Suara dentingan logam beradu pelan terdengar mengalun, seolah memberi isyarat untuk berdiam diri di tempat masing masing.
Di depan sana di mana Eald duduk, kursi kursi mulai berjejer rapih membentuk suatu pola di hiasi ukiran simbol di atasnya. Namun tidak ada yang berani untuk duduk menempati salah satu dari banyaknya kursi meski sedari awal pesta mereka berdiri.
Ukiran simbol kuno berderet rapi di sepanjang meja panjang yang sudah tak terlihat makanan di atasnya, menciptakan aura mistis yang tak terbantahkan. Di atas meja terdapat mangkuk perak dan beberapa gelas kecil dan lilin menyala dari berbagai sudut ruangan menciptakan bayangan remang remang.
Alderan berdiri diantara paman dan bibi yang ikut membeku, Andres yang sebelumnya tak jauh dari pandangan matanya hilang entah kemana, wajah wajah para saudara tampak serius tidak ada yang beruara lagi.
Seperti sudah terlatih para maid bekerja dengan cepat dan tepat tidak membuat kesalahan apapun mengubah pesta formal beberapa menit yang lalu menjadi sebuah ritual. Bahkan kini mereka tengah sibuk meletakan persembahan simbolis di meja panjang, kotak kotak perhiasan, lembaran uang dalam bentuk EUR, beberapa benda kuno dan pedang?
Semua mata tertuju pada meja panjang dengan bantuan sorot lampu benda benda mati itu semakin bersinar indah. Sorotan penuh nafsu dan rasa ingin memiliki terpancar jelas seperti asap di kumpulan daun yang terbakar nafsu mereka juga ikut terbakar.
Patung besar di balik kursi Eald menambah aura yang kekuasaan yang terpancar keluar jelas.
Tiba tiba suasana terasa lebih berat hampir sulit untuk bernafas, semua orang diam dengan pandangan yang sama. Mata itu tertuju pada Eald yang tetap berada pada posisinya.
Eald berdiri dari duduknya berjalan di tengah tengah mulai mengucapkan baris kalimat demi kalimat.
"Wir sind alle gesund Jahr für Jahr an demselben Ort anwesend, mit Gesichtern, die sich kaum verändert haben. Aber trotzdem gibt es Momente, in denen die Macht und die Kraft, die über Jahrzehnte angesammelt wurden, von den Jüngeren getragen werden müssen.
Wenn die Zeit zum Herabsteigen gekommen ist, gibt es keinen Grund, an einem Ort zu bleiben, der nicht der richtige ist. Wir werden sterben, genauso wie sie." Ucap Eald tanpa keraguan sedikit pun dalam nada suaranya.
Semuanya mendengarkan dengan serius tidak ada yang berani menyela di tengah untaian kalimat panjang yang Alderan tau itu dari bahasa Jerman ia sedang berusaha untuk menerjamahkan satu persatu kata.
"Kita semua hadir ...... sehat .... tahun .. tahun .. ...... .... sama ...... wajah wajah .... ...... sama dan ..... berubah. ... meski ..... ada ....... kekuasaan dan kekuatan yang ..... terkumpul ...... puluhan tahun ..... ..tanggung yang ..... muda.
Ketika .... nya untuk ..... ..... ada alasan ..... tetap ....... .. ...... yang ..... seharusnya. .... akan mati ......... mereka. "
Alderan bergumam pelan ia tengah berusaha dengan kemampuan bahasa Jerman yang pernah ia pelajari dan pada saat ini lah ini baru sadar pentingnya bahasa asli Kakeknya.
'Tapi siapa yang akan mati? Mereka yang di maksud kakek itu siapa? Atau saingan bisnis? Terus ini kenapa suasananya langsung berubah banget tadi masih enjoy sekarang pada tegang' Batin Alderan bingung.
Tapi melihat segala keanehan di depan matanya siapa yang tidak curiga dengan apa yang sedang kakek dan para paman dan bibi lakukan mendekati tengah malam dan sialnya lagi kenapa Alderan juga berada di sini, ia harus mencari Andres meminta tolong untuk di jelaskan dan meminta untuk kembali ke kamar jika mungkin.
Sedang melihat lihat sekeliling mencari sosok besar yang biasanya tidak sulit untuk di temui, Andres benar benar tidak terlihat dan kedua bola mata hitam legam milik Alderan bersitatap dengan Eald menunduk enggan dan tatapannya kini jatuh pada meja panjang yang menampilkan sesuatu menambah keyakinan dan kecurigaan itu semakin benar.
"Itu sesembah satanic kan?" Alderan membeku di tempatnya ia bingung dengan segala yang ia lihat jika memang benar meja panjang itu berisi sesembahan untuk setan maka keluarganya benar benar gila! Hanya demi beberapa lembar uang dan kekuasaan mereka dengan bodohnya menyerahkan seluruh hidup pada makhluk biadab tak kasat mata.
Mulai memikirkan berapa banyak kekayaan Ayah dan para paman yang entah datang dari mana, kesuksesan yang mengejar mereka penuh minat jangan lupakan popularitas yang meliputi minat mereka.
"Pantes pada kaya. " Alderan tanpa sadar berucap lagi meski tidak kencang tapi cukup mendapatkan beberapa lirikan.
"Tapi kalau kakek nyembah satanic itu artinya uang yang gue gunain buat sekolah dan les itu haram dong? Anjir anjir gak mau gue makan duit haram yang gak jelas asal usul duit beneran atau daun. " Alderan bergerak gusar ia panik tidak ingin ikut ikutan dalam ritual tidak jelas.
Kembali menimbang nimbang beberapa hal yang mungkin bisa menjadi bahan ia melarikan diri dari sekelompok kerumunan orang.
Berjalan mundur dengan tenang berusaha untuk tidak menarik perhatian ia akan diam diam kabur, "Mundur kemana hayo. " Andres datang menghentikan laju kaki Alderan.
"Syuutt,... bang ntar ketahuan. " Alderan berjinjit menutup mulut Andres dengan suara berbisik, ia takut ketahuan. "Biar apa Abang tanya?" Andres tetap pada posisinya tidak bergerak se inci pun. "Ini kaya ya kakek gila uang deh sebutuh butuhnya aku nyari uang gak sampe bikin ritual satanic gini. " Alderan kembali berbisik pelan.
Plak
Reyah sekali suara geplakan yang Alderan rasakan ia bahkan terhuyung beberapa cm ke depan tak ayal suara mereka mengalihkan atensi semua orang. "Andres apa yang kamu lakukan?" Suara barinton Eald memecah sunyi ia menatap mata Andres dengan sipit pertanda ia menahan kesal.
"Hehehe, maaf kek. Anak ini ingin kabur dan melantur tidak jelas. " Andres tersenyum canggung ia kebablasan memukul adiknya dengan penuh gemas.
"Ya tapi jangan sekeras itu juga Alderan tampak kesakitan. " Langkah itu semakin mendekati Alderan yang masih sibuk mengelus kepalanya yang nyut nyut.
Seakan lupa dengan pikiran konspirasi yang beberapa menit lalu memenuhi isi kepala Alderan, anak itu tampak memejamkan kan mata merasakan tangan keriput menggantikan usapan di kepalanya.
"Perhatikan tanganmu. " Tatapan yang di layangkan Eald pada salah satu cucu di hadapannya ini tetap sama penuh tekanan sementara tangannya yang lain sibuk mengelus surai hitam Alderan.
"Dan kamu, " Menunduk menatap Alderan yang juga menatapnya, "Singkirkan pikiran tidak berguna dari kepala kecilmu itu. " Menatap dengan tajam pula.
Alderan menenguk salivar dengan susah payah rasa sakit di kepalanya sudah tidak berarti daripada tatapan tajam kakeknya, ia ikut menundukan kepala seperti yang di lakukan Andres.
'Oh, shit semua ini gara gara Bang Andres kalau gak gue udah santai di kamar gak perlu ikutan ritual setan!'
"Edward tambah jam les bahasa Jerman Alderan. " Kaki itu kembali melangkah di depan sana Edward menggaguk patuh netranya bersitatap dengan milik Alderan seakan memberi tahu tidak ada istirahat untuk ke depannya.
Shit, Andres bodoh. Menatap tajam Andres dan di balas senyuman bodoh.
.
.
.
.
.
.
.
"Kita semua hadir dengan sehat dari tahun ke tahun di tempat yang sama dengan wajah wajah yang hampir sama dan tidak berubah. Tapi meski begitu ada saatnya kekuasaan dan kekuatan yang sudah terkumpul selama puluhan tahun harus di tanggung yang lebih muda.
Ketika saat nya untuk turun tidak ada alasan untuk tetap berdiri di tempat yang bukan seharusnya. Kita akan mati begitupun mereka. "
[Scr. Google translet]
KAMU SEDANG MEMBACA
Alderan
Historia CortaAlderan Cillision, anak tengah dari keluarga Cillision yang terpandang, hidup dalam senyap di antara bayang bayang yang kian besar. Meski segala pendidikan terpenuhi ia harus terus mencari beberapa koin tambahan. Dibalik kediamannya, tersimpan perju...
