Yoo Karina-gadis cantik dan manja, yang menyimpan perasaan pada seorang lelaki tampan yang terkenal pandai bernama Lee Heeseung.
Namun, siapa sangka banyak perbedaan di antara mereka yang membuat perbedaan itu sulit untuk menyatukan mereka berdua.
P...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeno menghentikan mobilnya di halaman rumahnya. Ia membawa Karina masih dengan keadaan yang sama, tanpa mandi atau sekedar berganti baju.
Mereka memasuki rumah besar itu, Yoo Karina menyapa orang tua Jeno dengan sopan, dan di ujung sana terdapat sang Ibu yang tengah menatapnya bangga.
"Ah, yeppueuda!" Puji Ibu Jeno. Namun gadis itu menolak untuk dikatakan cantik dengan keadaan yang lusuh seperti ini.
Mereka duduk bersama di meja makan dengan hidangan yang begitu menggugah selera. Di hadapannya terdapat Lee Aeri—adik Jeno yang dari dulu memang tidak suka pada Karina.
Kata Aeri, Karina adalah perebut. Merebut kasih sayang Jeno darinya. Jeno lebih menyayangi Karina dibanding adiknya sendiri.
Mereka berdua memang tidak pernah akrab, dan Aeri dibuat terkejut dengan sesuatu di leher Karina. Ia memicingkan mata mencoba melihat dengan jelas, lalu kemudian ia menyeringai. "Menggelikan." Ujarnya hingga mendapatkan tatapan dari Nyonya Lee—sang Ibu.
"Aeri, kenapa?" Tanya sang Ibu.
"Oppa, rupanya kau sangat liar."
Jeno yang mendengarnya lantas menghentikan makannya dan menatap bingung sang Adik.
"Apa maksudmu?"
"Lihat leher Karina!" Tunjuknya lalu dengan cepat Karina menutupinya dengan tangan.
"Oppa, kau habis melakukan apa sampai leher Karina memerah?" Tanya Aeri mengintimidasi. Jeno dibuat bingung, memang dirinya melakukan apa bersama Karina? Lalu Karina bangkit tanpa permisi meninggalkan keluarga Jeno dan Ibunya.
Nyonya Park dan Nyonya Lee saling melirik dan tersenyum penuh arti.
"Karina." Panggil Jeno yang mencekal lengan Karina yang hendak memasuki kamar mandi. "Ikut aku." Sambungnya lalu membawa Karina ke dalam kamar.
Di dudukannya gadis itu di atas ranjangnya, dan pria itu tengah menggeledah mencari sesuatu di laci mejanya. Sampai ia menemukan sebuah plester penutup luka berwarna senada dengan kulitnya.
Gadis itu menyatukan rambut panjangnya dan mendongak ketika Jeno menyuruhnya. Lalu pria itu menempelkan plester tepat pada noda merah di leher Karina.
"Setidaknya dengan itu, membuat kissmark-nya tidak terlihat." Ucapnya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi yang berada tepat di depan Karina.
"Katakan pada Heeseung, jangan memberinya di tempat yang dapat dilihat orang lain. Itu bisa membahayakanmu."
Karina terdiam dan mengangguk, tangannya masih asyik membenarkan rambut untuk menutup lehernya.
"Sudah, ayo. Kita kembali. Tidak enak membuat orang tua kita menunggu."
Lee Jeno menarik lengan gadis itu, hingga pada pintu kamar. Namun mereka dibuat terkejut dengan tatapan Aeri yang menusuk.