31

361 31 16
                                        

Waktu terus berjalan dengan semestinya, tak banyak yang berubah termasuk dengan perasaannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Waktu terus berjalan dengan semestinya, tak banyak yang berubah termasuk dengan perasaannya. Heeseung mencoba membiasakan diri tanpa Karina, namun jika malam tiba gadis itu malah turut hadir mengisi kekosongannya.

Semuanya masih begitu jelas dan lekat, bagaimana gadis itu tersenyum, bertingkah, bahkan menciumnya begitu terasa nyata.

Heeseung mengira bahwa dirinya sudah gila. Di hantui bayangan Karina membuatnya sering berhalusinasi.

"Heeseung, katakan pada Ayah jika kau tidak baik-baik saja."

Han-min sangat khawatir dengan putranya yang akhir-akhir ini seolah tak memiliki semangat untuk hidup. Setiap pagi selalu ia dapati wajah Heeseung yang pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya.

"Aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat, Ayah."

"Hari ini jangan pergi kuliah dulu."

"Tidak. Aku harus pergi kuliah. Istirahatnya nanti sepulang kuliah saja."

"Heeseung..." Lirih sang Ayah. Putranya memang sangat bebal.

Tak ingin membuat keributan di pagi hari dan Heeseung juga tak ada tenaga untuk menentang sang Ayah, akhirnya Heeseung memilih mengalah.

Ia kembali memasuki kamar dengan gontai, menyeret tas selempang miliknya.

Menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya terasa berat, namun tak bisa untuk terlelap. Heeseung begitu sangat tersiksa.

Hampir satu tahun, namun Heeseung merasa dirinya semakin lemah. Karina begitu kuat menguasai hatinya.

"Masih tentang Karina?"

Heeseung terkejut, lalu menyembunyikan selembar polaroid di bawah bantal tidurnya.

Sang Ayah duduk di sampingnya, meletakkan teh hangat pada meja.

"Kau.. sangat payah."

Heeseung tersinggung ketika dengan terang-terangan sang Ayah menghinanya.

"Jika memang tidak ingin serius pada Karina, harusnya kau tak mengajak Karina untuk menjalin sebuah hubungan."

"Ayah tak banyak tahu tentangku dan Karina."

Han-min menghela nafas berat, sangat kesal pada sang putra.

"Heeseung, lelaki itu yang dipegang adalah tanggung jawabnya. Dan kurasa saat ini Ayah ragu melihatmu sebagai seorang lelaki."

Heeseung menutup telinganya dengan guling, tak ingin mendengar lebih jauh lagi hinaan dari sang Ayah yang membuatnya overthinking.

Han-min tak pernah mengira bahwa Heeseung dan Karina menjalin hubungan rahasia di belakangnya. Tak salah, cinta memang bisa saja datang pada siapapun. Ia hanya kecewa dengan tingkah laku putranya yang secara tidak langsung menyakiti perasaan seorang wanita.

ONE HEARTS (DDEUNGROMI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang