Yoo Karina-gadis cantik dan manja, yang menyimpan perasaan pada seorang lelaki tampan yang terkenal pandai bernama Lee Heeseung.
Namun, siapa sangka banyak perbedaan di antara mereka yang membuat perbedaan itu sulit untuk menyatukan mereka berdua.
P...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Heeseung terbangun dengan cahaya matahari yang membuatnya silau. Lehernya terasa pegal semalaman tidur terduduk hanya karena ranjangnya di tempati oleh Karina. Ia bisa saja tidur di samping Karina, itu jika tidak ada Ayahnya di rumah.
Yoo Karina sudah terbangun, namun ia masih belum sadar sepenuhnya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Heeseung sembari menghampiri Karina di ranjang. Karina masih terlihat kacau, wajahnya sangat pucat. Ketika Heeseung menyentuhnya, ia merasakan panas pada permukaan kulit gadis itu.
"Karina—"
"Heeseung.. dingin.." Lirihnya lemah semakin menutup tubuhnya dengan selimut.
Heeseung khawatir bukan main, ia berlari membuka lemari—mencari jaket tebal untuk menghangatkan gadis kesayangannya.
Mengambil padding miliknya lalu memakaikannya pada Karina.
"Karina tunggu sebentar, ya. Aku belikan obat untukmu." Ucapnya lalu bergegas pergi meninggalkan gadisnya sendiri. Rumah sudah sepi dan Ayah Heeseung sudah berangkat bekerja beberapa menit yang lalu.
Sangking paniknya, Heeseung bahkan tidak kepikiran untuk membawa sepeda motor. Ia berjalan cepat dengan mata yang mengedar mencari sebuah apotek. Sialnya apotek sekitar rumahnya masih tutup. Kembali melangkahkan kaki, hingga ia tak sadar bahwa dirinya telah berjalan jauh.
***
Karina mencoba untuk terlelap lagi, namun kesusahan karena rasa dingin masih terus menyelimutinya. Padding tebal milik Heeseung 'pun rasanya masih kurang menghangatkan.
Ia mendengar derap langkah di luar sana, yang ia yakin bahwa Heeseung telah kembali.
"Heeseung.." Panggilnya dengan suara serak. Bahkan untuk berbicara 'pun Karina tidak memiliki banyak tenaga.
Langkah kaki itu terdengar semakin mendekati kamar Heeseung, hingga saat pintu itu terbuka, nyatanya bukan Heeseung yang datang. Melainkan Jeno yang kini menatap khawatir gadis yang terkulai lemah.
"Karina kenapa? Kau demam!" Ucap Jeno yang kini menyentuh tubuh Karina.
"Oppa, lebih baik kau pergi saja dari sini. Heeseung sudah membelikanku obat, sebentar lagi dia akan datang."
"Tidak, tidak. Jangan beri obat sembarangan, harus dengan resep dokter." Ucapnya yang kini sibuk dengan ponsel, menghubungi salah satu teman dokternya.
Tak selang berapa lama, seorang dokter datang bersamaan dengan Heeseung yang membawa sekantong plastik.
Ia dibuat sangat panik, takut terjadi apa-apa dengan Karina. Namun saat memasuki rumah, Heeseung terkejut dengan sosok pria tinggi yang kini menyandarkan tubuhnya pada dinding.
"Sejak kapan Jeno ada disini?" Batinnya.
"Hyung, apa yang terjadi pada Karina?"
"Heeseung, Karina sedang sakit kenapa tidak kau panggilkan dokter? Dia terlihat lemas begitu, jika ada hal buruk yang terjadi padanya, bagaimana?" Jeno memburu kentara sekali ia emosi. Ia kesal karena Heeseung tidak bisa bertindak cepat atas keselamatan Karina.