Yoo Karina-gadis cantik dan manja, yang menyimpan perasaan pada seorang lelaki tampan yang terkenal pandai bernama Lee Heeseung.
Namun, siapa sangka banyak perbedaan di antara mereka yang membuat perbedaan itu sulit untuk menyatukan mereka berdua.
P...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepasang lengan masih setia melingkari pinggulnya, hembusan nafas menyapu puncak kepala hingga membuat wanita itu tersadar sepenuhnya saat menampaki Heeseung tertidur di sampingnya.
Pria itu masih belum tersadar bahwa hari sudah pagi, tak tega membangunkan lelaki itu, Karina malah asyik menikmati wajah tampan Heeseung yang kini semakin matang dan tegas.
Heeseung berbeda dengan yang dulu. Kini terlihat lebih dewasa dan rapi. Wajah dewasa itu membuat Karina terpukau dengan ketampanannya.
Lekas Karina membuang jauh pikirannya itu, beralih memejamkan mata ketika Heeseung mulai mengerjap.
Pemandangan indah yang selalu ia rindukan di pagi hari. Wanita cantik yang selalu ia puja adalah hal pertama yang ia lihat hati ini. Cantik sekali, bahkan Heeseung begitu tergoda ingin menciumnya.
Yoo Karina merasakan hembusan nafas tepat di depan bibirnya.
Lee Heeseung akan menciumnya.
Jantungnya kini berpacu lebih cepat memberi rasa ngilu. Karina tak tahu, apakah ia harus terdiam pasrah atau menolak. Dan ketika Heeseung semakin mendekat-hampir saja bibir mereka bersentuhan, namun Nenek memanggilnya dengan lantang membuat Heeseung dengan segera menjauhkan dirinya dan keluar dari kamar Karina.
Keringat dingin membanjiri kening, nafas Karina berburu hebat seperti habis berlari dari kejaran maling. Entah ia harus bersyukur atau justru kesal karena Heeseung mengurungkan niat untuk menciumnya.
"Tidur dimana selamam?" Tanya sang Ayah dengan nada menginterogasi Heeseung yang baru saja tiba.
"Di kamar Karina."
"Heeseung!"
"Ayah, aku tidak melakukan apapun. Hanya menemani Karina tertidur. Semalam dia tidak bisa tidur karena bayinya terus menendang."
Ayah dan Nenek terpaku lalu saling menatap mengerti.
"Ayah sepertinya keputusanku sudah bulat."
"Keputusan apa?"
"Aku akan melamar Karina."
Sang Ayah yang tengah meminum secangkir teh itu lantas tersedak mendengar ucapan sang putra, begitupun dengan Nenek yang tak kalah terkejutnya.
"Heeseung, pikirkan baik-baik." Ucap Nenek.
"Aku sudah memikirkannya dari jauh-jauh hari, Nenek. Perasaanku pada Karina tidak pernah berubah."
"Tapi, bukan hanya Karina yang harus kau cintai. Kau juga harus menyayangi bayi yang berada di kandungannya. Apakah mudah bagimu, Heeseung?"
"Heeseung mengangguk pasti. "Mudah. Aku juga sudah memikirkannya."
Ayah dan Nenek saling melirik. Perkataan memang terdengar mudah, namun apa Heeseung sanggup menjalaninya? Menjadi Ayah sambung dan menyayangi buah hati Karina dan Jeno setulus hati.