41

500 44 8
                                        

Tubuh jakungnya terasa remuk karena hampir setiap hari ia harus bolak-balik Daegu—Seoul yang jaraknya lumayan jauh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tubuh jakungnya terasa remuk karena hampir setiap hari ia harus bolak-balik Daegu—Seoul yang jaraknya lumayan jauh. Persiapan pernikahan sederhana 'pun rasanya masih terasa ribet. Kali ini Heeseung membawa Nenek dan Ayahnya ke Seoul untuk sementara sampai pernikahan selesai.

Karina juga sama sibuknya, beruntung sekali Aeri selalu menyisakan waktu untuk membantu kakak iparnya itu. Dari memilih gaun sampai cincin pernikahan.

"Yang menikah siapa, aku yang ikut pusing." Keluh Aeri yang baru saja tiba di kantor.

Aeri harus segera menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk sebelum hari pernikahan Karina dan Heeseung tiba.

Asisten pribadinya memberikan satu gelas cola dingin untuk meredakan panas pada tenggorokan Aeri.

"Silahkan pergi, biar aku selesaikan semuanya."

Pria yang lebih tua darinya itu lantas menurut, membungkukkan badan sebelum menghilang di balik pintu.

Namun sialnya konsentrasi Aeri kembali terganggu ketika bunyi ketukan pintu membuat emosinya kini membara.

"Sialan! Kemana perginya asisten Kim ini? Sudah kukatakan untuk tidak menerima tamu siapapun itu!" Kesalnya sembari berjalan cepat dan membuka pintu dengan kasar.

"Kau... ada apa lagi, huh?" Aeri menyentak pria yang kini nampak gugup di ambang pintu. Tidak ada jamuan istimewa atau sekedar menyuruh si tamu untuk duduk, Aeri malah menghujaninya dengan omelan.

"Aeri, maaf mengganggu. Kedatanganku kesini benar-benar penting."

"Heeseung, sudah kukatakan pada Karina untuk tidak menggangguku sekarang. Apa Karina tidak memberitahumu?"

"Tidak. Karina tidak tahu tentang ini. Aeri, aku ingin bertemu Ayah dan Ibumu."

Aeri itu mengernyit. "Untuk apa? Yang kau nikahi Karina bukan aku."

"Iya. Tapi bagaimanapun juga aku harus meminta ijin karena akan meminang menantunya."

"Ck, berlebihan. Percuma, mereka tidak akan mau."

Aeri berjalan memasuki ruangan diikuti Heeseung yang memandangnya penuh tanya.

"Karina sudah bukan siapa-siapa lagi bagi mereka. Jangankan Karina, Ji-hoon saja tak pernah mereka anggap. Percuma kau menemui mereka, karena mereka tidak akan peduli."

"Aku hanya tidak ingin mereka berpikir—"

"Astaga Lee Heeseung... aku bisa benar-benar menghajarmu jika terus memaksa. Lebih baik kau pergi dari sini dan urusi persiapanmu." Aeri mengusir dengan sedikit lantang. Dan Heeseung menurut pergi, walau hatinya masih di selimuti keraguan.

Heeseung pria baik dan paham akan adap dan sopan santun. Namun bagi Aeri, tak ada guna meminta ijin pada orang tuanya. Karena hati mereka benar-benar telah mati pada Karina.

ONE HEARTS (DDEUNGROMI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang