2000 word buat chapter 20 (panjang nih). Plis komenin isi ceritanya yang banyak. Jangan jadi silent readers yaa.
Happy Reading!
💝💝💝
Suasana ramai nan hangat menyambut Nindhy ketika memasuki ruangan luas yang terdiri dari beberapa meja dan kursi-kursi yang mengitarinya. Di meja-meja tersebut sudah terisi oleh beberapa orang yang semuanya terasa asing bagi Nindhy. Mungkin hanya beberapa yang mudah ia kenali yang merupakan Kakak-kakak Adrian. Nindhy pernah melihatnya di beberapa postingan sosial media Adrian.
Begitu mereka masuk, seluruh tatapan mata mengarah kepada mereka. Tatapan itu menyuarakan rasa penasaran pada sosok gadis yang Adrian bawa.
"Wahh, siapa itu yang dibawa kamu, Yan?" tanya salah seorang Tantenya yang mejanya cukup dekat dengan pintu.
Nindhy memasang senyum ramah. Ia ikuti langkah kaki Adrian yang membawanya untuk menghampiri meja berisi Tante dan keluarganya. Saat sampai di meja Tantenya, Adrian menaruh buket bunga yang ia bawa di salah satu kursi yang kosong. Kemudian ia menyalami Tantenya. Setelah itu, ia mengambil kue yang dibawa Nindhy agar Nindhy bisa menyalami Tante dan yang lainnya dengan mudah.
Adrian sedikit merangkul pinggang Nindhy untuk mendekat ke arah Tante yang sudah senyum-senyum penuh godaan.
"Ini Nindhy, Tante," kata Adrian mengenalkan Nindhy. Si Tante tersenyum menyambut dengan senang.
Nindhy segera menyalaminya. "Siang, Tante, aku Nindhy. Salam kenal."
"Salam kenal, Nindhy. Saya Herina, Tante Adrian, Kakaknya Bunda Adrian." Herina menyambut senang. Mereka bercipika-cipiki dan Herina tak melepaskan pandangannya dari Nindhy. "Tumben-tumbenan loh Adrian bawa cewek ke acara keluarga begini. Soalnya selama ini yang Tante tau sih Adrian jomblo menahun, Nin. Syukur alhamdulillah ternyata masih suka perempuan. Tante seneng liatnya. Mana cantik banget kamu, Nin. Pinter kamu, Yan, nyarinya."
Adrian menyunggingkan senyum bangga seraya mengangkat jempol begitu Herina melempar pandangan ke arahnya.
Herina kembali menatap Nindhy. Ia usap lengan gadis yang masih ada rasa canggung. "Nggak usah sungkan ya, nanti kalau butuh apa-apa langsung ngomong ke Adrian."
"Baik, Tante," sahut Nindhy sopan.
"Bawa Nindhy ke Tante Sarita, Yan, terus ke Kakak-kakak kamu. Mereka juga pada penasaran sama pacar cantik kamu ini. Lagian kamu loh, Yan, punya pacar nggak ngomong-ngomong."
"Ini namanya suprise, Tan."
"Yang ulang tahun Bunda kamu tapi kami sama yang lain ikutan dapat kejutan."
"Iya dong, biar seneng semuanya." Adrian tertawa pelan. Segera saja Herina menepuk lengannya dan menyuruh mereka untuk segera menghampiri keluarga yang lain.
Adrian lalu menggandeng Nindhy bergeser ke meja sebelah yang diisi oleh Tante Sarita dan keluarga. Sama seperti Tante Herina, Nindhy disambut baik oleh Tante Sarita. Wanita paruh baya itu bahkan terus memuji kecantikan Nindhy yang katanya membuat dia tidak bosan saat melihat wajah cantiknya.
Setelah dari Tante Sarita, kini keduanya sudah berada di meja yang diisi Kakak-kakak Adrian. Dua wanita yang duduk berjejer bersama suaminya, segera berdiri, mendekat bahkan memeluk Nindhy bergantian.
"Dari Magelang jam berapa tadi, Nin?" tanya Nana, Kakak pertama Adrian. Wanita yang sudah memiliki anak yang saat ini sedang digendong suaminya itu mempersilahkan Nindhy duduk di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
Fiksi Umum" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
