32

331 30 5
                                        

Senja perlahan memudar berganti menjadi malam gelap di taburi bintang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Senja perlahan memudar berganti menjadi malam gelap di taburi bintang. Jeno baru saja tiba dari kantor, membawa kembali paperbag berisi bekal siang serta beberapa paperbag lainnya hingga tangannya terasa penuh. Dan saat memasuki rumah, ia mendapati sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya Basar terbalut handuk dan gaun tidur satin yang menggantung manis di tubuhnya.

"Aku pulang." Seru Jeno. Karina menghampirinya lalu mengambil beberapa barang yang Jeno bawa.

"Kenapa banyak sekali?"

"Kebetulan tadi aku mampir ke mall sebentar dan melihat ada perhiasan yang bagus. Jadi aku membelikannya untukmu." Jeno menyodorkan sebuah paperbag berwarna putih.

Karina terkekeh lalu mengambilnya. "Tapi aku rasa ini berlebihan. Lain kali jika mau membeli sesuatu tanyakan dulu padaku."

"Kau tidak menyukainya?"

"Huh? Aku menyukainya, oppa. Terimakasih."

"Oppa? Bukannya kita sudah sepakat untuk tidak memanggil sebutan itu?"

Karina menggaruk tengkuknya, lalu jemarinya ia tautkan pada jemari sang suami. "Iya, sayang." Ucapnya pelan nyaris tak terdengar.

Ia begitu malu sampai pipinya memerah ketika Jeno tergelak menggodanya.

"Hei, kenapa wajahmu memerah?"

"Huh? Ti-tidak tahu. Mungkin karena udaranya panas." Ucapnya sembari mengipas wajahnya dengan tangan.

"Alasan. Lee Karina-ku menggemaskan sekali..."

"Berhenti menggodaku. Lebih baik cepat pergi mandi, aku sudah menyiapkan air hangat."

Jeno melenggang pergi setelah memberi satu kecupan pada sang istri.

Setelah usai dengan kegiatan rutin sepulang kerja, mereka tengah duduk santai di ruang tamu bersama Tv yang masih menyala.

"Makan terus." Goda Jeno pada sang istri yang tengah menikmati bolu yang ia buat.

"Tidak boleh, ya?"

Lee Jeno tertawa gemas, mengacak rambut istrinya hingga membuatnya kesal." Tidak apa. Aku hanya bercanda. Sensitif sekali."

"Habisnya aku kesal. Kau seperti tidak suka melihatku makan."

"Hei, ya ampun. Tidak apa, Karina. Kau mau makan sebanyak apapun aku tidak masalah. Aku hanya menggodamu saja tadi. Sudah, ya. Jangan merajuk." Ucapnya masih terus membujuk sang istri.

Jeno dan Karina mulai terbiasa hidup sebagai sepasang suami-istri yang normal pada umumnya. Hal itu membuat Jeno bahagia bukan kepalang, rasa sabarnya membuahkan hasil. Karina menjadi lebih hangat dan ceria dibanding dengan pertama kali mereka menikah. Kadang tak segan gadis itu menjadi manja padanya.

Sejak saat itu Jeno tak pernah mendengar Karina bercerita perihal Heeseung. Entah memang gadis itu tak ingin Jeno tersakiti atau sudah benar-benar melupakan lelaki Lee itu. Jeno tidak yakin, namun pernah di suatu malam ia melihat Karina menangis diam-diam di dapur. Setelah di tanya kenapa, gadis itu hanya menggelengkan kepala dan berkata jika dia sedang merindukan sang Ayah. Dan tentu Jeno tidak mudah percaya.

ONE HEARTS (DDEUNGROMI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang