33

532 38 15
                                        

Di pagi buta Heeseung terbangun, lekas ia bersiap untuk menjemput sahabatnya di sebuah hotel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di pagi buta Heeseung terbangun, lekas ia bersiap untuk menjemput sahabatnya di sebuah hotel. Baru saja dirinya membuka pintu, ia melihat Jake berlari terbirit-birit tanpa menggunakan sepatu.

"Hee.. seung.. hhh.. pinjamkan aku uangmu." Ucap Jake dengan suara yang memburu.

"Untuk apa?"

"Bayar taksi."

Tanpa bertanya lebih jauh, Heeseung memberikan beberapa lembar uang kertas untuk Jake yang tengah terburu-buru.

Segera ia mengambil segelas air untuk sahabatnya yang kini masih nampak kacau penuh keringat.

"Kemana sepatumu?"

Jake meletakkan gelas dengan kasar, beruntung saja tidak sampai pecah. Di usapnya bibir basahnya dengan punggung tangan lalu, "Bajingan! Aku di rampok sialan!"

Manik Heeseung membulat sempurna. "Siapa yang merampokmu?"

"Pelacur itu. Dia bersekongkol dengan kekasihnya. Membawa dompet dan barang-barang berhargaku."

"Termasuk..."

"Ya, semuanya. Sialan memang."

"Woah! Beruntung sekali mobilmu aman padaku, huh!"

"Hei, harusnya kau pedulikan aku. Kau tahu? Aku sangat di siksa disana. Aku bermain dengannya namun saat aku hampir sampai, tiba-tiba kekasihnya datang mengikatku. Lalu mereka pergi meninggalkanku begitu saja. Beruntung sekali pagi tadi ada pelayan hotel yang mendengar suara bising yang aku buat di dalam kamar."

Entah Heeseung harus sedih atau tertawa. Jake saat ini begitu lucu, suruh siapa sembarangan mengajak tidur wanita yang baru beberapa detik ia kenal. Jake memang pria Badung. Nafsunya pada wanita begitu tinggi.

"Pelayan hotelnya perempuan?"

"Ah, beruntung saja pria. Aku malu sekali, Heeseung. Sepertinya Busan dan seisinya sangat benci dengan kehadiranku."

"Ya, memang. Kau pembawa sial."

Jake merengek kesal-memukul kecil tubuh Heeseung yang terus menjahilinya. Mereka memang sudah dewasa, namun tetap saja bersikap seperti anak-anak.



***



Rumah yang ia huni telah kosong, semua telah terangkut dalam mobil pick-up. Rumah kecil yang menjadi tempat tinggalnya bersama sang Ayah selama di Busan.

Sesuai dengan perintah atasannya, Heeseung terpaksa harus kembali ke Seoul. Sedangkan sang Ayah lebih memilih untuk tinggal di Daegu menemani sang Nenek. Rumah Nenek baru saja selesai di renovasi, jadi akan sangat nyaman untuk di tinggali kedua orang yang umurnya sudah tak lagi muda.

Ia melambaikan tangan pada sang Ayah yang kini mengantarnya ke sebuah stasiun. Mulai saat ini kehidupannya menjadi pria mandiri akan segera di mulai.

Heeseung terduduk menyandar sembari menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Ada rasa gelisah penuh ketakutan untuk kembali menginjakkan kaki ke kota yang penuh kenangan.

ONE HEARTS (DDEUNGROMI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang