34

296 30 11
                                        

Sore hari hujan turun begitu deras, membawa hawa dingin yang menyapu setiap sudut ruangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sore hari hujan turun begitu deras, membawa hawa dingin yang menyapu setiap sudut ruangan. Yoo Karina memandangi halaman rumah yang berbeda dari biasanya. Ya benar, mereka baru saja pindah rumah.

Rumah yang terlihat lebih sederhana di banding sebelumnya. Mungkin bisa di bilang lebih unik. Hanya memiliki satu lantai, dengan pagar rumah kayu yang tinggi, dan Karina juga meminta Jeno untuk membuatkan taman dengan beberapa bunga yang menghiasi halaman rumahnya.

Permintaan sederhana yang tentu sangat sanggup Jeno penuhi.

Ditemani dengan segelas susu hangat yang baru saja Jeno berikan. Hari ini rasanya begitu sempurna membuat Karina terlihat lebih santai dibanding sebelumnya.

"Karina, kau baik-baik saja?" Tanya Jeno tiba-tiba melingkari lengan kekarnya pada perut Karina yang sedikit membuncit.

"Iya."

"Jangan banyak pikiran, kasihan bayi kita."

Tentu saja Karina tidak akan membuat bayinya bermasalah, rugi sekali memikirkan pria yang sudah bukan siapa-siapa lagi bagi dirinya. Ya, walaupun Karina masih belum bisa sepenuhnya melupakan pria itu.

"Iya, aku mengerti. Berhentilah menanyakan hal itu lagi padaku."

Jeno membuang nafas berat, entah sejak kapan istrinya kini berkali lipat lebih sensitif dari biasanya. Apa mungkin dari faktor kehamilan? Atau memang Karina yang kesal setelah tak sengaja bertemu dengan masa lalunya? Entahlah Jeno tak tahu pasti.

Usia kandungan Karina baru saja menginjak minggu ke sembilan, masih terlihat begitu besar. Jeno selalu suami siaga selalu bersedia disaat Karina membutuhkan apapun.

Seperti saat ini ia tengah memijat bahu Karina yang pegal, padahal seharian ini istrinya tak melakukan aktivitas apapun kecuali tidur dan menonton drama.

Manjanya wanita hamil memang luar biasa. Dan Jeno harus memiliki kesabaran yang tinggi. Apalagi Karina saat ini tak ingin jauh darinya, maka tak segan terkadang ia membawa sang istri ke kantor bersamanya.

"Sepertinya anak kita akan lebih sayang padaku." Ujar Jeno menggoda Karina yang kini tengah memeluknya.

"Tidak. Dia akan lebih sayang padaku, karena aku Ibunya." Jeno tak bisa menyela jika sudah Karina yang berbicara dengan ketus. Hanya bisa mengiyakan dengan sabar, karena ia paham emosi Karina saat ini benar-benar tidak stabil.

"Karina, apa bahumu masih sakit?"

"Sudah tidak. Tapi sekarang pinggangku yang sakit." Manjanya lagi sembari menekan pinggang kecilnya.

"Benarkah? Sini berbaring, biar aku yang pijat."

Yoo Karina tertidur membelakangi sang suami yang kini memijat tubuhnya.

.

.

.

ONE HEARTS (DDEUNGROMI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang