Still, San! - Chapter 30

1.5K 75 6
                                        

"Kamu naik gunung?!"

"Gimana, sayang? Kamu tanya apa? Aduh, putus-putus, Nin suara kamu. Halo? Sayang? Hilang nih suaranya. Ntar telepon lagi aja ya."

"Bang Ian!" geram Nindhy. Wajahnya merah menahan emosi. "Kenapa sih kamu nggak mau dengerin aku? Aku kan udah bilang jangan naik gunung. Kamu tuh lagi kurang sehat. Kenapa sih nggak mau denger? Kalau temen kamu nggak bikin story, pasti kamu bakal tetap diam dan nggak akan ngomong ke aku kalau kamu diam-diam naik gunung tanpa kasih tau aku kan? Kenapa sih, Bang Ian. Pikirin dong badan kamu. Nggak inget besok harus ke Jogja? Lupa kalau repsesi Mas Gala diadain besok?"

"Jawab! Jangan pura-pura sinyalnya hilang!"

"Maaf, cinta ..."

Nindhy mengerut dahinya pusing. Adrian sangat keras kepala. Padahal sudah ia ingatkan untuk tidak ikut rencana naik gunung bersama beberapa taruna seangakatannya. Tetapi, Adrian diam-diam tetap ikut. Tanpa persetujuannya dan tanpa ada ucapan pamit. Bagaimana Nindhy tidak kesal coba. Apalagi keadaan Adrian yang sedang kurang sehat. Nindhy melarang karena alasan kesehatannya. Tapi lihat, Adrian tak mendengarnya.

"I'm good, sayang. Sakit aku udah sembuh diajak naik gunung."

Nindhy menghela napas lelah. "Sekarang di mana? Ngapain?"

"Ini udah turun dan lagi nunggu mobil buat antar pulang." Terdengar suara batuk Adrian.

"Tuh kan! Kamu masih batuk."

"Bukan batuk sakit ini, sayang. Aku nyemilin keripik dan belum minum keburu angkat telepon kamu. Bentar aku minum dulu ya." Nindhy hanya diam menunggu Adrian selesai menghilangkan rasa haus.

"Udah, sayang. Aku udah minum."

"Yaudah pulang. Aku tunggu di Jogja."

"Iya, cintaku. I'm sorry. Maaf aku nggak izin sama kamu, nggak dengerin omongan kamu dan bikin kamu khawatir. Aku salah, sayang, aku minta maaf ya? Dimaafin atau nggak?"

"Ke sini dulu. Aku mau lihat keadaan kamu benar-benar udah sehat atau belum," tungkas Nindhy.

"Tunggu ya. Aku nanti ke situ."

"Yaudah, hati-hati pulang dan ke sininya."

"Okey, sayang! Udah dulu ya ini mobilnya udah sampai. See you, cinta." Adrian menutup telepon setelah sahutan Nindhy.

Nindhy menurunkan handphone dari telinga. Sambungan telepon dengan Adrian sudah terputus. Lagi-lagi ia menghela napas. Sekarang bukan lagi karena tingkah menyebalkan Adrian yang naik gunung diam-diam. Tapi keadaannya. Nindhy mendadak takut Adrian kelelahan. Entah kenapa Adrian mendadak keras kepala dan tidak memperhatikan kondisi tubuhnya yang harus selalu sehat. Adrian tidak ingat kah banyak kegiatan yang sudah menanti di depan sebagai taruna wreda? Sudahlah.

***

Malam repsesi pernikahan Gala dan Anindiya tiba. Suasana hangat nan ramai begitu terasa di ballroom hotel tempat repsesi digelar. Tamu undangan sudah berdatangan dari setengah jam yang lalu. Pihak keluarga kedua mempelai yang menggunakan dresscode berwarna nude membaur menemui beberapa tamu yang perlu dijamu khusus. Banyak pejabat dan petinggi militer yang hadir. Juga beberapa pengusaha yang menjadi rekan bisnis dari Anindiya, wanita yang telah sah menjadi istri Gala. Seorang penggiat bisnis di bidang fashion.

Wara-wiri dari pria berbadan tegap berpundak lebar berpakaian batik dan setelan formal lainnya juga menjadi pemandangan yang tidak bisa hilang dari mata Nindhy. Mereka adalah para kacang ijo, rekan se-letting, kenalan Gala dan kawan-kawan semasa mengenyam pendidikan militer di Akademi Militer.

Still, San!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang