelas akan membawa mereka ke jurang yang lebih dalam? Atau hanya untuk ya?

Setelah beberapa hari di rawat inap Alderan memberontak ingin pulang meski lukanya masih basah dan sering kali mengeluarkan darah dengan sedikit ancaman ia di izinkan pulang, kini Alderan menjadi pribadi yang sering mengancam untuk mendapatkan keinginannya.

Jujur saja ia muak melihat perawat yang memandangnya dengan pandangan penasaran tentu saja untuk apa Cillision memperhatikan bocah yang tidak mereka tahu asal usulnya.

"Abang bahkan bisa mengikat tanganku untuk memastikan aku tidak akan kabur jadi pulangkan aku!" Alderan bersikeras tentu jika meminta pada Edward ia hanya akan mendapatkan gigitan jari tapi jika itu Andres boleh di coba.

"Kamu masih belum sembuh Alderan, jangan bersikap keras kepala luka mu itu masih berbahaya. Apa kamu tidak peduli dengan tubuhku sendiri?" Andres menghela nafas panjang, memandang adiknya dengan ekspresi khawatir yang sangat ketara.

"Yang kurasakan sekarang hanya rasa sakit. " Alderan mendengus.

Andres terdiam sejenak mempertimbangkan kata kata Aldedan. Hatinya tergerak meski masih di selimut begitu banyak keraguan.

"Kamu mungkin tidak akan mendapatkan apapun. " Dan akhirnya Andres luluh ia percaya Alderan tidak akan mendapatkan apapun jika bukan hanya harapan yang kembali hancur.

Senyum tipis terbit di wajah Alderan, sepertinya kakak sambungnya itu melewatkan sesuatu, untuk kali ini Alderan akan kembali menumpuk rasa harap.

Sore itu Alderan akhirnya meninggalkan rumah sakit dengan luka yang masih terasa perih di tubuh dan hatinya, ia sudah bertekad akan menyelesaikan segala masalah yang di sembunyikan para orang dewasa yang mengagap jika menutupi segalanya adalah pilihan yang baik tapi tau pilihan mereka hanya terbaik untuk mereka.

.
.
.
.

Chapter ini lebih pendek dari biasanya bisa di bilang karena kemarin kemarin aku bikin 2k kata😃 btw aku seneng banget nonton TREASURE DI MAMA!!💙 see you di Bab 36 : The Last Chapter🤗🫶

[Tinggalkan pesan pesan sebelum ending]♡

AlderanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang