Spesial Chapter : Flashback

906 63 6
                                        

Kakinya yang kecil berlari cepat menyusuri  padang rumput hijau di temani suara deras dari sungai di depan sana yang tertutup ilalang yang lebih tinggi dari si kecil yang masih asik berlari dengan senyum di wajah manisnya.

Tidak juga sesekali kakinya terkandung bebatuan atau akar menjalar lalu bangkit kembali sambil tertawa lepas, seakan bukan apa apa walau kakinya sedikit lecet lantaran tidak memakai alas.

"Hei, hati hati nak. "

Suara lembut yang menyatu dengan angin kecil berhembus menggoyangkan dedaunan, ia mengulurkan tangan pada si kecil yang asik sendiri bermain dengan berbagai tanaman bunga.

Si kecil mengikuti langkah kaki yang lebih besar darinya, melangkah pelan menuntunnya menuju ujung padang rumput memperlihatkan indahnya sungai yang mengalir.

"Wah. "

"Cantik kan?" Mengangguk antusias, atensinya tidak lebih dari air yang berlomba lomba terjun dari tempat tertinggi sedikit mencipratkan airnya pada kaki si kecil.

"Nanti saat sudah besar, kita ke sini lagi ya?" Si kecil menatap mata coklat yang selalu teduh tidak pernah ada gurat sedih atau marah hanya ada senyum kasih sayang, "Sama Ayah?" Wanita itu menggaguk mengiyakan, semoga.

Si kecil menyender pada tubuh wanita yang lebih tua, sinar matahari menyelimuti tubuh mereka dengan kehangatan yang semakin menjalar ke hati, "Kalau Bunda gak ada, jangan nangis atau nakal turutin omongan kakek ya?" Si kecil mencebik lucu, "Kalau Bunda pergi aku juga pergi. " Semakin memeluk wanita yang ia panggil Bunda.

"Eh, gak bisa dong emang gakpapa ninggalin kakek sendiri?" Wajah si kecil semakin cemberut yang malah semakin lucu, "Biarin kakek kan ngeselin suka marah marah, larang larang juga!"

"Eh gak boleh gitu loh, kakek kan tetap sayang sama anak Bunda ini. "

"Kalau Ayah?" Mendongkak menanti jawaban sang bunda. "Ayah lebih sayang. " Berakhir saling memeluk satu sama lain menghindari tatapan polos si kecil.

Wanita itu memandang sang putra yang sudah tertidur di atas pangkuannya dengan tatapaj penuh cinta namun samar air matanya merembes tak tertahan. "Bunda akan selalu ada di sini, " Menyentuh dada Alderan, "Karena itu kamu gak akan sendiri. "

Hari itu berakhir dengan indah,...

Prang,...braakkk,...brugh...

"Jangan berani kamu!"

"Ini demi kebaikan semua orang!"

"Aku tidak akan menyerahkannya pada keluarga yang menakutkan itu!"

"Dan teruslah hidup susah begitu mau mu?"

"Aku yang akan bertanggung jawab. "

"Untuk apa? Memangnya apa yang bisa kamu lakukan. Kita bisa hidup tenang seperti semula, coba pikirkan sayang. "

"Jangan memanggilku dengan panggilan menjijikan itu!"

PLAK!

"Beraninya kamu! Lagi pula kamu akan dapat banyak uang,  Ibu juga harus di operasi kan!"

"Aku yang akan mencari uangnya kamu tidak perlu repot repot mengkhawatirkan hal yang selalu kamu abaikan. "

"Darimana mendapatkan uang sebanyak itu? Kamu bahkan hanya bekerja serabutan apa itu mungkin. "

"Lagian anak itu tetap akan baik baik saja bahkan kehidupannya akan jauh lebih baik di sana daripada di sini. "

"KARENA DIA ANAKKU KAMU TIDAK BERHAK. "

.
.
.

Begitulah awal semuanya terjadi,... "Bahkan jika aku mati yang tersisa hanya kebencian ku padamu!"

.
.
.

"AARGGHH SIALAN BERHENTI MENGGANGGU KU! KAMU HARUS TENANG DI ALAM BAKA, SAYANG. "

AlderanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang