Yoo Karina-gadis cantik dan manja, yang menyimpan perasaan pada seorang lelaki tampan yang terkenal pandai bernama Lee Heeseung.
Namun, siapa sangka banyak perbedaan di antara mereka yang membuat perbedaan itu sulit untuk menyatukan mereka berdua.
P...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bukan Heeseung namanya jika tidak gigih berusaha untuk menemukan mantan kekasihnya itu. Entah sudah keberapa kalinya ia kembali menginjakkan kaki di tempat ini.
Dari ujung ke ujung ia mencari, berbekal foto pernikahan Jeno dan Karina yang ia dapat dari sang Ayah saat itu.
Tak peduli dengan terik matahari yang bisa saja menggosongkan kulitnya, Heeseung tetap berjalan hingga tubuh tegapnya kini mulai terasa lemas.
Keringat mengucur deras hampir membasahi kemeja putih yang ia kenakan. Rambut yang tertata rapi, berantakan sudah tak berupa.
Ia memilih untuk duduk di bangku taman yang rindang, dengan sebotol minuman dingin yang baru saja ia beli.
Minuman telah habis tak tersisa, membuat Heeseung mendapatkan energi yang kembali memuncak. Setelah beberapa menit beristirahat, ia kembali bangkit.
"Permisi." Sapa Heeseung sopan sembari menghampiri seorang wanita. "Selamat siang. Apa Nyonya mengenal orang ini?" Tanya Heeseung.
Wanita tua itu menyipitkan mata, lalu ia mengangguk. "Oh Tuan Lee Jeno?"
Lalu wanita tua itu menunjuk pada rumah yang tepat berada di pertigaan. Rumah berpagar kayu tinggi yang terlihat tampak sepi.
Heeseung tersenyum lebar, mendapatkan informasi yang begitu berharga baginya. Tak henti ia membungkuk mengucapkan banyak terimakasih.
"Tuan siapanya mereka?" Tanya wanita tua itu.
"Aku temannya. Teman dari Jeno dan Karina."
Raut wanita itu mendadak bingung seketika membuat Heeseung terheran. "Ada apa?"
"Kau tidak tahu?"
"Maaf, aku tidak mengerti apa yang Nyonya katakan."
"Tuan Lee dan Ibu mertuanya baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan. Ia meninggalkan sang istri yang tengah mengandung besar."
Sepertinya sel-sel otak Heeseung sulit menyerap perkataan dari sang wanita tua. Ia hanya mengedipkan mata sambil mengusap kening tak percaya.
"Tolong, jangan memberi informasi yang salah."
"Aigoo... sepertinya kau datang dari jauh ya? Silahkan tanya sendiri pada Nona Lee. Tapi sepertinya ia tak akan membukakan pintu untuk tamu asing."
"Kenapa begitu?"
"Hei Tuan! Kau pikir hidup sendiri itu mudah? Ia sering ketakutan dan mengurung diri sampai Lee Aeri datang."
"Siapa Lee Aeri?"
"Adik iparnya."
Heeseung kembali mendudukkan dirinya di kursi taman, sembari terus memandangi rumah Karina bak tak berpenghuni.