Yoo Karina-gadis cantik dan manja, yang menyimpan perasaan pada seorang lelaki tampan yang terkenal pandai bernama Lee Heeseung.
Namun, siapa sangka banyak perbedaan di antara mereka yang membuat perbedaan itu sulit untuk menyatukan mereka berdua.
P...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Karina benar-benar sangat lega saat kembali ke rumah saat tak menampaki Ibunya disini. Ya, tentu saja wanita itu tidak akan memikirkan Karina yang marah padanya, dan tetap saja prioritasnya adalah bekerja.
Ah, terkadang Karina berharap biar saja Ibunya bangkrut agar ia tahu bahwa harta satu-satunya yang tersisa hanya keluarga, bukan uang ataupun perhiasan mahal yang ia miliki. Atau mungkin Tuhan mau memberi pelajaran lain pada sang Ibu? Tentu Karina dengan senang hati akan menyetujuinya. Melihat Ibunya sedikit menderita agar ia jera dengan apa yang ia perbuat, termasuk dengan sikap buruknya pada sang Ayah.
Mengingat tentang Ayah, membuatnya teringat dimana sejak hari itu Karina tak pernah lagi melihat sosok yang ia rindukan. Seolah memutuskan hubungannya bersama ia dan Ibunya. Bagaimana kabarnya saat ini? Apa yang tengah ia lakukan sekarang? Apakah hidupnya baik-baik saja setelah pergi dari rumah?
Tentu semua pertanyaan Karina tak satupun mendapatkan jawaban. Ayahnya telah hilang tanpa meninggalkan jejak apapun. Hanya bisa berharap Ayahnya akan baik-baik saja dan datang kembali sekedar menemui putrinya.
"Sudah mendingan?" Jeno datang tanpa permisi membuka pintu. Padahal sudah Karina tekankan pria itu lebih baik pulang. Namun Jeno masih terus memaksa ingin menjaganya.
"Oppa, kau belum pulang? Ini sudah malam, lagipula sebentar lagi Heeseung akan datang."
Mendengar nama Heeseung lagi yang disebut, Jeno hanya bisa menghela nafas jengah. Apa Karina tidak bosan sehari saja tidak mengucapkan nama itu? Jeno yang mendengarnya 'pun merasa muak.
"Aku tidak akan pulang sebelum Ibumu datang."
"Untuk apa menunggu Ibuku? Oppa, jangan mengatakan apapun jika ada Heeseung disini. Dan kau juga sudah berjanji padaku 'kan?"
"Hmm, baiklah. Aku tunggu sampai Heeseung datang saja." Ucapnya lalu duduk di samping Karina yang tengah berbaring.
Karina merasa tidak nyaman dengan kehadiran Jeno di kamarnya. Mungkin niatnya memang baik, hanya untuk menemani Karina. Namun tetap saja ada hal yang mengganjal di hatinya tentang kebaikan Jeno padanya. Hingga sempat ia berpikir curiga, bahwa Jeno akan mengkhianati janjinya.
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka membuat Karina terkesiap. Ia melompat dari ranjang saat ia menangkap sosok yang datang adalah kekasihnya. Tanpa memperdulikan Jeno, Karina mendekap manja tubuh kekasihnya.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Karina yang masih memeluk erat Heeseung. Lelaki itu merasa tidak nyaman dengan tatapan Jeno yang seolah menghunus jantungnya. Ia berbisik pada Karina untuk segera melepasnya, namun gadis itu tak mau.
Alhasil Heeseung hanya bisa pasrah, dan Jeno berpamitan pergi dengan wajah masamnya.
"Karina, lain kali jangan seperti ini jika ada orang lain." Tuturnya lembut sembari membawa gadisnya untuk duduk di ranjang.