Bab 24 : Posisi yang Pantas

901 62 3
                                        

Red card, semuanya berbeda dengan sebelumnya Alderan memasuki organisasi yang mengaku sebagai organisasi di atas osis namun nyatanya mereka seperti lintas yang menguasai jaringan sekolah.

Disini, aturan tidak di tentukan oleh guru atau kepala sekolah, melainkan sekelompok siswa yang di sebut Red card.

Jika boleh mengatakannya para guru tunduk pada mereka.

Mereka terdiri dari anak nama paling berpengaruh di sekolah ini, dan Cillision berada di puncak piramida. Lebih dari organisasi osis yang mengatur sekolah Red card bergerak lebih dari itu, mereka yang menentukan siapa yang akan jadi populer, siapa yang di kucilkan, siapa yang pantas pintar dan berdiri di podium dan bahkan siapa yang menjadi ketua osis, yang menjadi boneka mereka.

Sebuah kartu misterius terselip di dalam loker Alderan, di dalamnya hanya ada satu baris kalimat, 'Hadiri pertemuan di ruang Red C 101, jam tujuh tepat malam ini. '

Alderan ingin mengabaikan pesan ini, ia tidak memiliki alasan untuk datang justru ia memiki alasan untuk menolak, 'les' jam tujuh malam dirinya masih berada di tempat les. Namun lagi lagi dirinya malah terseret oleh Juna.

"STOP maksa gue bisa?" Tanya kesal Alderan tetap mengikuti langkah kaki Juna jika tidak ingin tangannya putus tertarik Juna. "Enggak soalnya lu udah janji mau ikutin semua aktivitas Red card. " Tunggu, janji? Kapan Alderan berjanji?

"Permisi, gue cuma bilang masuk Red card doanya bambang gak ada janji janji. "

"Dengan lu masuk Red card udah setara janji setia untuk Red card. " Sialan, Andres sialan dengan pemikiran sok pintarnya menciptakan anak anak gila dalam satu tempat bernama Red card.

"Selamat datang Alderan Cillision. " Sapa Baim tersenyum ramah tak seperti pertemuan sebelumnya. Alderan memanggilkan wajahnya malas. "Duduklah semuanya sudah menunggu. " Melihat sekeliling, Alderan terheran dengan jumlah murid yang datang tidak lebih dari 5 orang, ada Baim dan Juna sebagian ketua dan wakil, seorang siswi perempuan berkacamata namanya Lia dan Eric dari kelas sebelah lalu dirinya.

'Untuk apa mereka berkumpul?'

"Langsunga aja gue udah telat buat les. "

"Oke oke, jadi Lia gimana?" Baim bertanya. "Data data siswa yang akan pindah bulan ini udah gue kirim ke email diantara semua itu ada satu anggota Cillision dan anak anggota dpr. " Jawab Lia masih fokus pada laptop di depannya.

Jika itu anak Cillision sudah pasti Eldo, "Karena ada anak Cillision kita harus sediain tempat kosong. Posisi apa yang masih butuh orang?" Eric segera membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa, "Keamanan masih kosong sih bang tapi masa di taro di keamanan. " Ucap Eric ragu.

"Bener juga anak kelas dua belas di taro bagian keamanan, Cillision lagi. " Balas Lia. Sementara mereka berpikir bingung lain dengan Alderan yang sibuk dengan dunianya sendiri.

Iksan yang kini satu tempat les dengannya tengah memberikan materi yang Alderan lewati karena pertemuan dadakan dan tidak penting ini. Bagaimana tidak penting, jika hanya pengangkut anak pindahan baru kenapa mereka yang mengurusi.

"Menurut lu gimana Al?" Alderan terheyak rasanya seperti ketahuan main ponsel di tengah pembelajaran. "Apanya?" Tanya cuek Alderan. "Makakaya dengerin. " Omel Baim.

"Menurut lu kakak sepupu lu bagusnya di tempatin di bagian apa? " Baim ingin mengetes jawaban Alderan apalagi ini menyangkut cucu Cillision juga. "Lu pada repot banget elah. Kak Eldo udah kelas dua belas emangnya harus banget di masukin organisasi? Kelas segitu udah di bebasin biar fokus belajar. " Jawab kesal Alderan, saat smp dulu pun anak anak kelas dua belas hanya di suruh fokus belajar untuk masuk universitas.

AlderanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang