35

274 30 5
                                        

Sial, sungguh sial

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sial, sungguh sial. Pagi hari gerimis mengundang cukup deras. Heeseung melenguh keras saat dirinya terjebak hujan di lobby apartemen.

Lima menit lagi akan ada rapat penting bersama client tentang kerja sama antar perusahaan. Heeseung tak mampu lagi menunggu lama, lantas ia berlari menembus hujan sampai tiba di halte.

Separuh tubuhnya basah, begitu juga dengan sepatu dan celana hitamnya. Jika sudah begini sangat tidak mungkin pergi ke kantor dalam keadaan kacau.

Namun ponselnya terus-menerus berdering, menampilkan nama Kim Sunoo disana. Ah, rekan kerjanya yang sangat cerewet.

"Hei, kenapa lama sekali?"

"Ah, iya sabar. Lima menit lagi aku sampai." Bohong Heeseung lalu mematikan ponselnya dengan sengaja.

Beruntung sekali bus datang dengan cepat, lantas ia masuk diikuti dengan beberapa orang di belakang yang berebut untuk naik.

Dan sialnya lagi, bus terasa sangat sesak. Membuat mereka semua berdempetan. Heeseung meraih kepala kursi sebagai tumpuan.

Di ujung sana, ia melihat seorang wanita yang nampak gelisah karena di kelilingi para pelajar lelaki yang mencoba menggodanya. Hal itu membuat Heeseung geram bukan main. Ia berjalan melewati tumpukan manusia, mendekati sang wanita.

Menatap sinis pelajar nakal, seolah wanita itu adalah miliknya. Dan dengan takut, mereka semua merenggang memberi celah pada wanita itu.

"Nona, kau tidak apa-apa?" Tanya Heeseung memastikan bahwa sang wanita baik-baik saja. Namun wanita itu tak menatap Heeseung, malah mengalihkan wajahnya ke arah lain.

Dan hati Heeseung terenyuh seketika melihat perut buncit yang cukup membesar itu harus berdiri tanpa ada tumpuan. Ia melihat bangku yang terdapat pria tak seberapa tua itu dengan nyamannya duduk tanpa memperdulikan sekitar. Sungguh, manusia yang buta hati.

"Permisi, tuan. Bisakah kau berdiri? Kasihan sekali wanita ini sedang hamil."

"Kakiku sedang sakit, bersabarlah. Sebentar lagi aku akan turun." Balasnya dengan nada meninggi hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Heeseung hanya menghela nafas mencoba mengendalikan emosi. Ia bisa menonjok keparat ini, namun ia tahan demi kenyamanan bersama.

Yang ia lakukan hanya berdiri di belakang tubuh sang wanita dengan lengan melingkar—menumpu kepala kursi, takut tiba-tiba wanita itu terjatuh dan terjadi yang tidak diinginkan.

Beruntung saja pria sialan itu lekas turun, dan dengan lembut Heeseung menyuruh wanita hamil itu untuk duduk.

"Nona, duduklah."

Wanita itu menggeleng masih membelakangi Heeseung.

"Kau sedang hamil, tidak baik berdiri. Kemari duduklah." Satu tarikan yang begitu lembut, Heeseung berhasil membuat wanita itu menoleh hingga pandangan keduanya kembali bertemu untuk kesekian kalinya setelah beberapa lama.

Namun wanita itu menatapnya penuh dengan kebencian, berbeda sekali dengan Heeseung.

"Ka-karina?"

Yoo Karina mencoba untuk pergi lagi, namun dengan mudah Heeseung mencegalnya. "Jangan pergi, duduk disini. Biar aku yang pergi."

Karina menurut, mendudukkan dirinya pada bangku kosong, dan perlahan Heeseung menjauh, namun tatapannya masih tak luput memandang Karina.

Dari jarak yang cukup jauh, Heeseung terus memandangi Karina. Paras cantik yang sangat ia rindukan, ingin rasanya Heeseung mendekap dan menghadiahkannya dengan kecupan manis. Namun lekas ia tersadar ketika mengetahui fakta bahwa Karina tengah mengandung.

Pernikahannya bersama Jeno menghasilkan buah hati yang masih terbungkus di dalam tubuhnya. Dan Heeseung sangat iri melihatnya.

Sampai di sebuah daerah yang cukup sepi, Karina memutuskan untuk turun. Tanpa memperdulikan Heeseung yang masih terus memanggilnya. Ia berjalan cepat tak ingin Heeseung mengikutinya.

"Kenapa harus bertemu lagi?" Lirihnya terisak. Karina sangat benci jika harus berhadapan dengan pria yang sudah merusak hidupnya.

Lekas ia hapus air matanya, kembali bejalan ke tujuan utamanya. Bus telah berlalu, dan saat itu juga seorang pria turun menatap kepergian wanita itu.

"Sunoo, maaf aku tidak bisa pergi ke kantor hari ini. Aku mendadak sakit." Ucapnya lalu mematikan ponsel tak memperdulikan Kim Sunoo yang mengoceh penuh amarah disana.

Ia berjalan perlahan mengikuti kemanapun Karina pergi. Seribu pertanyaan di pikirannya. "Kenapa Jeno tega membiarkan Karina yang hamil pergi seorang diri? Sungguh suami yang tidak bertanggung jawab."

Namun keberuntungan memang tidak berpihak pada Heeseung hari ini. Karina sadar dengan dirinya yang diikuti oleh Heeseung. Ia lantas berbalik menatap Heeseung penuh emosi.

"KYA! Apa mau mu! Kenapa kau mengikutiku, Lee Heeseung?"

"Karina... a—aku hanya khawatir kau kenapa-kenapa."

"Berhenti peduli padaku!"

"Hei, Karina..." Heeseung mencoba mendekat namun wanita itu turut menjauh.

"Pergi dari hidupku, Lee Heeseung. Sudah cukup membuatku menderita." Ucap Karina dengan nada suara yang menggetar.

"Yoo Karina, aku tidak bermaksud begitu. Iya, aku akui aku salah, jadi tolong maafkan aku."

"Maaf? Kau pikir semudah itu menerima kesalahanmu? Kau menghancurkan hidupku, Lee Heeseung. Kau sungguh kejam."

Hati Heeseung hancur seketika melihat wanita itu duduk bersimpuh menangis. Apa sesulit itu hidup Karina tanpanya? Apa sampai detik ini karin masih belum bisa menerima Jeno sebagai suaminya?

Perlahan ia mencoba mendekat, lalu mendekap tubuh Karina dengan erat. Rindu yang menumpuk perlahan tersalurkan membuat rasa sesak sedikit demi sedikit menghilang.

Maka dengan cepat pula Karina memberontak agar Heeseung menjauh darinya.

"Karina, jangan seperti ini. Kumohon maafkan aku..."

Yoo Karina lantas menggeleng cepat. "Pergi, Heeseung."

"Karina, sebentar saja. Biarkan aku memelukmu lagi, selepas ini aku janji tidak akan mengganggumu."

"Tidak, Heeseung. Aku tidak mau, aku mohon jangan ganggu keluargaku dan Jeno. Apa kau tidak lihat? Aku bahkan sudah mengandung buah hati kami."

Seolah tertampar oleh ucapan Karina, Heeseung di buat hancur seketika. Mungkin yang Karina katakan memang benar adanya.

"Apa tidak ada kesempatan sedikit 'pun untukku agar bisa memelukmu? Sekali saja..." Ucapnya penuh permohonan hingga tanpa Heeseung sadari matanya berkaca-kaca.

"Tidak. Sekarang silahkan
pergi sebelum Jeno datang dan membunuhmu karena telah mengganggu istrinya."

"Tidak masalah. Aku rela mati di tangan suamimu jika itu mampu membalas rasa sakitmu selama ini."

"Selagi aku meminta baik-baik, kumohon pergi." Lirih Karina sembari mengusap air matanya.

Lee Heeseung memilih untuk mengalah, ia berlalu dengan langkah berat. Kepalanya terus menoleh memastikan Karina tidak berubah pikiran dengan perkataannya.

Dan saat jarak mereka semakin menjauh, Heeseung berbalik kembali menatap punggung Karina yang perlahan semakin mengecil dan menghilang begitu saja dari pandangannya.

Setidaknya hari ini Heeseung menemukan tempat dimana ia akan menemui Karina kembali.

Tidak untuk merusak rumah tangganya bersama Jeno, hanya ingin berdamai dan berteman itu sudah cukup bagi Heeseung. Walaupun Karina tidak akan mudah untuk menerima Heeseung dalam hidupnya.

ONE HEARTS (DDEUNGROMI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang